<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111</id><updated>2011-04-21T12:40:15.468-07:00</updated><title type='text'>.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-8914220902854975085</id><published>2008-04-12T22:03:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T11:31:19.896-08:00</updated><title type='text'>Saatnya Jadi Juara, Lorenzo?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Estoril&lt;/strong&gt; - Finish di posisi dua dan tiga didapat Jorge Lorenzo dari dua &lt;em&gt;pole&lt;/em&gt; pertamanya. Setelah mencetak &lt;em&gt;hat-trick&lt;/em&gt;, akankah gelar pertamanya datang justru di trek yang dianggap paling sulit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lorenzo tak cuma mencetak &lt;em&gt;hat-trick pole&lt;/em&gt; setelah mencatat waktu tercepat di &lt;a href="http://www.detiksport.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/12/time/211349/idnews/922439/idkanal/81"&gt;kualifikasi &lt;/a&gt;MotoGP Portugal, Sabtu (12/4/2008). Dengan torehan satu menit 35,715 detik, pembalap Fiat Yamah itu juga memecahkan rekor sesi kualifikasi dengan selisih hampir setengah detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diraih Lorenzo jelas mengagumkan mengingat statusnya yang masih &lt;em&gt;rookie&lt;/em&gt;. Apalagi sepanjang karirnya di seri GP dia belum pernah sekalipun start dari posisi terdepan di Estoril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami tidak bisa mendapat lap yang sempurna, tapi bagaimanapun juga itu sudahlah cukup untuk bisa meraih pole - yang ketiga buat kami. Kami berada di surga, kami seperti bermimpi," ungkap Lorenzo di &lt;em&gt;Autosport&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mengaku masih merasa exiting, tapi meraih pole bisa jadi mulai dirasaka&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/SAGU3BHLEyI/AAAAAAAAAE0/WxTz64ND2j4/s1600-h/JorgeLorenzoFranciscoLeong-isi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/SAGU3BHLEyI/AAAAAAAAAE0/WxTz64ND2j4/s320/JorgeLorenzoFranciscoLeong-isi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188591918619759394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;n sebagai sesuatu yang biasa buat Lorenzo mengingat dia mulai sering mendapatkannya. Yang kini dibidiknya adalah kemenangan mengingat pada dua pole yang diraih sebelumnya cuma berakhir dengan podium kedua dan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk kami, apa yang akan terjadi saat ini adalah hadiah untuk masa depan. Kami tak memiliki tekanan, kam hanya ingin bersenang-senang. Kami harus tenang, kami harus diam, dan besok harus berjuang untuk kemenangan," lanjut mantan juara dunia dua kali di kelas 250 cc asal Spanyol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dua seri sebelumnya Lorenzo selalu mengelak jika ditanya wartawan soal targentnya saat balapan usai menjalani sesi kualifikasi. Pemuda 20 tahun itu seperti masih malu untuk memasang target juara, sesuatu yang dilakoninya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sangat hebat bisa meraih pole lagi karena itu memberi kami kesempatan terbaik untuk memulai balapan dan kami akan melakukan yang terbaik untuk memaksimalkan kesempatan untuk menghasilkan yang terbaik," dukung tim manajer Yamaha Daniele Romagnoli.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-8914220902854975085?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/8914220902854975085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=8914220902854975085' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/8914220902854975085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/8914220902854975085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/04/saatnya-jadi-juara-lorenzo.html' title='Saatnya Jadi Juara, Lorenzo?'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/SAGU3BHLEyI/AAAAAAAAAE0/WxTz64ND2j4/s72-c/JorgeLorenzoFranciscoLeong-isi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-5405891080593963597</id><published>2008-04-12T21:58:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T11:31:20.058-08:00</updated><title type='text'>Slank Dumb</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/SAGTuxHLExI/AAAAAAAAAEs/FmY3-o3szZs/s1600-h/images3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 213px; height: 183px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/SAGTuxHLExI/AAAAAAAAAEs/FmY3-o3szZs/s320/images3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188590677374210834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Grup musik yang bermarkas di Gang Potlot diancam akan digugat oleh Badan Kehormatan (BK) DPR yang berkantor di Senayan karena kata-kata dalam lagu Gossip Jalanan dianggap melecehkan eksistensi anggota dewan. Selang sehari atau dua, seorang anggota DPR Komisi IV tertangkap tangan saat menerima suap dari Sekretariat daerah Bintan, dan rencana gugatan terhadap Slank pun itu dibatalkan. &lt;p&gt;Saya geli. Sebenarnya tak ada yang perlu diributkan. Saya pikir antara DPR ama Slank lebih banyak persamaan daripada perbedaan.&lt;br /&gt;Saya bertanya pada Echols-Saddily, Slang (dengan ‘g’ bukan ‘k’) artinya logat. Malah, di halaman depan di sebut sebagai logat kasar.&lt;br /&gt;Menurut kamus ‘manusia panjang’ (baca: Longman Dictionary):&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;slang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;n [U] very informal, sometimes offensive, language that is used especially by people who belong to a particular group, such as young people or criminals/&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tidak formal, kadang ofensif, bahasa yang digunakan orang-orang di kalangan tertentu seperti misalnya anak-anak muda atau penjahat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Slang dipakai buat menyamarkan arti tertentu supaya orang diluar kelompok itu tidak tahu maksud sebenarnya. Itu dilakukan&lt;br /&gt;dengan menyelipkan kata tertentu: &lt;strong&gt;polisi&lt;/strong&gt; menjadi &lt;strong&gt;plokis&lt;/strong&gt; dengan menambahkan ‘ok’, &lt;strong&gt;duit&lt;/strong&gt; menjadi &lt;strong&gt;doku,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;gua&lt;/strong&gt; menjadi &lt;strong&gt;gout&lt;/strong&gt; lalu menjadi &lt;strong&gt;ogut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;dengan membalik kata: &lt;strong&gt;boat&lt;/strong&gt; untuk &lt;strong&gt;obat,&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;kera ngalam&lt;/strong&gt; untuk &lt;strong&gt;arek malang&lt;/strong&gt;,&lt;br /&gt;dengan memberi makna seenaknya: &lt;strong&gt;BT,&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;bete&lt;/strong&gt; untuk perasaan atau pikiran tidak jelas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seiring dengan makin populernya suatu slang, istilah-istilahnya menjadi lebih umum digunakan banyak orang lalu terjadi kejenuhan dan muncul slang baru. Demikian seterusnya.&lt;br /&gt;Maknanya pun berubah-ubah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jogja mengenal &lt;strong&gt;plesetan,&lt;/strong&gt; dengan menukar konsonan pada baris ganjil dengan konsonan pada baris genap dalam tatanan abjad hanacaraka: &lt;strong&gt;dagadu&lt;/strong&gt; adalah &lt;strong&gt;matamu.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Maknanya pun kemudian berubah, yang tadinya pisuhan (makian) menjadi kaos oblong.&lt;br /&gt;Plesetan juga digunakan untuk memberi makna baru pada kata yang mirip bunyinya kalau diucapkan. Kelik Pelipur Lara dari Lembaga Bantuan Humor naik jabtan jadi wakil presiden karena pintar memainkan&lt;strong&gt; skandal jepit.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau di kalangan jalanan slang dipakai untuk berkomunikasi secara khusus diantara anggotanya, di kalangan kantoran pun sebenarnya dilakukan juga. Hanya saja slang lalu disebut sebagai &lt;strong&gt;jargon.&lt;/strong&gt; Konon, jargon dipakai untuk menghaluskan istilah, eufemisme.&lt;br /&gt;Misalnya&lt;br /&gt;di jalanan diistilahkan dengan &lt;strong&gt;pungli,&lt;/strong&gt; di kantoran disebut sebagai &lt;strong&gt;gratifikasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;di jalanan diistilahkan dengan &lt;strong&gt;slonong boy&lt;/strong&gt;, di kantoran disebut sebagai &lt;strong&gt;interupsi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;di jalanan diistilahkan dengan &lt;strong&gt;gerombolan,&lt;/strong&gt; di kantoran disebut sebagai &lt;strong&gt;dewan.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Slang tidak merujuk hanya dalam bahasa tetapi juga perilaku.&lt;br /&gt;Orang yang &lt;strong&gt;slengekan&lt;/strong&gt; artinya cuek (dari &lt;strong&gt;acuh&lt;/strong&gt;), tidak peduli dengan konteks masalah yang sedang terjadi (&lt;strong&gt;gak ngeh&lt;/strong&gt;), cenderung malas,&lt;br /&gt;Apakah perilaku seperti itu terjadi juga di gedung yang terhormat?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sobat saya yang sedari tadi mengintip tulisan ini berkomentar:&lt;br /&gt;"Eh, jangan &lt;strong&gt;ngocol&lt;/strong&gt; sembarangan &lt;strong&gt;bro.&lt;/strong&gt; Ntar &lt;strong&gt;disentil&lt;/strong&gt; ama BK, &lt;strong&gt;nyahok&lt;/strong&gt; lu!"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jawab saya, "&lt;strong&gt;Poya hoho dab. &lt;/strong&gt;Kata para &lt;strong&gt;Slankers,&lt;/strong&gt; BK itu kependekan dari &lt;strong&gt;Bong Kosong&lt;/strong&gt;."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Maksud, &lt;strong&gt;elo&lt;/strong&gt;?"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Nyaring bunyinya."&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-5405891080593963597?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/5405891080593963597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=5405891080593963597' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/5405891080593963597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/5405891080593963597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/04/slank-dumb.html' title='Slank Dumb'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/SAGTuxHLExI/AAAAAAAAAEs/FmY3-o3szZs/s72-c/images3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-4336272552636079178</id><published>2008-04-12T21:38:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T11:31:20.248-08:00</updated><title type='text'>FoTtO..BuugGIIiiiiLLL..!!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/SAGSPBHLEwI/AAAAAAAAAEk/Cs8O6q8tNVo/s1600-h/images2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 164px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/SAGSPBHLEwI/AAAAAAAAAEk/Cs8O6q8tNVo/s320/images2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188589032401736450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Eeiiiittt…eeiitt…!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jangan kaget dulu dung….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Doyan… heheheh…pokonya yang satu ne HOT banget…kamu – kamu kudu punya deh ..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1029" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Curang ya lo..!!&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:oval&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 4; margin-left: -110px; margin-top: 12px; width: 102px; height: 66px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/OPWARN%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="Oval: Curang ya lo..!!" shapes="_x0000_s1029" height="66" width="102" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-72 0 -72 21542 21600 21542 21600 0 -72 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\OPWARN~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image002.jpg" title="Animal 008" cropbottom="12684f" cropright="5243f"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tapi mampu ndak….???&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1028" style="'position:absolute;"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 3; margin-left: -133px; margin-top: 8px; width: 14px; height: 14px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/OPWARN%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.gif" shapes="_x0000_s1028" height="14" width="14" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Yang satu ini kamu – kamu kudu merogoh kocek sampek &lt;b style=""&gt;100jt &lt;/b&gt;dolar….eemhhh…sebenarnya apa ya….?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1027" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:textbox inset="1mm,1mm,1mm,1mm"&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;SENSOR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;Bukan Punya muhrim     kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;span style="'font-size:18.0pt;mso-bidi-font-size:12.0pt';"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:oval&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 2; margin-left: -198px; margin-top: 51px; width: 126px; height: 134px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/OPWARN%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.gif" alt="Oval: SENSOR Bukan Punya muhrim kita" shapes="_x0000_s1027" height="134" width="126" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ne tentang foto bugi istri pejabat Negara di luarnegeri &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang dilelang dan udah tarjual dengan harga &lt;b style=""&gt;900jt&lt;/b&gt; dolar….Giilleee…..!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Foto nya doang jek….!! Sanggup ndak kamu – kamu semuanya…???&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lok aku ce mending bikin rumah ma hidup damai ja deh…heheheheh…dan cari yang bisa …ya..ya..ya…”nit..nit…” (&lt;b style=""&gt;&lt;sup&gt;KT&lt;/sup&gt; sensor)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Nah..tu buktinya lok kiamat dah makin deket…selain ini pun masih banyak lagi yang harus kamu – kamu tau untuk cepet tobat..heheheh…&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt;"&gt;Bayang pun…foto istrinya sendiri yang &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;tampa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; busana itu di pertontonkan dimuka umum dan diperjual belikan….eemmhhh…gimana dengan nasib istrinya sehari – hari ya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt;"&gt;Di ecer kalik ya….??? Whahahahahaha….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Terserah kamu – kamu semua gimana nyikapin kehidupan ini…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang pasti jangan merubah dirimu dengan hal – hal yang konyol….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pasti tau dung dengan yang satu ini….!!!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Istri mu adalah pakaian bagi mu….Dan segalanya yang menutupimu…dan begitu pula sebaliknya…”&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Ia ndak ce….!!!???? Whahahah….&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;“Kata siapa jatuh cinta tu gak kudu merubah diri kita?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-4336272552636079178?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/4336272552636079178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=4336272552636079178' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/4336272552636079178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/4336272552636079178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/04/fottobuuggiiiiiilll.html' title='FoTtO..BuugGIIiiiiLLL..!!!!'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/SAGSPBHLEwI/AAAAAAAAAEk/Cs8O6q8tNVo/s72-c/images2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-3713755005056156004</id><published>2008-04-07T17:46:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T11:31:20.902-08:00</updated><title type='text'>MasSihh NGAntuk Ne....!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/R_rEro3DUqI/AAAAAAAAADg/l4zxX0HDAm0/s1600-h/edit+budi+baru+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/R_rEro3DUqI/AAAAAAAAADg/l4zxX0HDAm0/s320/edit+budi+baru+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186674174852289186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir kok ndak da ending yang mesti di jalaninya..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dah hampir 5 bulan jalanin ma seseorang yang aku sayang...trus dengan semua aktifitasku...jadi makin ngedumbel ja....." apa tu ngedumbelll...."???????........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalok pernah denger lirik ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku bisa membuatmu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;jatuh Cinta kepada Diriku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mesti Kau tak Cinta &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepada KU.......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                bEri sedikit waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                Biar cinta datang karena tlah terbiasa....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;wuuuu...ooooo....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;whacing.....whacing.....(" whahahhaha")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya kira - kira itu lah yang tepat buat ngunkapinnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya sebait lagu sederhana..tapi nusuk maknanya......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;whahahhahahahah....whahahahahah......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku berharap " Cinta Ini nggak NGEBUNUH KU..."&lt;br /&gt;hhiikk...hhiiikkk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eeeemhhh...tambah melancolis cee...... akunya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pasti dipiirnya jayus ne.....&lt;br /&gt;tapi ndak papa lah....weeekk...weeekkk......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang penting geto dehhh...pokonya pada ngerti lah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oooouuaaapppttss..aku lanjutin bobok dulu ya.....!!! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;BismikAllah huma ahya wabis mika wa amut.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi indah yauu.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 255);"&gt;" Mimpi terburuk &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 255);"&gt;ketika aku mimpi kau pergi meninggalkan ku..all you..."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-3713755005056156004?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/3713755005056156004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=3713755005056156004' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/3713755005056156004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/3713755005056156004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/04/massihh-ngantuk-ne.html' title='MasSihh NGAntuk Ne....!!!'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/R_rEro3DUqI/AAAAAAAAADg/l4zxX0HDAm0/s72-c/edit+budi+baru+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-4996430630034497393</id><published>2008-04-05T00:22:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T11:31:21.454-08:00</updated><title type='text'>Hanya InI YAng aku punya....!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/R_cqOo3DUlI/AAAAAAAAAC4/WPMUOihGRu4/s1600-h/i+love+you.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/R_cqOo3DUlI/AAAAAAAAAC4/WPMUOihGRu4/s320/i+love+you.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185659926915273298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hanya ini yang aku punya....jadi ya aku nikmatin ja....&lt;br /&gt;dari semuanya dan rasa syukur yang dalem banget aku bisa di pertemukan ma dia....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks ya syg buat semuanya....juga waktu mu buat aku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ne ja hasil editan aku ndiri bermodal foto yang dia kasih ke aku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;afwan ya syg...dah pajang foto kamu di blog ku....&lt;br /&gt;heheheheh.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kan biar ikutan ngetren yg..&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/R_cvmo3DUmI/AAAAAAAAADA/fARpIL0N6So/s1600-h/images2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 53px; height: 72px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/R_cvmo3DUmI/AAAAAAAAADA/fARpIL0N6So/s320/images2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185665836790272610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ampun deh yang kalok ms banyak yang salah...&lt;br /&gt;ngertiin mas nya ya syg....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cie..cie melan kolisbanget gak ce akunya....&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/R_cwdI3DUoI/AAAAAAAAADQ/7D6b-UO9KpE/s1600-h/images5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 104px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/R_cwdI3DUoI/AAAAAAAAADQ/7D6b-UO9KpE/s320/images5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185666773093143170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  maksih ye semuanya........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;thanks for god to....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;" Ketika aku memilih jalan itu, aku siap menjalaninya...!!!"  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-4996430630034497393?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/4996430630034497393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=4996430630034497393' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/4996430630034497393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/4996430630034497393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/04/hanya-ini-yang-aku-punya.html' title='Hanya InI YAng aku punya....!!!'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_siHCff3c5iY/R_cqOo3DUlI/AAAAAAAAAC4/WPMUOihGRu4/s72-c/i+love+you.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-3548624102688497468</id><published>2008-04-03T21:52:00.000-07:00</published><updated>2008-04-03T21:54:56.719-07:00</updated><title type='text'>Ceritanya...April Mop....</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Charlesworth;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Charlesworth;"&gt;The April’s Fool Day ( April Mop )&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Charlesworth;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: Charlesworth;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;April mop berawal dari suatu episode sejarah muslim spayol&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;di tahun 1487 atau bertepatan dengan 892 H Bertepatan tanggal 1 April&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;yang di peringati oleh Dunia Kristen. Pada tanggal 1 April, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;orang – orang diperbolehkan berbohong dan menipu kepada orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;Bagi umat Kristen, april mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;ribuan umat islam Spayol oleh tentara salib lewat cara penipuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;Sebab itulah mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;dan kebohongan walau di bungkus dengan dalil sekedar hiburan atau &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;keisengan belaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Bagi umat islam, April Mop tentu merupakan tragedi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;yang sangat menyedihkan. Dimana ribuan saudara – saudaranya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seiman disembelih dan dibantai oleh tentara salib di Granoda Spayol&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;oleh sebab itu sangat ironis bila ada orang islam yang mengikuti tradisi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ini, siapa pun orang islam yang turut merayakan april mop, maka ia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;massa&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt; ribuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saudara nya di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Granada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;, spayol. 5 abad silam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;Wahai saudara – saudariku sesame muslim, sampai hatikah anda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;semua merayakan April Mop sekarang ini, setelah mengetahui&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;apa yang sebenarnya melatarbelakangi perayaan yang diadakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dunia barat setiap tanggal 1 April itu..? semoga membuka hati kita dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Dauphin;"&gt;Allah SWT akan menjadi saksi bagi kita semua. Amin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Admin\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="baru"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: -1; left: 0px; margin-left: 325px; margin-top: 45px; width: 219px; height: 138px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Admin/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_s1026" height="138" width="219" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Orang – orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt; &lt;b style=""&gt;kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “ Sesungguhnya petunjuk allah itulah petunjuk ( Yang benar )”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepada mu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.&lt;i style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;Firman Allah SWT.( &lt;u&gt;Al-Baqarah : 120&lt;/u&gt; )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.5in; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;BernhardFashion BT&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.5in; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;BernhardFashion BT&amp;quot;;"&gt;By.Ke LDK an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.5in; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;BernhardFashion BT&amp;quot;;"&gt;Creative by.22102007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-3548624102688497468?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/3548624102688497468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=3548624102688497468' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/3548624102688497468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/3548624102688497468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/04/ceritanyaapril-mop.html' title='Ceritanya...April Mop....'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-4461196998779832016</id><published>2008-03-28T22:49:00.000-07:00</published><updated>2008-03-28T22:51:29.993-07:00</updated><title type='text'>Taaruf Kenapa Enggakkk......!!!!!!</title><content type='html'>Ta'aruf sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan. Ta'aruf sangat berbeda dengan pacaran. Ta`aruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta'aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedang ta'aruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil ahli yang memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar menawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melakukan ta'aruf, seseorang baik pihak laki atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetail, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri. Silahkan periksa dengan baik dan kalau tertarik, mari bicara harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya ta'aruf dengan calon pasangan, pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi ta`aruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan atau video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya untuk dilihat. Dan khusus dalam kasus ta`aruf, yang namanya melihat wajah itu bukan cuma melirik-melirik sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama. Periksalah apakah ada jerawat numpang tumbuh disana. Begitu juga dia boleh meminta diperlihatkan kedua tapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat sekilas, tapi melihat dengan seksama. Karena tapak tangan wanita pun bukan termasuk aurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan keharusan ghadhdhul bashar ? Bab ghadhdhul bashar tempatnya bukan saat ta`aruf, karena pada saat ta`aruf, secara khusus Rasulullah SAW memang memerintahkan untuk melihat dengan seksama dan teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain urusan melihat pisik, taaruf juga harus menghasilkan data yang berkaitan dengan sikap, perilaku, pengalaman, cara kehidupan dan lain-lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syari`ah Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, ngedate dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta`aruf. Janganlah ta`aruf menjadi pacaran. Sehingga tidak terjadi khalwat dan ikhtilath antara pasangan yang belum jadi suami istri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai jarak antara lamaran dan akad,. tidak ada batasan tertentu. Tetapi sebaiknya akad dilakukan secepat mungkin setelah lamaran untuk menghindarkan fitnah. Bahkan, tidak mengapa menanyakan tentang kemungkinan pelaksanaan akad tersebut saat lamaran dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu, mengenai cara menolak ajakan menikah seorang akhwat tentu saja hal itu harus dilakukan dengan ucapan yang baik yang tidak menyinggungnya, entah secara langsung atau lewat cara lain yang dipandang bisa dipahami secara baik olehnya.&lt;br /&gt;Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,&lt;br /&gt;Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Gaada sdikitpun yang akan merubah kecuali kita sendiri"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-4461196998779832016?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/4461196998779832016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=4461196998779832016' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/4461196998779832016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/4461196998779832016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/taaruf-kenapa-enggakkk.html' title='Taaruf Kenapa Enggakkk......!!!!!!'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-4369105323087915200</id><published>2008-03-22T00:35:00.000-07:00</published><updated>2008-03-22T00:52:06.310-07:00</updated><title type='text'>Jadian ke-5 Bulan..</title><content type='html'>Whahahahah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gak kerasa ne aku dah jalanin selama 5 bulan ma vica..ya banyak juga ce halangan yang begitu nya menghadang...termasuk susahnya banget buat saling percaya diantara kami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya semua itu bisa kita singkirin..dan jadi lebih baik ja di setiap harinya....&lt;br /&gt;Aku juga cobak untuk bisa suka dengan apa yang dia suka termasu'  juga ke perfikan dia.....eeemmhh..kadang aku pingin nyerah..tapi aku kembali befikir " apa ia aku mampu tanpa dia.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua buat kamu syg ku.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin kamu tahu..kalok aku bisa kamu andalkan..&lt;br /&gt;juga jadi yang seperti kamu mau....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap kita di bulan kedepannya bisa makin dewasa ja buat ngadepin semuanya,,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks y syg ku..&lt;br /&gt;kamu telah memberiku cinta,kasih sayang yang begitu berarti banget buat aku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I LOVE YOU VIKA......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;"&gt;"Jika ada permohonan  yang bisa aku kabulkan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;"&gt;dan membuatmu bahagia dengan semua keinginanmu dan segala pengabulanku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;"&gt;aku akan kabulkan mesti harus meninggalkan mu"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-4369105323087915200?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/4369105323087915200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=4369105323087915200' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/4369105323087915200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/4369105323087915200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/jadian-ke-5-bulan.html' title='Jadian ke-5 Bulan..'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-8344576763735053055</id><published>2008-03-17T02:28:00.000-07:00</published><updated>2008-03-17T02:37:33.958-07:00</updated><title type='text'>Keputusanku Mencintaimu....</title><content type='html'>&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;hal yang paling berat yang sudah aku putuskan.. dan aku harus siap dengan tanggung jawab dan resikonya karena ini adalah keputusanku dan aku harus bisa menerima resiko..&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/love.jpg" alt="love" align="middle" border="1" height="240" width="267" /&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#000099;"&gt;Sebab cinta adalah kata lain dari memberi… &lt;img src="http://blog.iqbalir.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif" alt=")" /&gt;&lt;br /&gt;sebab memberi adalah pekerjaan… &lt;img src="http://blog.iqbalir.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif" alt=")" /&gt;&lt;br /&gt;sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat… &lt;img src="http://blog.iqbalir.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif" alt=")" /&gt;&lt;br /&gt;sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama… &lt;img src="http://blog.iqbalir.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif" alt=")" /&gt;&lt;br /&gt;sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh… &lt;img src="http://blog.iqbalir.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif" alt=")" /&gt;&lt;br /&gt;maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, &lt;i&gt;"Aku mencintaimu."&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Kepada siapa pun!&lt;/b&gt; Sebab itu adalah keputusan besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#000099;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#000099;"&gt;Ada taruhan kepribadian disitu.&lt;i&gt;"Aku mencintaimu,"&lt;/i&gt; adalah ungkapan lain dari, &lt;i&gt;"Aku ingin memberimu sesuatu, aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia… aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin… aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu…"&lt;/i&gt; Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. &lt;i&gt;"Aku mencintaimu"&lt;/i&gt; merupakan deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: &lt;u&gt;memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#000099;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#000099;"&gt;Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya, atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#000099;"&gt;Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi sulit. Disitu konsistensi teruji, disitu juga integritas terbukti. &lt;i&gt;Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.&lt;/i&gt; Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:#000099;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;"&gt;Sungguh, aku tahu ini bakal sulit.. dan penuh dengan tantangan.. disinilah kebahagiaan yang aku dambakan dan aku harapkan &lt;/span&gt;&lt;img src="http://13mylife.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" class="wp-smiley" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-8344576763735053055?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/8344576763735053055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=8344576763735053055' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/8344576763735053055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/8344576763735053055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/keputusanku-mencintaimu.html' title='Keputusanku Mencintaimu....'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i5.photobucket.com/albums/y184/iqbal_Ir/images/th_love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-2431544571664273031</id><published>2008-03-17T02:20:00.000-07:00</published><updated>2008-03-17T02:23:55.035-07:00</updated><title type='text'>Cara mencintai</title><content type='html'>Ada sepasang suami-istri yang berjualan nasi kuning di sebuah kompleks perumahan di Bandung. Umur mereka sudah tidak muda lagi. Sang suami mungkin sudah berumur lebih dari 70, sedangkan istrinya sekitar 60-an. Di sekitar mereka ada beberapa gerobak lain yang juga menjual makanan untuk sarapan pagi. Tapi dari semuanya, hanya gerobak mereka yang paling sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi, dalam perjalanan menuju ke kantor, saya selalu melewati gerobak mereka yang selalu sepi. Gerobak itu tidak ada yang istimewa. Cukup sederhana. Jualannya pun standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi pula, sepasang suami-istri itu duduk menjaga gerobak mereka dalam posisi yang selalu sama. Sang suami duduk di luar gerobak, sementara istrinya di sampingnya. Kalau ada pembeli, sang suami dengan susah payah berdiri dari kursi (kadang dipapah istrinya) dan dengan ramah menyapa pembeli. Jika sang pembeli ingin makan di tempat, sang suami merapikan tempat duduk, sementara istrinya menyiapkan nasi kuning dan menyodorkan piring itu pada suaminya untuk diberikan pada sang pelanggan. Kalau sang pembeli ingin nasi kuning itu dibungkus, sang istri menyiapkan nasi kuning di kertas pembungkus, dan menyerahkan nasi bungkusan itu pada suaminya untuk diserahkan pada sang pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sedang sepi pelanggan, pasangan suami-istri itu duduk diam. Sesekali jika istrinya agak terkantuk-kantuk, suaminya mengurut punggung istrinya. Atau jika suaminya berkeringat, sang istri dengan sigap mengambil sapu tangan dan mengelap keringat suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau jujur, nasi kuning mereka tidak terlalu spesial. Sangat standar. Tapi, kalau saya mencari sarapan pagi, saya selalu membeli masi kuning di tempat mereka. Bukan spesial-tidaknya. Tapi lebih karena cinta mereka yang membuat saya tergerak untuk selalu mampir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesederhanaan, kala susah dan sedih karena tidak ada pelanggan, mereka tetap bersama. Sang suami tidak pernah memarahi istrinya yang tidak becus masak. Sang istri pun tidak pernah marah karena gerakan suaminya yang begitu lamban dalam melayani pelanggan. Dia bahkan memberi kesempatan suaminya untuk melayani pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka selalu bersama, dan saling mendukung, bahkan di saat susah sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari ini, sudah 10 tahun saya lewati tempat itu, mereka masih tetap di tempat yang sama, menjual nasi kuning, dan selalu bersikap sama. Penuh kesederhanaan. Penuh kasih sayang. Dan saling menguatkan di saat susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda berkunjung ke Bandung, Anda bisa mampir ke jalan raya komplek Taman Cibaduyut Indah. Tidak susah mencari gerobak mereka yang sederhana. Carilah gerobak yang paling sepi pelanggan. Mereka berjualan sejak pukul 07.00 hingga siang hari (mungkin sekitar 11.00, karena saya pernah ke kantor jam 11.00, mereka sudah tidak ada). Jujur, nasi kuning mereka sangat standar &amp;amp; tidak selengkap gerobak nasi kuning lain di sekeliling mereka. Namun, cinta kasih mereka membuat makanan yang sederhana itu terasa begitu nikmat. Cinta kasih yang begitu tulus, sederhana, apa adanya. Bahkan dalam kesusahan sekalipun, mereka tetap saling menguatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah cinta yang luar biasa&lt;img src="http://www.duniasex.com/forum/images/smilies/wink.gif" alt="" title="Wink" class="inlineimg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;"&gt; Aku tidak mencari pasangan hidup yang sempurna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;"&gt; aku mencari cara.. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;"&gt; bagaimana mencintai pasanganku yang tak sempurna, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;"&gt; dengan cara yang sempurna &lt;/span&gt;&lt;img style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;" src="http://www.duniasex.com/forum/images/smilies/redface.gif" alt="" title="Blushing" class="inlineimg" border="0" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-2431544571664273031?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/2431544571664273031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=2431544571664273031' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/2431544571664273031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/2431544571664273031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/cara-mencintai_17.html' title='Cara mencintai'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-6392681986756874802</id><published>2008-03-17T02:14:00.000-07:00</published><updated>2008-03-17T02:17:25.509-07:00</updated><title type='text'>Cara Mencintai</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, &lt;br /&gt;Itulah kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, &lt;br /&gt;Itu bukan pilihan, itu kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan,Itupun adaah kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, &lt;br /&gt;Bahkan dengan segala kekurangannya,&lt;br /&gt;Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, &lt;br /&gt;Itu adalah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain &lt;br /&gt;Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tetap memilih untuk mencintainya, &lt;br /&gt;Itulah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan cinta, simpatik, tertarik, Datang bagai kesempatan pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.&lt;br /&gt;Pilihan yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang pasangan jiwa,Ada suatu kutipan dari film yang mungkin sangat tepat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap &lt;br /&gt;bergantung pada kita bagaimana membuat &lt;br /&gt;semuanya berhasil"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan jiwa bisa benar-benar ada.&lt;br /&gt;Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang &lt;br /&gt;Yang diciptakan hanya untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tetap berpulang padamu&lt;br /&gt;Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin&lt;br /&gt;Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, &lt;br /&gt;atau tidak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, &lt;br /&gt;Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita,&lt;br /&gt;Adalah pilihan yang harus kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ada di dunia bukan untuk mencari &lt;br /&gt;seseorang yang sempurna untuk dicintai&lt;br /&gt;TETAPI untuk belajar mencintai orang yang &lt;br /&gt;tidak sempurna dengan cara yang sempurna&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-6392681986756874802?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/6392681986756874802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=6392681986756874802' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/6392681986756874802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/6392681986756874802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/cara-mencintai.html' title='Cara Mencintai'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-4379162514475632980</id><published>2008-03-17T00:14:00.001-07:00</published><updated>2008-03-17T01:53:03.753-07:00</updated><title type='text'>Horrrreeee.......</title><content type='html'>Tadi pagi tu rasanya gak enak banget buat kerja....&lt;br /&gt;yang biasanya aku bagun jam 05.25 ya itu juga karena Alarem ku yang bedering hehehhehheheheh...............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih ngulet..ngulet di ranjang ku yang kata temen2 au apek....UUuuppsstt....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ye....tapi mereka pada banyak juga dan sering nginep tempat aku....Whuuu......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku nyampek kantor ikut upacara masih males banget.....eeemhhhh....&lt;br /&gt;masih kudu ikut upacara..padahal  kan aku juga pingin uuuuu...pacarann....whahahahahhahah......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eeehhh ia...kata temen2 hari ini ultahnya lampung makanya tadi aku liat di lapangan stadion banyak orang2 dinas pada upacaara...eemhhh...rupanya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya dah dehh..." Happy b'day a lampung......"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;moga kamu sehat selalu ....tambah berseri2..tapi jangan meringis terus..tar lampung kering lagi...whwhahahahahha..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooo..ya juga dijauhkan juga dari segala musibah....&lt;br /&gt;hidup lampung.....hehehehehheh.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;emhhh..dah selesai upacaara...aku langsung kencan ce...selama 5 jam ma hanny ku tercinta.." komputer!!!!!!!!!!!!" menyebalkan......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya dia tu yang setia berada didepanku berhari2..seumur hidup ku sampai sekarang...&lt;br /&gt;bis itu banyak yang mesti aku raba2 lagi....wheheheheheh.....&lt;br /&gt;kadang aku sampk pingin peluk dia.....karna kadang dia lemot banget karena sakit melulu...kena&lt;br /&gt;virus melulu......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kayaknya dia juga lagi kena virus cinta nya  " tati"deh........hehehehhehe...." awas lo tat....gak rela gw.....senggel ja...kita....emhhh....sssstttttt...iaaaatttt wouuutaaaaa.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;emhhh..dah geto..waktu masih mau ngajak senggel si tati...tau..tau...disuruh ngerjain tugas ngisi rapot siswa.....wwwuuuuaaahhh...menyebalkan....aku kerjaindeh.......hehehehehheh..tu ceyboart aku pijetin sampek pegel juga ne jari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba - tiba handphone ku bergetar dengan getarannya 7 skala litter../ jam.....busettt..ngerti gak lo pade....whehehehe......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kabar gembira yang aku dapet..tu dari masagge...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari penulis Novel jadian 6 bulan ...yang waktu itu dibaca ma "Mbok Iro"  hehehehe....sorry Hanny ku.....heheheh....(" mbok IRO itu panggilan buat sayangku kalok aku lagi kangen or sebel ma dia....heheheheheh.....aslinya sidia mak lamper...eehhh enggak deng..hehhehehehh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kabar gembiranya Si penulis itu bersedia ngirimin buku plus tanda tangan nya..trus foto2 nya buat aku....heheheheheheh...pokoknya hariku langsung cerah dah.......trus sampek2...ngefek banget ma kerjaan ku yang langsung kelar......heheheheheh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pokonya mujarab banget to mbok jamu......&lt;br /&gt;heheheheheheh.....&lt;br /&gt;thanks ya Rhei....banget..banget lo........heeheheheheh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni semua buat hanny ku tersayang .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gak da yang bisa aku perbuat dan aku berikan selain salah satu kebahagiaan ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga kau bahagia dengan segala ussahaku.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;love you 22102007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;thank for all my friend&lt;br /&gt;dah ngasih semangat ma aku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;"&gt;" Ketika cinta itu dapat merubah....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-style: italic;"&gt;kenapa kita mesti bilang bahwa cinta gak kan merubah mu sedikit pun...."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-4379162514475632980?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/4379162514475632980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=4379162514475632980' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/4379162514475632980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/4379162514475632980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/horrrreeee_17.html' title='Horrrreeee.......'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-8024980922489284424</id><published>2008-03-16T03:43:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T03:44:53.242-07:00</updated><title type='text'>Kapan Harus Bersyukur......?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur biasanya kita kaitkan dengan hal-hal yang positif, menyenangkan atau mengembirakan. Itulah ajaran umum yang sering kita dengar sejak kanak-kanak, kita amalkan, dan kita ajarkan kembali.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;span id="more-149"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur, ketika naik kelas. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur, karena mendapat makanan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur, karena bisa jalan-jalan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur, karena baju baru, mainan baru. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur, karena mempunyai teman yang baik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Ketika usia beranjak dewasa pola bersyukurpun tidak berubah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur, karena naik pangkat atau dapat promosi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur, karena makan enak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur, karena bisa libur ke luar negeri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur, karena rumah baru dan mobil baru.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur macam itu biasa. Yang tidak biasa adalah bersyukur untuk semua hal. Juga untuk hal yang tampaknya negatif atau tidak menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Karena kegagalan, karena makanan yang tidak enak, karena harus bekerja, karena harapan yang tidak terwujud, karena dihianati, karena disepelekan, karena…apapun juga. Senantiasa bersyukur.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bersyukur karena hal yang sudah terjadi itu biasa. Bersyukur karena hal yang belum terjadi itu luar biasa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Awali pagi Anda dengan mensyukuri hari yang akan Anda lewati, pekerjaan yang akan Anda lakukan. Presentasi yang harus Anda siapkan. Perjumpaan dengan orang-orang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;Percaya deh. Ketika Anda mengubah pola Anda dalam bersyukur. Hidup Anda sudah dan sedang berubah. Buktikan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-8024980922489284424?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/8024980922489284424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=8024980922489284424' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/8024980922489284424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/8024980922489284424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/kapan-harus-bersyukur.html' title='Kapan Harus Bersyukur......?'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-6499060543331477383</id><published>2008-03-16T03:25:00.001-07:00</published><updated>2008-03-16T03:42:06.759-07:00</updated><title type='text'>HARI ini Pengumuman Mata kuliah CISCO...</title><content type='html'>Hehehehehhehehehehe......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYUKUR DAH...&lt;br /&gt;aku hari ini liat pengumuman cisco di web nya dosen ku....&lt;br /&gt;dengan tampang yang dek2 kan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku liat akhirnya lulus juga....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eemmhhh....&lt;br /&gt;ya cukup memuaskan nilaiku sampai 90. ....sekian...sekian...&lt;br /&gt;hehehehh........&lt;br /&gt;dengan kata gori " A " whhahahhahahahhahaha.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOmbong dikit ne....heheheh padahal mah....sssststttttthh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bilang2 ya temen2....&lt;br /&gt;tar aku teraktir dah kalok gajian.....&lt;br /&gt;Ooo...ya mata kuliah yang aku tau kalok aku dah lulus...kayak Bahasa Inggris NIlainya lumayan juga lo...ya masuk katagori " B " getolah.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;whahahahhah.....&lt;br /&gt;siapa dullu  Sayg ku kan ANAK  bahasa inggris...&lt;br /&gt;hehehehheh....&lt;br /&gt;thanks my love...cie...cie...cie....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eeemmmhhh..pokoknya geto lah...&lt;br /&gt;trus KKPI...yang online ce nilainya bagus2...hehehehe...ya diatas rata2...&lt;br /&gt;getoo..." narsis.."&lt;br /&gt;whehehehehhe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ne aktifitas ku selama kul smestr 1...ya baru nilai2 itu ce yang aku tau...&lt;br /&gt;yang lainnya di do'a in ya nilaiku bagus2......&lt;br /&gt;whahahahahah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;"gak ada yang salah dengan segala perubahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;karna hanya harus gimana, kita bisa menyikapinya"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-6499060543331477383?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/6499060543331477383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=6499060543331477383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/6499060543331477383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/6499060543331477383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/hari-ini-pengumuman-mata-kuliah-cisco_16.html' title='HARI ini Pengumuman Mata kuliah CISCO...'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-5787727280882152195</id><published>2008-03-16T03:24:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T03:25:26.463-07:00</updated><title type='text'>Ayat - ayat Cinta</title><content type='html'>&lt;b style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;            Keributan Tengah Malam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            sampai di flat jam lima lebih seperempat. Siang yang melelahkan. Ubun-ubun            kepalaku rasanya mendidih. Cuaca benar-benar panas. Yang berangkat &lt;i&gt;talaqqi&lt;/i&gt;            pada Syaikh Utsman hanya tiga orang. Aku, Mahmoud dan Hisyam. Syaikh            Utsman jangan ditanya. Disiplin beliau luar biasa. Meskipun cuma tiga            yang hadir, waktu &lt;i&gt;talaqqi&lt;/i&gt; tetap seperti biasa. Jadi, kami bertiga            membaca tiga kali lipat dari biasanya. Jatah membaca Al-Qur’an sepuluh            orang kami bagi bertiga. Untungnya masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq ber-AC.            Jika tidak, aku tak tahu seperti apa menderitanya kami. Mungkin konsentrasi            kami akan berantakan, dan kami tidak bisa membaca seperti yang diharapkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seperti            mengerti keinginan kami, begitu selesai &lt;i&gt;talaqqi&lt;/i&gt;, Amu Farhat,            takmir masjid yang baik hati itu membawakan empat gelas &lt;i&gt;tamar hindi&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn43" name="_ftnref43" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[43]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dingin. Bukan main segarnya ketika minuman segar itu            menyentuh lidah dan tenggorokan. Selesai minum aku pulang. Mahmoud,            Hisyam, Amu Farhat dan Syaikh Utsman meneruskan perbincangan menunggu            ashar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Perjalanan pulang ternyata lebih panas dari berangkat. Antara pukul            setengah empat hingga pukul lima adalah puncak panas siang itu. Berada            di dalam &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; rasanya seperti berada dalam oven. Kondisi itu            nyaris membuatku lupa akan titipan Maria. Aku teringat ketika keluar            dari &lt;i&gt;mahattah &lt;/i&gt;Hadayek Helwan. Ada dua toko alat tulis. Kucari            di sana. Dua-duanya kosong.. Aku melangkah ke &lt;i&gt; Pyramid Com&lt;/i&gt;. Sebuah            rental komputer yang biasanya juga menjual disket. Malang! Rental itu            tutup. Terpaksa aku kembali ke &lt;i&gt;mahattah&lt;/i&gt; dan naik &lt;i&gt; metro&lt;/i&gt;            ke Helwan. Di kota Helwan ada pasar dan toko-toko cukup besar. Di sana            kudapatkan juga disket itu. Aku beli empat. Dua untuk Maria. Dan dua            untuk diriku sendiri. Kusempatkan mampir ke masjid yang berada tepat            di sebelah barat &lt;i&gt;mahattah&lt;/i&gt; Helwan untuk shalat ashar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terik            matahari masih menyengat ketika aku keluar masjid untuk pulang. Di tengah            perjalanan aku melewati Universitas Helwan yang lengang. Hanya seorang            polisi berpakaian lusuh yang menjaga gerbangnya. Tampangnya mengenaskan.            Masih muda, tapi kurus kering. Seperti pohon pisang kering. Atau seperti            dendeng di Saudi kala musim haji. Mukanya tampak kering. Panas sahara            seperti menghisap habis  darahnya. Ia pasti prajurit wajib militer            yang biasa disebut &lt;i&gt;duf’ah&lt;/i&gt;. Polisi paling menderita karena bertugas            dengan sangat terpaksa. Tanpa gaji memadai. Hanya beberapa pound saja.            Wajar jika tampangnya mengenaskan. Bisa jadi ia masih berstatus mahasiswa.            Karena memang seluruh laki-laki Mesir terkena wajib militer. Seorang            &lt;i&gt;kumsari&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn44" name="_ftnref44" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[44]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; mendekat. Ia gemuk, kepalanya bulat penuh keringat.            Perutnya buncit seperti balon mau meletus. Beda sekali dengan polisi            penjaga gerbang universitas itu. Dunia ini memang penuh perbedaan-perbedaan            dan hal-hal kontras yang terkadang tidak mudah dimengerti. &lt;i&gt;Metro&lt;/i&gt;            terus melaju. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sampai            di flat, tenagaku nyaris habis. Kulepas sepatu dan  kaos kaki lalu            masuk kamar. Sampai di kamar langsung kunyalakan kipas angin, kulepas            tas, topi, kaca mata hitam, dan kemeja putihku. Kuusap mukaku dengan            tissu. Hitam. Banyak debu menempel. Aku lalu beranjak ke ruang tengah,            membuka lemari es, mencari yang dingin-dingin untuk menyegarkan badan.            Begitu membuka pintu lemari es mataku membelalak berbinar. Ada sebotol            &lt;i&gt;ashir ashab&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn45" name="_ftnref45" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[45]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dingin. Kutuangkan untuk satu gelas. Sambil membawa gelas            berisia &lt;i&gt;ashir ashab&lt;/i&gt; aku berteriak,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Siapa            nih yang beli &lt;i&gt;ashir ashab&lt;/i&gt;. Pengertian sekali. &lt;i&gt;Syukran &lt;/i&gt;ya.            Semoga umurnya diberkahi Allah.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rudi            keluar dari kamarnya dengan wajah ceria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mas.            &lt;i&gt; Ashir ashab&lt;/i&gt; itu bukan kami yang beli.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Terus            dapat dari mana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tadi            diberi oleh Maria.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa?            Diberi oleh Maria?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Iya.            Katanya untuk Mas. Makanya masih utuh satu botol. Kami tidak menyentuhnya            sebelum dapat izin dari Mas. Sekarang kami boleh ikut mencicipi ‘kan            Mas?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ah            kamu ini ada-ada saja. Kalau ambil ya ambil saja. Yang penting aku disisain.            Pakai menunggu izin segala.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Masalahnya ini dari Maria, Mas. Sepertinya puteri Tuan Boutros itu            perhatian sekali sama Mas. Jangan-jangan dia jatuh hati sama Mas.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Hus            jangan ngomong sembarangan! Mereka itu memang tetangga yang baik. Sejak            awal kita tinggal di sini mereka sudah baik sama kita. Bukan sekali            ini mereka memberi sesuatu pada kita.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tapi            kenapa Maria bilang untuk Mas. Bukan untuk kita semua?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Lha            ketahuan ‘kan? Kau cemburu, jangan-jangan kau yang jatuh cinta. Ya udah            nanti biar kusampaikan sama Maria dan Tuan Boutros ayahnya, kalau memberi            sesuatu biar yang disebut namamu hehehe.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Jangan            Mas. Bukan itu maksudku?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Terus?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tapi            Maria sepertinya punya perhatian lebih pada Mas.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Akh&lt;/i&gt;            Rudi, kamu jangan berprasangka yang bukan-bukan. Kamu ‘kan tahu. Maria            berbuat begitu atas nama keluaganya, atas petunjuk ayahnya yang baik            hati itu. Dan karena kepala keluarga di rumah ini adalah aku, maka tiap            kali memberi makanan, minuman atau menyampaikan sesuatu ya selalu lewat            aku, &lt;i&gt;as a leader&lt;/i&gt; &lt;i&gt; here&lt;/i&gt;. Dia menyampaikan sesuatu atas            nama keluarganya dan aku dianggap representasi kalian semua. Jadi ini            bukan hanya interaksi dua person saja, tapi dua keluarga. Bahkan lebih            besar dari itu, dua bangsa dan dua penganut keyakinan yang berbeda.            Inilah keharmonisan hidup sebagai umat manusia yang beradab di muka            bumi ini. Sudahlah kau jangan memikirkan hal yang terlalu jauh. Tugas            kita di sini adalah belajar. Kita belajar sebaik-baiknya. Di antaranya            adalah belajar bertetangga yang baik. Karena kita telah diberi, ya nanti            kita gantian memberi sesuatu pada mereka. &lt;i&gt;Wa idza huyyitum bi tahiyyatin            fa hayyu bi ahasana minha!&lt;/i&gt;”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn46" name="_ftnref46" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[46]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Saya            mengerti, Mas. &lt;i&gt;Afwan&lt;/i&gt; jika ucapan saya tadi ada yang kurang berkenan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Udah            jangan dipikir. Emm..bagaimana makalahmu? Sudah selesai?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;,            Mas.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kapan            dipresentasikan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sabtu            sore.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Di            mana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Di            Wisma Nusantara.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ma’at            taufiq&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn47" name="_ftnref47" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[47]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            melangkah ke kamar sambil membawa segelas &lt;i&gt;ashir ashab&lt;/i&gt;. Kuselonjorkan            kakiku di atas karpet. Punggungku kusandarkan ke pinggir tempat tidur.            Untung tembok apartemen ini tebal. Jendelanya rapat. Sehingga udara            panas di luar apartemen tidak mudah menembus masuk. Meskipun agak hangat            tapi tidak sepanas di luar. Dan dengan kipas angin sudah cukup membuat            udara yang hangat itu menjadi sejuk. Kuteguk &lt;i&gt;ashir ashab.&lt;/i&gt; Perlahan.            Dingin mengaliri tenggorokan. Oh luar biasa nikmatnya. Di kawasan beriklim            panas, seperti Mesir dan negara Timur Tengah lainnya, air dingin memang            sangat menyenangkan. Jika air dingin itu membasahi tenggorokan yang            kering rasanya seperti meneguk air sejuk dari surga, tak dapat dilukiskan            dengan kata-kata. Orang yang kehausan di tengah sahara yang paling ia            damba dan ia cinta adalah air dingin penawar dahaga. Tak ada yang lebih            ia cinta dari itu. Di sinilah baru bisa kurasakan betapa dahsyat doa            baginda Nabi,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‘Ya            Allah jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku pada harta, keluarga            dan air yang dingin’. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau            meminta agar cintanya kepada Allah melebihi cintanya pada air yang dingin,            yang sangat dicintai, disukai, dan diingini oleh siapa saja yang kehausan            di musim panas. Di daerah yang beriklim panas, cinta pada air yang sejuk            dingin dirasakan oleh siapa saja, oleh semua manusia. Jika cinta kepada            Allah telah melebihi cintanya seseorang yang sekarat kehausan di tengah            sahara pada air dingin, maka itu adalah cinta yang luar biasa. Sama            saja dengan melebihi cinta pada nyawa sendiri. Dan memang semestinya            demikianlah cinta sejati kepada Allah &lt;i&gt;Azza Wa Jalla&lt;/i&gt;. Jika direnungkan            benar-benar, baginda Nabi sejatinya telah mengajarkan idiom cinta yang            begitu indah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah            keringat hilang, dan ubun-ubun kepala mulai dingin aku bangkit hendak            mengambil handuk. Aku harus mandi, badan rasanya tidak nyaman. Harus            dibersihkan dan disegarkan. Baru menyentuh handuk, &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt;-ku            memerik singkat. Ada &lt;i&gt; sms&lt;/i&gt; masuk. Kubuka. Dari Maria,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: Arial Narrow;" lang="IN"&gt;“Sudah pulang ya?            Bagaimana dengan titipanku, dapat?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: Arial Narrow;" lang="IN"&gt;                       &lt;/span&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Langsung kujawab,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: Arial Narrow;" lang="IN"&gt;“Dapat. Terima kasih            atas &lt;i&gt; ashir ashab&lt;/i&gt;nya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt;                       Kuletakkan &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt;-ku di atas meja. Aku langsung bergegas mandi.            Baru menutup kamar mandi yang bersebelahan dengan kamarku, kudengar            si &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt; memekik lagi. Maria pasti mengirim pesan balik.            Ah, biar, nanti saja setelah mandi. Kuputar kran wastafel. Aku ingin            cuci tangan. Air mengalir. Kusentuh. Hangat sekali. Berarti pipa-pipa            yang berada di dalam tanah berpasir yang mengalirkan air dari tandon            raksasa itu telah panas. Aku jadi teringat saat umrah ke Saudi di puncak            musim panas tahun lalu. Baik siang atau pun malam, kalau hendak mandi            harus mendinginkan air dulu di ember besar. Sebab air yang keluar dari            kran sangat panas. Harus ditampung di ember besar dan ditunggu sampai            dingin. Kulihat &lt;i&gt;bath-tub&lt;/i&gt; penuh dengan air. &lt;i&gt; Alhamdulillah&lt;/i&gt;,            teman-teman sangat pengertian dan cerdas. Aku bisa langsung mandi tanpa            menunggu air dingin. Ketika air menyiram seluruh tubuh rasa segar itu            susah diungkapkan dengan bahasa verbal. Habis mandi tenaga rasanya pulih            kembali. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Usai            berganti pakaian kurebahkan diriku di atas kasur. Oh, alangkah nikmatnya.            Ini saatnya istirahat. Kunyalakan tape kecil di samping tempat tidur.            Enaknya adalah memutar &lt;i&gt;murattal&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn48" name="_ftnref48" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[48]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri. Suaranya yang sangat            lembut dan indah penuh penghayatan dalam membaca Al-Qur’an sering membawa            terbang imajinasiku ke tempat-tempat sejuk. Ke sebuah danau bening di            tengah hutan yang penuh buah-buahan. Kadang ke suasana senja yang indah            di tepi pantai Ageeba, pantai laut Mediterania yang menakjubkan di Mersa            Mathruh. Bahkan bisa membawaku ke dunia lain, dunia indah di dalam laut            dengan ikan-ikan hias dan bebatuan yang seperti permata-permata di surga.            Dalam keadaan lelah selalu saja suara Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri            menjadi musik pengantar tidur yang paling nikmat. Meski terkadang aku            harus terlebih dahulu meneteskan air mata, kala mendengar Syaikh Syathiri            sesengukan menangis dalam bacaannya. Kunyalakan &lt;i&gt;murattal&lt;/i&gt; Syaikh            Syatiri. Suaranya yang indah langsung mengelus-elus syaraf-syarafku.            Mataku mulai &lt;i&gt;liyer-liyer&lt;/i&gt; hendak terpejam. Tiba-tiba &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt;-ku            kembali memekik. Aku teringat sesuatu. Titipan Maria. Kubaca pesan Maria.            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada            tiga pesan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Buka jendela            sekarang. Aku akan turunkan keranjang.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Kau sedang            apa? Aku sudah turunkan keranjang. Lama sekali.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Kenapa            tidak ada respons?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aduh,            kasihan Maria. Dia tadi sudah lama membuka jendelanya dan menurunkan            keranjang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Langsung            kujawab,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Afwan. Tadi saya langsung mandi. Jadi tiga pesanmu terakhir baru kubuka            setelah mandi. Afwan. Sekarang bisa kau turunkan keranjang.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kutunggu            respons darinya. Tak lama pesannya masuk,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“O, begitu.            Tak apa-apa. Ini kuturunkan keranjangnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            bangkit dari tempat tidur. Mengambil dua disket dalam tas. Lalu menuju            jendela. Kubuka jendela. Hawa panas langsung masuk. Sebuah keranjang            kecil dijulurkan dengan tambang kecil putih dari atas. Ada uang sepuluh            pound di dalamnya. Kuletakkan dua disket itu dalam keranjang tanpa menyentuh            uang sepuluh pound itu sama sekali. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kamar            Maria memang tepat di atas kamarku, dan jendela kamarnya tepat di atas            jendela kamarku. Orang Mesir yang berada di atas lantai dua biasanya            memiliki keranjang kecil yang seringkali digunakan untuk suatu keperluan            tanpa harus turun ke bawah. Jika ibu-ibu Mesir belanja buah-buahan atau            sayur-sayuran pada penjual buah atau penjual sayur keliling, biasanya            mereka menggunakan keranjang kecil itu, tanpa harus turun dari rumah            mereka yang berada di atas. Mereka cukup pesan berapa kilo, setelah            sepakat harganya mereka menurunkan keranjang kecil yang di dalamnya            sudah ada uang untuk membayar barang yang dipesannya. Tukang buah atau            tukang sayur akan mengisi keranjang itu dengan barang yang dipesan setelah            mengambil uangnya. Jika uangnya lebih, mereka akan mengembalikannya            sekaligus bersama barang yang dipesan. Barulah si ibu mengangkat keranjangnya            seperti orang menimba. Transaksi yang praktis. Pertama kali melihat            aku heran. Yang aku herankan adalah begitu &lt;i&gt;amanah-&lt;/i&gt;nya penjual            buah itu. Mereka tidak curang. Tidak berusaha nakal. Maria atau ibunya            juga biasa membeli sayur atau buah dengan cara seperti itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maria            mengangkat keranjangnya. Aku menutup jendela. Tak lama kemudian &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt;-ku            kembali bertulalit. Maria lagi,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Harganya            berapa? Uangnya kok tidak diambil, kenapa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt;                       Kujawab,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Harganya            zero, zero, zero pound. Jadi tak perlu dibayar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt;                       Ia menjawab,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Jangan            begitu. Itu tidak wajar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt;                       Kujawab,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Harganya            seperti biasa. Uangnya kau simpan saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kalau kau            buat &lt;i&gt; Ruzz bil laban&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn49" name="_ftnref49" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Arial Narrow;" lang="IN"&gt;[49]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; titip ya. Bolehkan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt;                       Ia menjawab,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Baiklah            kalau begitu. Dengan senang hati. &lt;i&gt;Syukran&lt;/i&gt;!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt;                       Kujawab,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Afwan.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt;                       Klik. &lt;i&gt;Handphone&lt;/i&gt; kunonaktifkan. Aku ingin tidur. Pada saat yang            sama, kudengar suara pintu terbuka. Lalu suara Hamdi mengucapkan salam.            Kujawab lirih. &lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt; dia pulang. Dia nanti akan masak            oseng-oseng wortel campur &lt;i&gt;kofta&lt;/i&gt;. Aku senang bahwa teman-teman            satu rumah ini mengerti dengan kewajiban masing-masing. Kewajiban memasak            sesibuk apa pun adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan. Sepertinya            remeh tapi sangat penting untuk sebuah tanggung jawab. Masak tepat pada            waktunya adalah bukti paling mudah sebuah rasa cinta sesama saudara.            Ya inilah persaudaraan. Hidup di negeri orang harus saling membantu            dan melengkapi. Tanpa orang lain mana mungkin kita bisa hidup dengan            baik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sambil            rebahan kunikmati suara Syaikh Syathiri membaca Al-Qur’an mengalun indah.            Maghrib masih lama. Dalam musim panas, siang lebih panjang dari malam.            Aku harus beristirahat. Nanti malam harus kembali memeras otak. Menerjemah            untuk biaya menyambung hidup. Ya, hidup ini—kata Syauqi, sang raja penyair            Arab—adalah keyakinan dan perjuangan. Dan perjuangan seorang mukmin            sejati—kata Imam Ahmad bin Hanbal—tidak akan berhenti kecuali ketika            kedua kakinya telah menginjak pintu surga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt;                       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seperti            biasa, usai shalat maghrib berjamaah di masjid kami berkumpul di ruang            tengah untuk makan bersama. Kali ini kami hanya berempat. Masih kurang            satu, yaitu Si Mishbah. Ia belum pulang. Ia masih di Wisma Nusantara            yang menjadi sentral kegiatan mahasiswa Indonesia. Gedung yang diwakafkan            oleh Yayasan Abdi Bangsa itu terletak di Rab’ah El-Adawea, Nasr City.            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hamdi            baru pulang dari Masjid Indonesia. Ia banyak bercerita tentang anak-anak            para pejabat KBRI yang lucu-lucu dan manja-manja. Dibandingkan yang            ada di negara lain, KBRI di Cairo bisa dibilang termasuk yang beruntung.            Komunitas yang mereka urusi adalah mahasiswa Al Azhar. Kegiatan keislaman            dan pengajian antaribu-ibu KBRI juga berjalan lancar. Tiap Ramadhan            ada tarawih bersama. Juga ada pesantren kilat untuk putera-puteri mereka.            Semuanya dipandu oleh mahasiswa dan mahasiswi Al Azhar. Masalah yang            dihadapi KBRI Cairo tidak serumit yang dihadapi oleh KBRI di Saudi Arabia            misalnya, yang setiap hari berurusan dengan TKI atau TKW dengan setumpuk            masalahnya yang sangat memuakkan. Misalnya, tidak dibayar majikan, disiksa            majikan, diperkosa majikan, diperlakukan seperti budak oleh majikan,            dihamili oleh sesama tenaga kerja dari Indonesia, ditangkap polisi karena            tidak punya izin tinggal resmi, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Masjid            Indonesia yang dibangun oleh para pejabat KBRI bahkan telah memiliki            perpustakaan yang cukup mengasyikkan bagi putera-puteri mereka. Manajemen            masjidnya lumayan baik. Teks khutbah Jum’atnya dibukukan tiap tahun.            Masjid Indonesia bahkan biasa menjadi tempat rekreasi para mahasiswa            yang ingin melepas penat pikiran. Mereka yang mayoritasnya tinggal di            Nasr City, jika merasa bosan bisa main ke Dokki. Silaturrahmi ke rumah            pejabat KBRI yang dikenal. Atau ke Masjid Indonesia yang terletak di            Mousadda Street. Pergi ke Dokki pada hari Jum’at sangat tepat. Selain            shalat Jum’at bersama dan bersilaturrahim dengan sesama orang Indonesia,            usai shalat Jum’at biasanya ada makan bersama di belakang masjid. Makanan            disediakan oleh para pejabat KBRI muslim secara bergiliran. Jika keadaan            ini terus bertahan niscaya sangat indah untuk dikisahkan dan dikenang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Usai            makan, aku melakukan rutinitasku di depan komputer. Mengalihbahasakan            kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Kali ini yang aku garap            adalah kitab klasik karya Ibnu Qayyim, yaitu kitab &lt;i&gt;Miftah Daris Sa’adah&lt;/i&gt;.            Dua jilid besar. Kitab berat. Menggarap kitab ini benar-benar menguras            pikiran dan tenaga. Aku harus ekstra serius dan hati-hati pada saat            Ibnu Qayyim membahas masalah ilmu perbintangan, horoskop, pengaruh planet-planet,            ramalan nasib, dan lain sebagainya. Bahasa ilmu falak dan astronomi            adalah bahasa yang tidak mudah. Aku terpaksa membuka kamus klasik berkali-kali.            Apalagi bahasa yang dipakai Ibnu Qayyim adalah bahasa Arab klasik. Itu            saja tidak cukup, harus juga didampingi dengan kamus dan buku astronomi            modern. Dan tatkala yang ditulis Ibnu Qayyim telah terang maksudnya,            aku bagaikan menemukan mutiara tidak ternilai harganya. Ibnu Qayyim            ternyata juga seorang astronom yang luar biasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Menerjemahkan sebuah kitab klasik terkadang terasa sangat menjemukan.            Namun ketika rasa jemu bisa teratasi kegiatan itu akan berubah menjadi            sebuah rekreasi yang sangat mengasyikkan. Andaikan Ibnu Rusyd masih            hidup, aku ingin bertanya, rasanya seperti apa ketika dia sedang menerjemahkan            karya-karya Aristoteles. Dan seperti apa rasanya ketika telah selesai            semuanya? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Malam            ini jadwalku sampai jam dua belas. Berhenti ketika shalat Isya. Akhir            bulan naskah harus sudah aku kirim ke Jakarta. Setelah itu ada dua buku            yang siap diterjemah. Buku kontemporer, bahasanya lebih mudah. Seorang            teman pernah mencibir diriku, bahwa menjadi penerjemah sama saja menjadi            mesin pengalih bahasa. Aku tak peduli dengan segala cibiran mereka.            Aku merasa nikmat dengan apa yang aku kerjakan. Aku bisa belajar menambah            ilmu, mentransfer ilmu pengetahuan dan berarti ikut serta mencerdaskan            bangsa. Aku bisa berkarya, sekecil apa pun bentuknya. Berdakwah, dengan            kemampuan seadanya. Dan yang terpenting aku bisa hidup mandiri dengan            royalti yang aku terima. Tidak seperti mereka yang bisanya mencibir            saja. Menuruti kata orang tidak akan pernah ada habisnya. &lt;i&gt;Kamu tidak            akan mungkin bisa memenuhi segala kesesuaian dengan hati semua manusia!&lt;/i&gt;            Kata-kata Imam Syafii mengingatkan diriku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pukul            22.00 waktu Cairo. &lt;i&gt;Handphone&lt;/i&gt;-ku berdering. Ada &lt;i&gt;sms&lt;/i&gt; masuk.            Dari Musthafa, teman Mesir satu kelas di pasca. Ia memberikan kabar            gembira,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Mabruk. Kamu lulus. Kamu bisa nulis tesis. Tadi sore pengumumannya            keluar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            merasa seperti ada hawa dingin turun dari langit. Menetes deras ke dalam            ubun-ubun kepalaku lalu menyebar ke seluruh tubuh. Seketika itu aku            sujud syukur dengan berlinang air mata. Aku merasa seperti dibelai-belai            tangan Tuhan. Setelah puas sujud syukurku aku mengungkapkan rasa gembiraku            pada teman-teman satu rumah. Mereka semua menyambut dengan riang gembira.            Dengan tasbih, tahmid dan istighfar. Dengan mata yang berbinar-binar.            Kukatakan pada mereka,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Malam            ini juga kita syukuran. Kita beli &lt;i&gt;firoh masywi&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn50" name="_ftnref50" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[50]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dua. Lengkap dengan &lt;i&gt;ashir &lt;/i&gt;mangga. Kita makan            nanti tengah malam, bersama-sama di sutuh sana. Bagaimana. &lt;i&gt;Eh ra’yukum&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn51" name="_ftnref51" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[51]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;?” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kalau            ini sih usul yang susah ditolak!” sahut Saiful senang. Siapa yang tidak            senang diajak makan ayam bakar gratis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Kukeluarkan uang lima puluh pound.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Biar            aku sama Saiful saja yang beli. Mas Fahri sama Hamdi di rumah saja.            Kalian masih capek ‘kan karena perjalanan tadi siang. &lt;i&gt;Okay&lt;/i&gt;?”            Rudi menawarkan diri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Okay&lt;/i&gt;.            Oh ya jangan cuma &lt;i&gt;ashir&lt;/i&gt; mangga, beli juga &lt;i&gt;tamar hindi&lt;/i&gt;            ya? Jangan lupa!” sahut Hamdi. Ia memang paling suka sama &lt;i&gt;tamar hindi.&lt;/i&gt;            Waktu musim dingin saja ia mencari &lt;i&gt;tamar hindi&lt;/i&gt;, apa tidak aneh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Beres            bos,” seru Saiful.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keduanya            membuka pintu dan keluar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mas            aku buat sambal sama menanak sedikit nasi ya?” kata Hamdi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sip.            Kita buat bareng,” sambutku sambil mengacungkan kedua jempolku. Memang,            tanpa membuat sambal ala Indonesia kurang mantap. Ayam bakar Mesir tidak            pakai sambal. Padahal kami berempat adalah orang yang doyan sambal,            terutama Hamdi. Dia jebolan pesantren Lirboyo, harus pakai sambal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat            melangkah ke dapur aku teringat Mishbah. Tidak adil rasanya kami berempat            berpesta tampa mengikutsertakan dia. Namanya keluarga, ketika senang            harus dirasakan bersama. Aku tersenyum. Masalah yang mudah. Kutelpon            Wisma. Aku minta disambungkan pada Mishbah. Kuberitahukan padanya orang            satu rumah akan syukuran atas kelulusanku. Ia berteriak gembira,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mas            apa aku pulang saja sekarang? Pakai taksi ‘kan cepat!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kerjamu            sudah selesai?” tanyaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Belum            sih sekarang aku lagi membuat estimasi dana sama Mas Khalid.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kalau            begitu kau selesaikan saja pekerjaanmu. Kalau kau pulang ke Hadayek            Helwan kau akan terlalu capek. Begini saja &lt;i&gt;Akhi&lt;/i&gt;, kau ajak saja            Mas Khalid istirahat ke Babay atau ke mana terserah. Ajak makan &lt;i&gt;firoh            masywi&lt;/i&gt;. Pakai uangmu atau uangnya Mas Khalid dulu. Nanti aku ganti.            Jadi adil, bagaimana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kalau            begitu &lt;i&gt;siiip-&lt;/i&gt;lah Mas. Pokoknya &lt;i&gt;alfu mabruk&lt;/i&gt; deh.” Suaranya            terdengar girang. Aku tersenyum. Ah, musim panas yang menyenangkan,            meskipun melelahkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam            segala musim, Tuhan selalu Penyayang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Itu            yang aku rasakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tepat            tengah malam kami pergi ke &lt;i&gt;suthuh.&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn52" name="_ftnref52" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[52]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; Membawa tikar, nampan besar, empat gelas plastik, &lt;i&gt;ashir&lt;/i&gt;            mangga, &lt;i&gt;tamar hindi, &lt;/i&gt;dan dua bungkus &lt;i&gt;firoh masywi&lt;/i&gt; yang            masih hangat dan sedap baunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kami            benar-benar berpesta. Dua ciduk nasi hangat digelar di atas nampan.            Sambal ditumpahkan. Lalu dua ayam bakar dikeluarkan dari bungkusnya.            Tak lupa acar dan lalapan timun. Satu ayam untuk dua orang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Sekali-kali kita jadi orang Mesir beneran, satu ayam untuk dua orang,”            komentar Rudi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kalau            ini bukan makan nasi lauk ayam. Ini makan ayam lauk nasi. Nasinya dikit            sekali. Mbok ditambah dikit,” sambung Saiful.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Tujuannya memang kita makan ayam bakar. Nasi pelengkap saja untuk melestarikan            budaya Indonesia. Bagi yang mau tambah nasi ambil saja sendiri. Benar            nggak Mas?” sahut Hamdi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sekarang            bukan saatnya diskusi. Kalau mau diskusi besok Sabtu di Wisma Nusantara.            Rudi presentatornya. &lt;i&gt;Bismillah,&lt;/i&gt; ayo jangan banyak &lt;i&gt;cingcong&lt;/i&gt;            langsung kita ganyang saja!” ucapku sambil mencomot daging ayam di hadapanku.            Serta merta mereka melakukan hal yang sama. Kami makan sambil ngobrol,            di belai udara malam yang tidak dingin dan tidak panas. Semilir sejuk.            Keindahan musim panas memang pada waktu malam.  Kala langit cerah.            Bulan terang. Bintang-bintang gemerlapan. Dan debu tidak berhamburan.            Menikmati suasana alam di atas &lt;i&gt;suthuh&lt;/i&gt; apartemen sangat menyenangkan.            Nun jauh di sana cahaya lampu-lampu rumah dan gedung-gedung dekat sungai            Nil tampak berkerlap-kerlip diterpa angin. Sayup-sayup kami mendengar            bunyi irama musik rakyat mengalun di kejauhan sana. Mungkin ada yang            sedang pesta. Alunan itu ditingkahi puja-puji syair sufi. Sangat khas            senandung malam di delta Nil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suasana            nyaman ini akan jadi kenangan tiada terlupakan. Dan kelak ketika kami            sudah kembali ke Tanah Air, kami pasti akan merindukan suasana indah            malam musim panas di Mesir seperti ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Usai            makan kami tidak langsung turun. Kami tetap bercengkerama ditemani semilir            angin dari sungai Nil dan satu botol air segar &lt;i&gt;tamar hindi&lt;/i&gt;. Kami            bercerita tentang malam-malam berkesan yang pernah kami lewati. Rudi            Marpaung yang berasal dari Medan menceritakan pengalamannya menginap            bersama teman-temannya ketika masih aliyah di Brastagi. Menyewa vila            dan mengadakan shalat &lt;i&gt;tahajjud&lt;/i&gt; bersama dalam dinginnya malam.            Suasana jadi semakin asyik ketika Hamdi mengisahkan pengalamannya yang            menegangkan selama tersesat di lereng Gunung Lawu selama dua hari. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kami            berempat belas. Dibagi dalam dua kelompok. Kami mencoba jalur baru.            Kelompok kami istirahat terlalu lama. Kami mengejar kelompok pertama.            Sayang kurang kompak. Kami bertiga tertinggal dan terlunta selama dua            hari dalam hutan Gunung Lawu. Hanya pertolongan dari Allah yang membuat            kami tetap hidup.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sedangkan            Saiful yang waktu SMP pernah diajak ayahnya ke Turki bercerita tentang            indahnya malam di teluk Borporus. Ia bercerita detil teluk Borporus.            Lalu mengajak kami membayangkan bagaimana Sultan Muhammad Al-Fatih merebut            Konstantinopel dengan memindahkan puluhan kapal di malam hari lewat            daratan dan menjadikan kapal itu jembatan untuk menembus benteng pertahanan            Konstantinopel.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di            tengah asyiknya bercengkerama, tiba-tiba kami mendengar suara orang            ribut. Suara lelaki dan perempuan bersumpah serapah berbaur dengan suara            jerit dan tangis seorang perempuan. Suara itu datang dari bawah. Kami            ke tepi &lt;i&gt;suthuh&lt;/i&gt; dan melihat ke bawah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Benar,            di gerbang apartemen kami melihat seorang gadis diseret oleh seorang            lelaki hitam dan ditendangi tanpa ampun oleh seorang perempuan. Gadis            yang diseret itu menjerit dan menangis. Sangat mengibakan. Gadis itu            diseret sampai ke jalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Jika            kau tidak mau mendengar kata-kata kami, jangan sekali-kali kau injak            rumah kami. Kami bukan keluargamu!” sengit perempuan yang menendangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kami            kenal gadis itu. Kasihan benar dia. Malang nian nasibnya. Namanya Noura.            Nama yang indah dan cantik. Namun nasibnya selama ini tak seindah nama            dan paras wajahnya. Noura masih belia. Ia baru saja naik ke tingkat            akhir &lt;i&gt;Ma’had&lt;/i&gt; Al Azhar puteri. Sekarang sedang libur musim panas.            Tahun depan jika lulus dia baru akan kuliah. Sudah berulang kali kami            melihat Noura dizhalimi oleh keluarganya sendiri. Ia jadi bulan-bulanan            kekasaran ayahnya dan dua kakaknya. Entah kenapa ibunya tidak membelanya.            Kami heran dengan apa yang kami lihat. Dan malam ini kami melihat hal            yang membuat hati miris. Noura disiksa dan diseret tengah malam ke jalan            oleh ayah dan kakak perempuannya. Untung tidak musim dingin. Tidak bisa            dibayangkan jika ini terjadi pada puncak musim dingin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Noura            sesengukan di bawah tiang lampu merkuri. Ia duduk sambil mendekap tiang            lampu itu seolah mendekap ibunya. Apa yang kini dirasakan ibunya di            dalam rumah. Tidakkah ia melihat anaknya yang menangis tersedu dengan            nada menyayat hati. Tak ada tetangga yang keluar. Mungkin sedang lelap            tidur. Atau sebenarnya terjaga tapi telah merasa sudah sangat bosan            dengan kejadian yang kerap berulang itu. Ayah Noura yang bernama Bahadur            itu memang keterlaluan. Bicaranya kasar dan tidak bisa menghargai orang.            Seluruh tetangga di apartemen ini dan masyarakat sekitar jarang yang            mau berurusan dengan Si Hitam Bahadur. Kulitnya memang hitam meskipun            tidak sehitam orang Sudan. Hanya kami yang mungkin masih sesekali menyapa            jika berjumpa. Itu pun kami terkadang merasa jengkel juga, sebab ketika            disapa ekspresi Bahadur tetap dingin seperti algojo kulit hitam yang            berwajah batu. Sejak kami tinggal di apartemen ini belum pernah Si Muka            Dingin Bahadur tersenyum pada kami. Kalau suara tawanya yang terbahak-bahak            memang sering kami dengar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            paling tidak tahan mendengar perempuan menangis. Kuajak teman-teman            turun kembali ke flat. Mereka bertanya apa yang harus dilakukan untuk            menolong Noura. Aku diam belum menemukan jawaban. Aku masuk kamar, kubuka            jendela, angin malam semilir masuk. Noura masih terisak-isak di bawah            tiang lampu. Aku dan teman-teman tidak mungkin turun ke bawah menolong            Noura. Meskipun dengan sepatah kata untuk menghibur hatinya. Atau untuk            memberitahukan padanya bahwa sebenarnya ada yang peduli padanya. Tidak            mungkin. Jika ada yang salah persepsi urusannya bisa penjara. Apalagi            Si Hitam Bahadur bisa melakukan apa saja tanpa pertimbangan akal sehatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            teringat Maria. Ia gadis yang baik hatinya. Rasa ibaku pada Noura menggerakkan            tanganku untuk mencoba mengirim &lt;i&gt;sms&lt;/i&gt; pada Maria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: Arial Narrow;" lang="IN"&gt;“Maria. Apa kau bangun.            Kau dengar suara tangis di bawah sana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kutunggu.            Lima menit. Tak ada jawaban. Kuulangi lagi. Kutunggu lagi. Ada jawaban.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Ya aku bangun. Aku mendengarnya. Aku lihat dari jendela Noura memeluk            tiang lampu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Apa kau            tidak kasihan padanya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Sangat            kasihan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Apa kau            tidak tergerak untuk menolongnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Tergerak.            Tapi itu tidak mungkin.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Kenapa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Si Hitam Bahadur bisa melakukan apa saja. Ayahku tidak mau berurusan            dengannya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Tidakkah kau bisa turun dan menyeka air matanya. Kasihan Noura. Dia            perlu seseorang yang menguatkan hatinya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Itu tidak mungkin.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Kau lebih memungkinkan daripada kami.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Sangat susah kulakukan!” &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maria menolak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Kumohon turunlah dan usaplah air matanya. Aku paling tidak tahan jika            ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal            baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke            tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Kumohon, demi rasa cintamu pada Al-Masih. Kumohon!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Baiklah, demi cintaku pada Al-Masih akan kucoba. Tapi kau harus tetap            mengawasi dari jendelamu. Jika ada apa-apa kau harus berbuat sesuatu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Jangan kuatir. Tuhan menyertai orang yang berbuat kebajikan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Benar            dugaanku. Sebenarnya banyak tetangga yang terbangun oleh teriakan-teriakan            Bahadur dan jeritan Noura. Tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa.            Pernah seorang tetangga memanggil polisi, tapi Noura tidak mau ayahnya            diperkarakan, Noura malah mengaku dia yang salah dan ayahnya berhak            marah. Mau bagaimana? Noura sepertinya tidak mau dibela padahal apa            yang dilakukan ayahnya padanya telah melewati batas. Tuan Boutros, ayah            Maria pernah menegur Si Hitam Bahadur atas perlakuannya yang tidak baik            pada anak bungsunya. Tapi apa yang terjadi? Bahadur malah melontarkan            sumpah serapah yang tidak enak didengar telinga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari            jendela aku melihat Maria berjalan mendekati Maria. Ia memakai jubah             biru tua. Rambutnya yang hitam tergerai ditiup angin malam. Maria lalu            duduk di samping Noura. Ia kelihatannya berbicara pada Noura sambil            mengelus-elus kepalanya. Noura masih memeluk tiang lampu. Maria terus            berusaha. Akhirnya kulihat Noura memeluk Maria dengan tersedu-sedu.            Maria memperlakukan Noura seolah adiknya sendiri. Sambil memeluk Noura            Maria menengok ke arahku. Aku menganggukkan kepala. Kulihat jam dinding,            pukul dua empat puluh lima menit. Teman-teman sudah terlelap. Mereka            kekenyangan makan. Maria masih memeluk Noura. Cukup lama mereka berpelukan.            Maria melepaskan pelukannya. Tangan kanannya memenjet &lt;i&gt;handphone-&lt;/i&gt;nya            dan meletakkan di telingannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Handphone&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ku menjerit. Maria bertanya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sekarang            apa yang harus kulakukan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak            bisakah kau ajak dia ke kamarmu?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku            kuatir Bahadur tahu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku            yakin dia sudah terlelap. Dan biasanya akan bangun sekitar jam sepuluh            pagi. Dia pekerja malam. Tadi jam setengah dua baru pulang terus membuat            keributan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Baiklah            akan kucoba.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tunggu!            Sekalian kau bujuk Noura menceritakan apa yang sebenarnya dialaminya            selama ini, agar kita semua para tetangga yang peduli pada nasibnya            bisa menolongnya dengan bijaksana.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Akan            kucoba.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Sebenarnya Maria bisa bicara langsung tanpa melalui &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt;.            Tapi dia harus bersuara sedikit keras, dan itu akan mengganggu tetangga            yang tidur. Maria memang tidak seperti Mona dan Suzana, dua kakak perempuan            Noura yang genit dan keras bicaranya. Seringkali Mona atau Suzana memanggil            orang di rumah mereka dari bawah dengan suara keras. Tidak siang tidak            malam. Padahal rumah mereka hanya di lantai dua tapi suaranya seperti            memanggil orang di lantai tujuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kulihat            Maria berhasil membujuk Noura untuk ikut dengannya dan berjalan memasuki            gerbang apartemen. Hatiku sedikit lega. Masih ada waktu satu jam setengah            sampai subuh tiba. Kupasang beker. Aku ingin melelapkan mata sebentar            saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;* *  *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;b&gt; &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;            &lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;a name="j4"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#di" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;.            Air Mata Noura&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meskipun            cuma terlelap satu jam setengah, itu sudah cukup untuk meremajakan seluruh            syaraf tubuhku. Setelah satu rumah shalat shubuh berjamaah di masjid,            kami membaca Al-Qur’an bersama. Tadabbur sebentar, bergantian. Teman-teman            sangat melestarikan kegiatan rutian tiap pagi ini. Selama ada di rumah,            membaca Al-Qur’an dan tadabbur tetap berjalan, meskipun pagi ini kulihat            mata Saiful dan Rudi &lt;i&gt;melek merem&lt;/i&gt; menahan kantuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Usai            &lt;i&gt; tadabbur&lt;/i&gt; Saiful, Rudi, dan Hamdi merebahkan diri di tempat tidur            masing-masing. Di musim panas, karena malamnya pendek, tidur selepas            shubuh adalah hal biasa bagi kebanyakan mahasiswa Indonesia. Tidak putera,            tidak puteri, semua sama. &lt;i&gt;Wa bilkhusus &lt;/i&gt;para aktivis yang sering            begadang sampai shubuh. Mereka para raja dan para ratu tidur pagi hari.            Orang Mesir pun juga banyak melakukan hal yang sama. Begitu mendengar            azan shubuh mereka yang tidak mau berjamaah langsung shalat lalu tidur            dan bangun sekitar pukul setengah sembilan. Kantor-kantor dan instansi            benar-benar membuka pelayanan setelah jam sembilan. Toko-toko juga banyak            yang baru buka jam sembilan. Meskipun tidak semua. Ada beberapa instansi            dan toko yang telah buka sejak jam tujuh. Yang paling disiplin buka            pagi adalah warung penjual roti &lt;i&gt;isy&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ful.&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn53" name="_ftnref53" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[53]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; Mereka telah buka sejak pagi-pagi sekali. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kebiasaan            tidur setelah shalat shubuh kurang baik ini sering disindir para Imam.            Dalam sebuah khutbah Jum’at, imam muda kami, yaitu Syaikh Ahmad Taqiyyuddin            pernah mengatakan, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            ‘Seandainya Israel menggempur Mesir pada jam setengah tujuh pagi maka            mereka tidak akan mendapatkan perlawanan apa-apa. Mereka akan sangat            mudah sekali memasuki kota Cairo dan membunuh satu per satu penduduknya.            Karena pada saat itu seluruh rakyat Mesir sedang terlelap dalam tidurnya            dan baru akan benar-benar bangun pukul sembilan.’ &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kata-kata            itu mungkin tidak seratus persen benar, tapi cukup mewakili untuk menggambarkan            kelengangan kota Cairo pada jam setengah tujuh di musim panas. Padahal            pada saat yang sama, di Jakarta sedang sibuk-sibuknya orang berangkat            kerja, dan kemacetan terjadi di mana-mana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            termasuk orang yang anti tidur langsung setelah shalat shubuh. Aku tidak            mau berkah yang dijanjikan baginda Nabi di waktu pagi lewat begitu saja.            Hal ini juga kutanamkan pada teman-teman satu rumah. Jadi seandainya            semalam begadang dan mata sangat lelah, tetaplah diusahakan shalat shubuh            berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan sedikit tadabbur. Semoga yang sedikit            itu menjadi berkah. Barulah tidur. Jika bisa tahan dulu sampai waktu            dhuha datang, shalat dhuha baru tidur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Kunyalakan komputer untuk kembali menerjemah. Baru setengah halaman            bel berbunyi. Ada tamu. Ternyata Tuan Boutros dan Maria. Kupersilakan            keduanya duduk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Fahri,            maaf menganggu. Ada yang perlu kita bicarakan,” kata Tuan Boutros.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa            itu Tuan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Noura.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maria            langsung menyahut,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Begini            Fahri. Aku sudah berusaha keras. Tapi Noura tidak mau menceritakan segalanya.            Dia hanya bilang telah diusir oleh ayah dan kakaknya karena tidak bisa            melakukan hal yang ia tidak bisa melakukannya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Hal            yang ia tidak bisa melakukan itu maksudnya apa?” tanyaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ia            tidak mau mengaku. Hanya itu yang bisa kudapat. Kami sekeluarga hanya            bisa membantu sampai di sini.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Terus            terang sebelum Si Bahadur bangun, Noura harus sudah meninggalkan rumah            kami?” sahut Tuan Boutros.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Bukannya            kami tidak peduli. Kau tentu tahu sifat Si Bahadur itu. Di samping itu            Noura memang ingin pergi untuk sementara. Ia kelihatan ketakutan dan            cemas sekali. Ia tidak mau ayahnya tahu kalau ia ada di rumah kami,”            sambung Maria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Lantas            apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Untuk            itulah kami berdua kemari. Mau tidak mau, pagi ini Noura memang harus            pergi. Untuk kebaikan dirinya, dan untuk kebaikan seluruh penghuni apartemen            ini. Jika sampai ia masih ada di sini, ayahnya akan kembali membuat            keributan. Noura akan jadi bulan-bulanan. Masalahnya, semua orang sudah            bosan. Yang jadi pikiran kami adalah Noura harus pergi ke mana. Kami            tidak tega dia pergi tanpa tujuan dan tanpa rasa aman,” jelas Tuan Boutros.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Anda            benar Tuan Boutros. Dia harus pergi ke suatu tempat yang aman dan tinggal            di sana beberapa waktu sampai keadaan membaik. Hmm..apakah dia tidak            punya sanak saudara. Paman, bibi, atau nenek misalnya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Di            Cairo ini dia tidak memiliki siapa-siapa selain keluarga yang telah            mengusirnya. Dia masih punya paman dan bibi. Tapi sangat jauh di Mesir            selatan, dekat Aswan sana. Tepatnya di daerah Naq El-Mamariya yang terletak            beberapa puluh kilo di sebelah selatan Luxor. Bahadur dan isterinya            yaitu &lt;i&gt;Madame&lt;/i&gt; Syaima berasal dari sana. Tapi Noura tidak bisa            ke sana. Katanya, seingatnya ia baru dua kali ke sana dan tidak tahu            jalannya. Ia tidak bisa sendirian ke sana,” jawab Maria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Teman            sekolahnya?” tanyaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kami            sudah memberikan saran itu padanya. Tapi Noura tidak mau. Ia ingin pergi            ke tempat yang tidak akan ditemukan ayah dan kedua kakaknya sementara            waktu. Seluruh rumah temannya telah diketahui ayahnya. Dia pernah diseret            ayahnya saat tidur di rumah salah seorang temannya di Thakanat Maadi.            Itu akan membuatnya malu pada setiap orang. Begitu katanya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            mengerutkan kening.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Bagaimana dengan saudara atau kenalan kalian? Pasti kalian punya saudara            dan kenalan yang tidak akan terlacak oleh ayahnya Noura. Dan itu bisa            membantu Noura,” selorohku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tuan            Boutros dan Maria sedikit kaget mendengar usulku. Keduanya berpandangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Fahri,            mohon kau mengertilah posisi kami. Sungguh kami ingin menolong Noura.            Tapi menempatkan Noura di rumah kami, atau rumah saudara dan kenalan            kami itu tidak mungkin kami lakukan. Karena ini akan menambah masalah?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Maksud            Tuan Boutros?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Fahri,            sebetulnya bisa saja kami membawa Noura ke tempat saudara kami. Tapi            kalau nanti sampai ketahuan Bahadur masalahnya akan runyam. Bahkan kalau            ada orang tidak bertanggung jawab yang suka memancing ikan di air keruh            masalahnya bisa berkembang tidak hanya antara kami dan Bahadur. Bisa            lebih gawat dari itu. Kau ‘kan tahu, kami sekeluarga ini penganut Kristen            Koptik. Bahadur sekeluarga adalah muslim. Seluruh sanak saudara dan            kolega kami yang paling dekat adalah orang-orang Koptik. Jika Noura            bersembunyi di rumah kami atau rumah saudara kami bisa mendatangkan            masalah. Meskipun kami tidak melakukan apa-apa kecuali menyediakan tempat            dia berlindung. Kami nanti bisa dianggap merekayasa meng-Kristen-kan            Noura. Kami harus menjaga perasaan Noura sendiri dan perasaan semuanya.            Kau tentu tahu Noura siswi &lt;i&gt;Ma’had&lt;/i&gt; Al Azhar. Dia tentu akan merasa            asing di rumah orang yang bukan satu keyakinan dengannya. Dia akan merasa            canggung untuk shalat, membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya. Di rumah            kami saja yang tetangganya, yang kenal baik dengannya, dia merasa canggung.            Untuk shalat dia merasa tidak enak. Tadi kami yang mempersilakan dia            untuk shalat. Kami tidak ingin ini terjadi pada Noura. Apa pun alasannya,            yang paling bijak adalah menempatkan Noura di tempat orang yang satu            keyakinan dengannya. Yang bisa mengerti keadaannya. Terus terang untuk            ini kami minta bantuanmu. Meskipun kamu bukan orang Mesir tapi kamu            tentu punya kenalan orang Mesir yang muslim. Menurut kami semua orang             muslim itu baik kecuali Si Bahadur itu,” jelas Maria panjang lebar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            merenungkan penjelasan Maria. Sungguh bijak dia. Kata-kata adalah cerminan            isi hati dan keadaan jiwa. Kata-kata Maria menyinarkan kebersihan jiwanya.            Sebesar apa pun keikhlasan untuk menolong tapi masalah akidah, masalah            keimanan dan keyakinan seseorang harus dijaga dan dihormati. Menolong            seseorang tidak untuk menarik seseorang mengikuti pendapat, keyakinan            atau jalan hidup yang kita anut. Menolong seseorang itu karena kita            berkewajiban untuk menolong. Titik. Karena kita manusia, dan orang yang            kita tolong juga manusia. Kita harus memanusiakan manusia tanpa menyentuh            sedikit pun kemerdekaannya meyakini agama yang dianutnya. Tak lebih            dan tak kurang. Ah, andaikan umat beragama sedewasa Maria dalam memanusiakan            manusia, dunia ini tentu akan damai dan tidak ada rasa saling mencurigai.            Diam-diam aku bersimpati pada sikap Maria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Aku            lalu berpikir sejenak mencari jalan keluar. Sebenarnya aku bisa ke tempat            Syaikh Ahmad. Tapi masalahnya, waktu sangat mendesak. Noura harus segera            pergi sebelum keluarganya bangun. Dan dia harus pergi sendiri, agar            tidak ada yang disalahkan, atau terseret ke dalam pusaran masalahnya            dengan keluarganya. Aku teringat sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Oh            ya aku ada ide,” kataku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa            itu?” tuan Boutros dan Maria menyahut bareng.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Bagaimana kalau sementara waktu Noura tinggal di salah satu rumah mahasiswi            Indonesia di Nasr City.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Saya            kira ini usul yang bagus. Mungkin mahasiswi Indonesia itu bisa mendekatinya            dan Noura bisa menceritakan semua derita yang dialaminya. Setelah itu            bisa dicarikan pemecahan bersama yang lebih baik. Sebab dia kelihatannya            sudah benar-benar dimusuhi keluarganya. Noura berkata, bahkan ibunya            sendiri yang dulu sering membelanya kini berbalik ikut memusuhinya.            Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Noura sebenarnya,” ujar Maria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Baiklah            aku akan menghubungi seorang mahasiswi Indonesia di Nasr City.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Lebih            cepat lebih baik. Waktunya semakin sempit.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            langsung bergegas mengambil gagang telpon dan memutar nomor rumah Nurul,            Ketua Wihdah, induk organisasi mahasiswi Indonesia di Mesir. Seorang            temannya bernama Farah yang menerima, memberitahukan Nurul baru sepuluh            menit tidur, sebab tadi malam ia bergadang di sekretariat Wihdah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tolong,            ini sangat mendesak!” paksaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya            beberapa menit kemudian Nurul berbicara,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ada            apa sih Kak. Tumben nelpon kemari?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            lalu mengutarakan maksudku, meminta bantuannya, agar bisa menerima Noura            bersembunyi di rumahnya beberapa hari. Mula-mula Nurul menolak. Ia takut            kena masalah. Di samping itu, tinggal bersama gadis Mesir belum tentu            mengenakkan. Aku jelaskan kondisi Noura. Akhirnya Nurul menyerah dan            siap membantu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Begini            saja Kak Fahri. Si Noura suruh turun di depan Masjid Rab’ah. Aku dan            Farah akan menjemputnya tepat pukul setengah sembilan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Baiklah.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hasil            pembicaraanku dengan Nurul aku jelaskan pada Tuan Boutros dan Maria.            Mereka tersenyum lega. Mereka mengajakku ke atas ke flat mereka untuk            menjelaskan segalanya pada Noura. Di ruang tamu rumah Tuan Boutros,            Noura menunduk dengan wajah sedih. Ada bekas biru lebam di pipinya yang            putih. Matanya memerah karena terlalu banyak menangis. Aku meyakinkan,            dia akan aman di tempat Nurul. Mereka semua mahasiswi Al Azhar dari            Indonesia yang halus perasaannya dan baik-baik semua. Noura mengucapkan            terima kasih atas pertolongan dan meminta maaf karena merepotkan. Kujelaskan            di mana dia akan dijemput Nurul dan Farah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Biar            cepat, kau naik &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; sampai Ramsis. Setelah itu naik &lt;i&gt;Eltramco&lt;/i&gt;            jurusan Hayyul Asyir atau Hayyu Sabe’ yang lewat masjid Rab’ah. Turun            di masjid Rab’ah dan cari dua mahasiswi Indonesia. Kau tentu tahu ‘kan            muka orang Indonesia. Nurul memakai kaca mata jilbabnya panjang. Farah            tidak pakai kaca mata, dia suka jilbab kecil. Ditunggu setengah sembilan            tepat. Ini nomor telpon rumahnya,” kataku sambil menyerahkan selembar            kertas bertuliskan nomor telpon dan selembar uang dua puluh pound. “Terimalah            untuk ongkos perjalanan dan untuk menelpon kalau ada apa-apa.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Noura            terlihat ragu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Jangan            ragu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Kita ini satu atap dalam payung Al            Azhar. Sudah selayaknya saling menolong,” kataku meyakinkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Noura,            terimalah. Fahri ini orang yang baik. Dia hafal Al-Qur’an. Apa kamu            tidak percaya dengan orang yang hafal Al-Qur’an?” ucap Maria meyakinkan            Noura.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya            Noura mau menerima kertas dan uang dua puluh pound itu dengan mata berlinang.            Bibirnya bergetar mengucapkan rasa terima kasih. Pagi itu juga Noura            pergi ke Nasr City dengan langkah gontai. Saat menatap Maria ia mengucapkan            rasa terima kasih dan berusaha tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pukul            sembilan Nurul menelpon, Noura sudah berada di tempatnya. Dia minta            saya datang, sebab ada seorang anggota rumahnya yang belum bisa menerima            Noura tinggal di sana. Terpaksa saat itu juga aku meluncur ke Nasr City.            Sampai di sana aku menjelaskan panjang lebar apa yang menimpa Noura.            Aku jelaskan penderitaannya seperti yang telah berkali-kali aku lihat.            Tentang ayahnya, ibunya dan kakak perempuannya yang tiada henti menyiksa            fisik dan batinnya. Tentang betapa baiknya keluarga Maria dan betapa            dewasanya mereka menyarankan agar Noura tinggal di rumah orang yang            seiman dengannya agar lebih &lt;i&gt;at home&lt;/i&gt;. Mendengar itu semua mereka            menitikkan air mata dan siap menerima Noura.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari            Nasr City aku langsung ke kampus Al Azhar di Maydan Husein. Langsung            ke &lt;i&gt;syu’un thullab dirasat ulya&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn54" name="_ftnref54" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[54]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Mereka mengucapkan selamat atas kelulusanku. Aku diminta            segera mempersiapkan proposal tesis. Setelah itu aku ke toko buku Dar            El-Salam yang berada di sebelah barat kampus, tepat di samping Khan            El-Khalili yang sangat terkenal itu. Untuk melihat buku-buku terbaru            Dar El-Salam adalah tempat yang paling tepat dan nyaman. Buku terbaru            Prof. Dr. M. Said Ramadhan El-Bouthi menarik untuk dibaca. Kuambil satu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keluar            dari Dar El-Salam matahari sudah sangat tinggi mendekati pusar langit.            Udara sangat panas. Tak jauh dari Dar El-Salam ada penjual &lt;i&gt;tamar            hindi&lt;/i&gt;. Aku tak bisa mengekang keinginanku untuk minum. Satu gelas            saja rasanya luar biasa segarnya. Aku pulang lewat Attaba. Aku teringat            jadwal belanja. Kusempatkan mampir di pasar rakyat Attaba. Dua kilo            rempelo ayam, satu kilo &lt;i&gt;kibdah&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn55" name="_ftnref55" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[55]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dan dua kilo &lt;i&gt;suguq&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn56" name="_ftnref56" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[56]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; kukira cukup untuk lauk beberapa hari. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Begitu            masuk &lt;i&gt;mahattah metro&lt;/i&gt;, azan zhuhur berkumandang. Dalam perjalanan,            panas matahari kembali memanggang. Sampai di rumah pukul dua kurang            seperempat. Aku masuk kamar dengan ubun-ubun kepala terasa mendidih.            Musim panas memang melelahkan. Sampai di flat aku langsung &lt;i&gt;teler&lt;/i&gt;.            Telentang di karpet dengan dada telanjang menikmati belaian hawa sejuk            yang dipancarkan kipas angin kesayangan yang membuatku terlelap sesaat.            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam            lelap, aku melihat Noura di pucak Sant Catherin, Jabal Tursina. Ia melepas            jilbabnya, rambutnya pirang, wajahnya bagai pualam, ia tersenyum padaku.            Aku kaget, bagaimana mungkin Noura berambut pirang, padahal ayah dan            ibunya mirip orang Sudan. Hitam dan rambutnya negro. Aku menatap Noura            dengan heran. Lalu Nurul datang. Ia menangis padaku, lalu marah-marah            pada Noura. Aku terbangun membaca &lt;i&gt;ta’awudz&lt;/i&gt; dan beristighfar berkali-kali.            Jam setengah tiga. Aku belum shalat. Setan memang suka memanfaatkan            kelemahan manusia. Tak pernah merasa kasihan. Untung waktu zhuhur masih            panjang. Aku beranjak untuk shalat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Usai            shalat aku kembali menelentangkan badan. Kali ini di atas tempat tidur,            entah kenapa kepalaku terasa &lt;i&gt;nyut-nyut&lt;/i&gt;. Atau mungkin karena kelelahan            dua hari ini. Mimpi bertemu Noura masih ada dipikiran. Juga Nurul, kenapa            ia menangis dan marah. Apakah ini hanya kebetulan, atau jangan-jangan            betulan. Aku jarang sekali bermimpi yang bukan-bukan. Mimpi bertemu            perempuan bagiku adalah mimpi yang bukan-bukan. Aku masih bisa menghitung            berapa kali aku bermimpi bertemu perempuan. Tak ada sepuluh kali. Semuanya            bertemu perempuan yang satu, yaitu ibuku. Kali ini aku bertemu Noura            yang memperlihatkan rambutnya yang pirang dan Nurul yang menangis dan            marah. Yang kupikirkan adalah Nurul. Apakah Nurul sejatinya menerima            kehadiran Noura dengan terpaksa. Hatiku tidak tenang. Aku bangkit. Tidak            jadi tidur lagi. Kutelpon Nurul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak            ada acara Nur?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sore            ini tidak ada Kak. Jadwalnya istirahat.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Bagaimana dengan Noura?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Baik.            Dia sekarang sedang tidur di kamarku. Benar katamu Kak, dia memang patut            di kasihani. Punggungnya penuh luka cambuk.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Benarkah?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa            dia sudah bercerita banyak pada kalian?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Belum.            Masih dalam taraf mencoba saling kenal. Tapi dia tidak tahan merasakan            sakit di punggungnya akhirnya dia sedikit bercerita kalau ayahnya suka            mencambuknya dengan ikat pinggang. Ayah yang kejam!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sudah            dibawa ke dokter?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Belum,            rencananya nanti sore.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Nur,            boleh aku tanya sedikit. Ini soal pribadi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa            itu Kak?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa            kau sedang marah?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Marah            kenapa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Karena            Noura. Apa kalian menerimanya dengan terpaksa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Jangan            &lt;i&gt;suudhan&lt;/i&gt; pada saya dan teman-teman Kak. Keberadaan Noura di sini            tidak ada masalah kok. Kenapa sih Kakak terlalu berprasangka begitu?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ya            aku kuatir saja kalian merasa terganggu dan direpotkan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Nggak.            Nggak apa-apa. &lt;i&gt;Sure&lt;/i&gt; nggak apa-apa. Jangan kuatir!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Syukran&lt;/i&gt;            kalau begitu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Afwan&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Benar,            tadi itu yang datang dalam lelapku dari setan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurul            tidak apa-apa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suaranya            juga bening ceria seperti biasa. Tidak ada rasa jengkel atau marah sedikit            pun. Sekarang Noura berambut pirang. Benarkah? Selama ini aku tidak            pernah melihat Noura lepas jilbab. Dari mana aku akan cari info. Tanya            pada ibu atau kedua kakaknya, gila apa. Tanya Maria. Ya Maria, mungkin            dia tahu. Aku balik ke kamar. Mengambil &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt; dan mengirim            pesan pada Maria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Maria            boleh tanya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lima            menit kemudian,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Boleh.            Tanya apa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Jangan            kaget ya? Mungkin pertanyaan aneh.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Apa itu?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Apa Noura            berambut pirang?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Pertanyaanmu memang aneh. Jawabnya ya, dia berambut pirang. Kenapa            kau tanyakan itu?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Ingin tahu saja. Tapi jika dia berambut pirang memang aneh.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Aneh bagaimana? Orang Mesir biasa berambut pirang.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Bukan itu maksudku. Bukankah ayah dan ibunya seperti orang Sudan? Hitam            dan berambut negro?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Kau ingin mengatakan Noura bukan anak mereka.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Entahlah. Ini hanya firasat.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Tapi firasatmu mungkin ada benarnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 72pt; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;" lang="IN"&gt;            “Hanya Tuhan yang tahu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            kembali menelentangkan badan di atas kasur. Saatnya tidur. Baru dua            detik mata terpejam, &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt;ku menjerit. Nomor tak kukenal.            Siapa ya? Kuangkat,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Assalamu’alaikum.&lt;/i&gt;”            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suara            bening perempuan. Logatnya agak aneh. Siapa ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Wa            ‘ailakumussalam&lt;/i&gt;. Ini siapa ya?” jawabku balik bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Sind            Sie Herr Fahri&lt;/i&gt;?”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn57" name="_ftnref57" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[57]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dia malah balik bertanya dengan bahasa Jerman. Aku langsung            teringat perempuan bercadar biru muda yang kemarin bertemu di dalam            &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt;. Dia pasti Aisha.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ja.            Sie Aisha&lt;/i&gt;?” jawabku dengan bahasa Jerman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ja.            Herr Fahri, haben Sie zeit&lt;/i&gt;?&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn58" name="_ftnref58" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[58]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;” Pertanyaannya mengandung maksud mengajak bertemu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Heute&lt;/i&gt;?”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn59" name="_ftnref59" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[59]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ja.            Heute, ba’da shalat el ashr&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn60" name="_ftnref60" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[60]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            ingin tertawa mendengar dia mencampur bahasa Jerman dengan bahasa Arab.            Tapi memang tepat. Kata-kata shalat sejatinya susah diterjemahkan ke            dalam bahasa lain secara pas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Nein            danke, heute ba’da shalat el ashr habe ich leider keine Zeit! Ich habe            schon eine verabredung!&lt;/i&gt;” &lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn61" name="_ftnref61" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;            &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[61]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Maksudku adalah janji pada jadwal untuk menerjemah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aisha            lalu menjelaskan ia ingin bertemu denganku secepatnya. Ia minta aku            bisa meluangkan sedikit waktu. Karena sangat penting. Berkaitan dengan            Alicia yang katanya ingin berbincang seputar Islam dan ajaran moral            yang dibawanya. Alicia ingin sekali bertanya banyak hal padaku sejak            kejadian di atas &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; itu. Aisha memohon dengan sangat, sebab            menurutnya ini kesempatan yang baik untuk menjelaskan Islam yang sebenarnya            pada orang Barat. Aisha mengatakan Alicia seorang reporter berita. Ia            wartawan dan ini kesempatan emas. Mau tak mau aku mengiyakan dan menawarkan            bagaimana jika bertemu besok. Ia senang sekali mendengarnya. Kami membuat            kesepakatan bertemu di &lt;i&gt;mahattah metro&lt;/i&gt; bawah tanah Maydan Tahrir            tepat jam setengah sebelas. Aku minta padanya untuk datang tepat waktu.            Ia tertawa. Sedikit ia meledek, bukankah seharusnya dia yang meminta            padaku untuk datang tepat waktu. Aku tersenyum kecut. Memang orang Indonesia            terkenal jam karetnya. Aku tidak sangka kalau orang seperti Aisha tahu            akan hal itu. Aku tidak perlu bertanya padanya dari mana ia tahu itu.            Sebuah pertanyaan bodoh di dunia global seperti sekarang ini. Bukankah            dengan kecanggihan teknologi jarum jatuh di pelosok Merauke sana bisa            terdengar sampai ke New York dan ke seluruh penjuru dunia?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            langsung menulis janji bertemu Aisha pada &lt;i&gt;planning&lt;/i&gt; kegiatan esok            hari. Ternyata padat. Besok jadwal khutbah di masjid Indonesia. Berarti            nanti malam mempersiapkan bahan khutbah. Pagi diketik dan langsung di-&lt;i&gt;print&lt;/i&gt;.            Lantas istirahat. Tidak ke mana-mana. Tidak juga sepak bola. Untak stamina            khutbah. Kalaupun ingin melakukan sesuatu lebih baik menerjemah beberapa            halaman. Jam sembilan berangkat. Sampai di Tahrir kira-kira jam sepuluh.            Kalau misalnya &lt;i&gt; metro&lt;/i&gt; sedikit terlambat, aku bisa tetap datang            tepat waktu. Lantas berbincang dengan Aisha dan Alicia sampai jam sebelas.            Setelah itu pergi ke Dokki untuk khutbah. Aku harus datang di awal waktu            biar tidak gugup. Begitu rencananya. Jika tidak dibuat &lt;i&gt;outline&lt;/i&gt;            yang jelas seperti itu akan membuat hidup tidak terarah dan banyak waktu            terbuang percuma.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kulihat            kalender. Melihat kalender adalah hal yang paling kusuka. Karena bagiku            dengan melihatnya optimisme hidup itu ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jum’at            tanggal sembilan dan Sabtu tanggal sepuluh. Ada tanda pada tanggal sepuluh.            Hmm..kapan aku memberi tanda dan untuk apa? Jangan-jangan aku ada janji            dengan seseorang. Aku berusaha mengingat-ingat. Rancangan kegiatan satu            bulan aku lihat. Juga tidak ada janji khusus. Terus itu tanda apa ya?            Hari Minggunya, tanggal sebelas juga ada tanda yang sama. Dua hari berturut-turut.            Aku teringat sesuatu. Ya itu tanda yang aku bubuhkan tiga bulan lalu            begitu tahu tanggal lahir seluruh keluarga Tuan Boutros. Aku berniat            memberikan hadiah untuk mereka, tepat di hari ulang tahun mereka. &lt;i&gt;Madame&lt;/i&gt;            Nahed, ibunya Maria, ulang tahun tanggal 10 Agustus. Si Yousef adik            lelaki Maria tanggal 11 Agustus, satu hari setelah ibunya. Sedangkan            Tuan Boutros 26 Oktober, dan Maria 24 Desember. Tanggal-tanggal itu            telah aku beri tanda. Aku paling suka memberi kejutan pada teman atau            kenalan. Teman satu rumah sudah mendapatkan hadiah mereka pada hari            istimewa mereka. Berarti besok kegiatannya bertambah satu, mencarikan            hadiah untuk &lt;i&gt;Madame&lt;/i&gt; Nahed dan Yousef. Hadiah yang sederhana saja.            Sekadar untuk memberikan rasa senang di hati tetangga. Tiba-tiba aku            berpikir ingin memberikan hadiah pada Si Muka Dingin Bahadur, ayah Noura            yang mirip orang Sudan itu. Apa reaksinya kira-kira?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;b&gt; &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;            &lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt; &lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#di" style="text-decoration: underline;"&gt;            &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;.            Pertemuan di Tahrir&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jam            10.10 aku sampai di &lt;i&gt;mahattah metro&lt;/i&gt; bawah tanah Maydan Tahrir.            Sesuai dengan janji, kami akan bertemu di jalur &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; menuju            Giza Suburban. Tempatnya lebih nyaman. Lebih indah. Aku mencari tempat            duduk yang paling mudah dilihat. Janjinya tepat setengah sebelas. Aku            datang dua puluh menit lebih awal. Sambil menunggu aku membaca kembali            bahan khutbah yang telah kupersiapkan. Keadaan &lt;i&gt; mahattah&lt;/i&gt; tidak            terlalu ramai. Menjelang shalat Jum’at seperti ini biasanya memang agak            lengang. Seorang polisi bersiaga dengan senjata di pinggang. Petugas            kebersihan berseragam menyapu pelan-pelan. Seorang perempuan berjubah            hitam bercadar hitam datang. Kukira dia Aisha, ternyata bukan. Perempuan            itu tidak melihat ke arahku sama sekali. Begitu &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; datang,            ia langung naik dan hilang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sudah            pukul sebelas Aisha belum juga datang. Aku akan menunggu sampai seperempat            jam ke depan jika ia tidak datang aku akan langsung pergi ke Dokki.            Pukul sebelas lima menit ada seorang perempuan berabaya cokelat tua            dengan jilbab dan cadar di kepalanya. Ia melangkah tergesa ke arahku.            Ia mengucapkan salam dan aku menjawabnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Nehmen            Sie platz!”&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn62" name="_ftnref62" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;            &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[62]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; kupersilakan dia duduk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Danke            schon.&lt;/i&gt;”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn63" name="_ftnref63" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[63]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Selorohnya sambil bergerak duduk di samping kananku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Bitte&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn64" name="_ftnref64" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[64]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aisha            melihat jam tangannya. Dia minta maaf datang terlambat. Aku hanya tersenyum.            Kami lalu mulai berbincang-bincang. Aisha memilih pakai bahasa Jerman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Wo            ist&lt;/i&gt; Alicia?”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn65" name="_ftnref65" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[65]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Tanyaku karena aku tidak juga melihat bule Amerika itu datang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Insya            Allah&lt;/i&gt;, dia akan datang sepuluh menit lagi. Dia sedang dalam perjalanan            dari wawancara dengan Ibrahem Nafe’, Pemimpin Redaksi Harian Ahram.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            bisa memaklumi, namun aku perlu menjelaskan padanya bahwa tepat setengah            dua belas aku harus meninggalkan Tahrir. Sekali lagi Aisha minta maaf            atas keterlambatannya dan keterlambatan Alicia. Dalam hati aku senang,            bahwa memang perlu sekali-kali orang Barat minta maaf pada orang Indonesia,            karena mereka datang tidak tepat waktu. Makanya, jangan main-main dengan            murid Syaikh Utsman yang terkenal disiplin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Semoga            lima belas menit cukup bagi Alicia untuk mendapatkan jawaban atas ketidaktahuannya            akan Islam,” kata Aisha dengan nada sedikit menyesal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Sebetulnya saya senang diajak berbincang untuk menjelaskan keindahan            Islam. Tapi kali ini saya ada jadwal khutbah. Maafkan saya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kalau            waktunya tidak cukup, anggaplah ini pertemuan pengantar saja. Semoga            Anda tidak keberatan seandainya Alicia minta waktu lagi, entah kapan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Insya            Allah&lt;/i&gt;. Dengan senang hati.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aisha            lalu bertanya-tanya tentang saya. Tentang Indonesia. Tentang Jawa. Dia            pun sempat sedikit mengenalkan dirinya. Dia baru empat bulan di Cairo.            Tujuannya untuk belajar bahasa Arab dan memperbaiki bacaan Al-Qur’annya.            Di Jerman ia sudah tingkat akhir Fakultas Psikologi. Ayahnya asli Jerman.            Ibunya asli Turki. Dari ibunya ia memiliki darah Palestina. Sebab neneknya            atau ibu ibunya adalah wanita asli Palestina. Ibunya bilang, neneknya            lahir di Giza. Aku bertanya sejak kapan memakai jilbab dan cadar. Ia            menjawab memakai jilbab sejak SMP dan memakai cadar sejak tiba di Mesir,            mengikuti bibinya. Sementara ia memang tinggal di Maadi bersama bibi            dan pamannya. Bibinya sedang S.2. di Kuliyyatul Banat Universitas Al            Azhar, beliau adik bungsu ibunya. Sedangkan pamannya sedang S.3., juga            di Al Azhar. Aku mengenal beberapa orang Turki yang ada di program pascasarjana.            Aku teringat sebuah nama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku            kenal seorang mahasiswa Turki. Dia cukup akrab denganku. Dia pernah            bilang tinggal di dekat Kentucky Maadi, mungkin pamanmu kenal,” kataku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dekat            Kentucky? Siapa namanya? Coba nanti aku tanyakan pada paman,” Aisha            penasaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Namanya            Eqbal Hakan Erbakan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Siapa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Eqbal            Hakan Erbakan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;La            ilaaha illallah!&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kenapa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Itu            pamanku.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;So            ein zufall&lt;/i&gt;!&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn66" name="_ftnref66" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[66]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dunia            begitu sempit bukan? Tak kukira kau kenal pamanku.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Sampaikan salamku untuknya. Katakan saja dari Fahri Abdullah Shiddiq,            teman &lt;i&gt; i’tikaf&lt;/i&gt; di masjid Helmeya Zaitun tahun lalu. Juga sampaikan            salamku pada bibimu dan kedua puteranya yang lucu; Amena dan Hasan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Insya            Allah&lt;/i&gt; dengan senang hati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari            kejauhan aku melihat seorang perempuan bule datang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apakah            dia Alicia?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Kelihatannya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Penampilannya memang berbeda dengan waktu aku melihatnya di &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt;            dua hari yang lalu. Sekarang tampak lebih sopan. Memakai hem lengan            panjang. Tidak kaos ketat dengan bagian perut terlihat. Ia menyapa kami            dengan tersenyum. Aisha menjelaskan waktu yang ada sangat sempit, karena            jam setengah dua belas aku harus cabut ke Masjid Indonesia di Dokki.            Alicia bisa mengerti dan minta maaf atas keterlambatan. Ia langsung            membuka dengan sebuah pertanyaan,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Begini            Fahri, di Barat ada sebuah opini bahwa Islam menyuruh seorang suami            memukul isterinya. Katanya suruhan itu terdapat dalam Al-Qur’an. Ini            jelas tindakan yang jauh dari beradab. Sangat menghina martabat kaum            wanita. Apakah kau bisa menjelaskan masalah ini yang sesungguhnya? Benarkah            opini itu, atau bagaimana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            menghela nafas panjang. Aku tidak kaget dengan pertanyaan Alicia itu.            Opini yang sangat mendiskreditkan itu memang seringkali dilontarkan            oleh media Barat. Dan karena ketidakmengertiannya akan ajaran Islam            yang sesungguhnya banyak masyarakat awam di Barat yang menelan mentah-mentah            opini itu. Dengan kemampuan yang ada aku berusaha menjelaskan sebenarnya.            Aku berharap Alicia bisa memahami bahasa Inggrisku dengan baik,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak            benar ajaran Islam menyuruh melakukan tindakan tidak beradab itu. Rasulullah            Saw. dalam sebuah haditsnya bersabda, &lt;i&gt;‘La tadhribu imaallah!&lt;/i&gt;’&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn67" name="_ftnref67" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[67]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Maknanya, &lt;i&gt;‘Jangan kalian pukul kaum perempuan!’&lt;/i&gt; Dalam            hadits yang lain, beliau menjelaskan bahwa sebaik-baik lelaki atau suami            adalah yang berbuat baik pada isterinya.&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn68" name="_ftnref68" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[68]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dan memang, di dalam Al-Qur’an ada sebuah ayat yang membolehkan            seorang suami memukul isterinya. Tapi harus diperhatikan dengan baik            untuk isteri macam apa? Dalam situasi seperti apa? Tujuannya untuk apa?            Dan cara memukulnya bagaimana? Ayat itu ada dalam surat An-Nisa, tepatnya            ayat 34:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sebab            itu, maka Wanita yang saleh ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara            diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).            Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka            dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian            jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk            menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jadi            seorang suami diperbolehkan untuk memukul isterinya yang telah terlihat            tanda-tanda &lt;i&gt;nusyuz&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alicia            menyela, “&lt;i&gt;Nusyuz&lt;/i&gt; itu apa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Nusyuz            adalah tindakan atau perilaku seorang isteri yang tidak bersahabat pada            suaminya. Dalam Islam suami isteri ibarat dua ruh dalam satu jasad.            Jasadnya adalah rumah tangga. Keduanya harus saling menjaga, saling            menghormati, saling mencintai, saling menyayangi, saling mengisi, saling            memuliakan dan saling menjaga. Isteri yang &lt;i&gt;nusyuz&lt;/i&gt; adalah isteri            yang tidak lagi menghormati, mencintai, menjaga dan memuliakan suaminya.            Isteri yang tidak lagi komitmen pada ikatan suci pernikahan. Jika seorang            suami melihat ada gejala isterinya hendak &lt;i&gt;nusyuz&lt;/i&gt;, hendak menodai            ikatan suci pernikahan, maka Al-Qur’an memberikan tuntunan bagaimana            seorang suami harus bersikap untuk mengembalikan isterinya ke jalan            yang benar, demi menyelamatkan keutuhan rumah tangganya. Tuntunan itu            ada dalam surat An-Nisaa ayat 34 tadi. Di situ Al-Qur’an memberikan            tuntunan melalui tiga tahapan,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;, menasihati isteri dengan baik-baik,            dengan kata-kata yang bijaksana, kata-kata yang menyentuh hatinya sehingga            dia bisa segera kembali ke jalan yang lurus. Sama sekali tidak diperkenankan            mencela isteri dengan kata-kata kasar. Baginda Rasulullah melarang hal            itu. Kata-kata kasar lebih menyakitkan daripada tusukan pedang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika            dengan nasihat tidak juga mempan, Al-Qur’an memberikan jalan &lt;i&gt;kedua,            &lt;/i&gt;yaitu pisah tempat tidur dengan isteri. Dengan harapan isteri yang            mulai &lt;i&gt;nusyuz&lt;/i&gt;  itu bisa merasa dan interospeksi. Seorang            isteri yang benar-benar mencintai suaminya dia akan sangat terasa dan            mendapatkan teguran jika sang suami tidak mau tidur dengannya. Dengan            teguran ini diharapkan isteri kembali salehah. Dan rumah tangga tetap            utuh harmonis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun            jika ternyata sang isteri memang bebal. Nuraninya telah tertutupi oleh            hawa nafsunya. Ia tidak mau juga berubah setelah diingatkan dengan dua            cara tersebut barulah menggunakan cara &lt;i&gt;ketiga&lt;/i&gt;, yaitu memukul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang            sering tidak dipahami oleh orang banyak adalah cara memukul yang dikehendaki            Al-Qur’an ini. Tidak boleh sembarangan. Suami boleh memukul dengan syarat:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;,            telah menggunakan dua cara sebelumnya namun tidak mempan. Tidak diperbolehkan            langsung main pukul. Isteri salah sedikit main pukul. Ini jauh dari            Islam, jauh dari tuntunan Al-Qur’an. Dan Islam tidak bertanggung jawab            atas tindakan kelaliman seperti itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;,            tidak boleh memukul muka. Sebab muka seseorang adalah segalanya bagi            manusia. Rasulullah melarang memukul muka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;,            tidak boleh menyakitkan. Rasulullah Saw. bersabda, &lt;i&gt;‘Bertakwalah kepada            Allah dalam masalah perempuan (isteri). Mereka adalah orang-orang yang            membantu kalian. Kalian punya hak pada mereka, yaitu mereka tidak boleh            menyentuhkan pada tempat tidur kalian lelaki yang kalian benci. Jika            mereka melakukan hal itu maka kalian boleh memukul mereka dengan pukulan            yang tidak menyakitkan (ghairu mubrah). Dan kalian punya kewajiban pada            mereka yaitu memberi rizki dan memberi pakaian yang baik.’&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn69" name="_ftnref69" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[69]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; Para ulama ahli fiqih dan ulama tafsir menjelaskan kriteria            ‘ghairu mubrah’ atau ‘tidak menyakitkan’ yaitu tidak sampai meninggalkan            bekas, tidak sampai membuat tulang retak, dan tidak di bagian tubuh            yang berbahaya jika kena pukulan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan            menghayati benar-benar kandungan ayat suci Al-Qur’an itu dan makna hadits-hadits            Rasulullah itu akan jelas sekali seperti apa sebenarnya ajaran Islam.            Apakah seperti yang dituduhkan dan diopinikan di Barat yang menghinakan            wanita? Apakah tuntunan mulia seperti itu, yang bertujuan menyelamatkan            bahtera rumah tangga karena ada gejala isteri hendak &lt;i&gt;nusyuz&lt;/i&gt;,            tidak lagi bersahabat pada suaminya, hendak menodai ikatan suci pernikahan            dianggap tiada beradab? &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kapan            seorang suami diperbolehkan memukul? Pada isteri macam apa? Syaratnya            memukulnya apa saja? Tujuannya apa? Itu semua haruslah diperhatikan            dengan seksama. Memukul seorang isteri jahat tak tahu diri dengan pukulan            yang tidak menyakitkan agar ia sadar kembali demi keutuhan rumah tangga,            apakah itu tidak jauh lebih mulia daripada membiarkan isteri berbuat            seenak nafsunya dan menghancurkan rumah tangga? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ya            inilah ajaran Islam dalam mensikapi seorang isteri yang berperilaku            tidak terpuji. Islam sangat memuliakan perempuan, bahwa di telapak kaki            ibulah surga anak lelaki. Hanya seorang lelaki mulia yang memuliakan            wanita. Demikian Islam mengajarkan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasanya            sudah cukup panjang aku menjelaskan. Alicia tampak mengangguk-anggukkan            kepala. Sekilas kulihat mata Aisha berkaca-kaca. Entah kenapa. Sebenarnya            aku ingin memaparkan ratusan data tentang perlakuan tidak manusiawi            orang-orang Eropa pada isteri-isteri mereka. Namun kuurungkan. Biarlah            suatu saat nanti sejarah sendiri yang membeberkan pada Alicia dan orang-orang            seperti Alicia. Di Inggris, beberapa abad yang lalu isteri tidak hanya            boleh dipukul tapi boleh dijual dengan harga beberapa poundsterling            saja. Ada seorang Perdana Menteri Jepang yang mengatakan bahwa cara            terbaik memperlakukan wanita adalah dengan menamparnya. Dengan bangga            Perdana Menteri itu mengaku sering menampar isteri dan anak perempuannya.            Ia bahkan menasihati suami puterinya agar tidak segan-segan menampar            isterinya. Untungnya Inggris dan Jepang bukan negara yang mayoritas            penduduknya muslim. Jika mereka negara Islam atau mayoritas penduduknya            muslim pastilah protes keras atas perlakuan tidak beradab pada perempuan            itu akan datang bagaikan gelombang badai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            menengok jam tangan. Pukul 11.35.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Maaf.            Aku harus pergi sekarang. Aku sudah terlambat lima menit dari rencana,”            ucapku pada Alicia dan Aisha sambil bangkit dari duduk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dari            jawaban yang kau berikan aku mendapatkan masukan yang sama sekali baru            aku mengerti. Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin aku tanyakan            kepadamu.Tentang Islam memperlakukan perempuan. Tentang Islam memperlakukan            non-Islam. Tentang Islam dan perbudakan dan lain sebagainya. Dan aku            berharap akan mendapatkan jawaban yang baik dalam perspektif yang adil,”            Alicia mengungkapkan harapannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Saya            senang berjumpa dengan orang seperti Anda Nona Alicia. Sebisa mungkin            saya akan memenuhi harapan Anda itu, &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt;. Tapi terus            terang, bulan ini saya sangat sibuk. Saya harus komitmen dengan jadwal            yang telah ada. Anda tentu bisa memaklumi. Apalagi saya sedang menyelesaikan            magister saya. Jadi terus terang saya akan berusaha mencuri-curi waktu.            Saya ada ide. Bagaimana kalau semua pertanyaan yang ingin Anda sampaikan,            Anda tulis saja dalam sebuah kertas. Anda &lt;i&gt;print&lt;/i&gt;. Dan nanti serahkan            pada saya. Saya akan menjawabnya di sela-sela waktu senggang saya. Jika            sudah terjawab semua akan saya serahkan kembali pada Anda. Lalu kita            bertemu dalam suatu tempat dan kita diskusikan masalah yang belum &lt;i&gt;clear&lt;/i&gt;.            Bagaimana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Saya            kira ini ide yang bagus. Saya akan tuliskan pertanyaan saya secepatnya.            Dalam dunia jurnalistik wawancara tertulis lazim juga digunakan. Terus            bagaimana kita bisa bertemu lagi. Meskipun cuma sebentar untuk menyerahkan            pertanyaan-pertanyaan saya itu?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            berpikir sesaat. Mengingat jadwal aku keluar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Anda            sekarang tinggal di mana?” tanyaku setelah aku ingat jadwal keluar dari            Hadayek Helwan dalam waktu dekat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Saya            menginap di Nile Hilton Hotel.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sampai            kapan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Kira-kira masih sembilan hari di Mesir.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Baik.            Bagaimana kalau kita berjumpa besok Senin, tepat pukul sebelas pagi?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Okey&lt;/i&gt;.            Di mana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Di            kafetaria National Library. Letaknya di Kornes Nil Street tak jauh dari            hotel Anda. Semua orang Mesir di hotel Anda, yang Anda tanya pasti tahu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Baiklah.”                                                                                                                    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku            boleh datang ‘kan?” sela Aisha.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tentu            saja,” jawabku dan Alicia hampir bersamaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kalau            begitu aku pamit dulu. &lt;i&gt;Bye&lt;/i&gt;!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            beranjak pergi meninggalkan keduanya tepat pada saat sebuah &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt;            dari Shubra El-Khaima datang. Perlahan berhenti. Perlahan-lahan terbuka.            Kutunggu orang-orang yang turun habis. Baru aku naik. Ada banyak tempat            duduk kosong. Aku pilih paling dekat. Duduk melihat ke arah jendela.            Masinis membunyikan tanda. Ding dung...ding dung! Tanda &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt;            sebentar lagi berjalan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tiba-tiba            aku mendengar suara seseorang perempuan menyapaku dengan bahasa Arab            minta izin duduk, “&lt;i&gt;Hal tasmahuli an ajlis&lt;/i&gt;!” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            menengok ke asal suara. Perempuan bercadar. Aisha! Aku sedikit kaget.            Aku menggeser tempat dudukku. Aisha duduk di sampingku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mau            ke mana?” tanyaku. Kali ini kami berbincang dalam bahasa Arab. Aku berusaha            menggunakan kalimat-kalimat fusha yang mudah dipahami olehnya. Kuhindari            bahasa ‘&lt;i&gt;amiyah&lt;/i&gt; sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku            perlu ikut kamu ke Masjid Indonesia,” jawabnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Untuk            apa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            mulai berjalan. Dua menit lagi &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; akan melintas di bawah sungai            Nil. Sayangnya pemandangan di luar jendela hanya gelap berseling cahaya            lampu neon menempel di dinding terowongan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku            ingin tahu komunitas orang Indonesia di Mesir. Siapa tahu aku bisa dapat            bahan untuk tesis psikologi sosial S.2.-ku kelak. Aku lagi melengkapi            data tentang masyarakat Jawa. Jadi &lt;i&gt;mumpung&lt;/i&gt; ada kesempatan. Aku            tidak akan melewatkan begitu saja. Siapa tahu nanti di masjid ada mahasiswi            atau muslimah Indonesia, aku bisa kenalan. Dan besok-besok jika aku            ada perlu, bisa datang sendiri.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“O,            begitu. Kalau ingin bertemu mahasiswi Indonesia, seandainya di masjid            nanti tidak ada, namun semoga ada, &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt; aku bisa bantu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Terima            kasih. Aku dengar dari paman, di Nasr City banyak mahasiswi Indonesia.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Benar.            Mahasiswa Asia Tenggara mayoritas tinggal di sana.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tadi            kau bilang mau buat proposal tesis. Boleh tahu rencananya tema apa yang            hendak kau garap?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mungkin            Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ulama            pembaru dari Turki itu?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Benar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Pasti            akan sangat menarik. Kebetulan keluarga kami di Turki adalah pengikut            setia jamaah Syaikh Said An-Nursi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku            tahu, Eqbal Hakan pernah cerita padaku.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Di            rumahnya banyak buku-buku karangan Syaikh An-Nursi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ya.            Suatu saat aku akan ke sana jika aku perlu data tambahan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa            kau yakin sekarang tidak perlu data tambahan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Untuk            sekadar proposal mengajukan judul, konsepnya sudah matang dan tinggal            saya ketik. Saya sudah punya empat ratus referensi. Jika diterima oleh            tim penilai, barulah perlu bahan selengkap-lengkapnya untuk penyusunan            tesis.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Semoga            diterima. Jika kelak tesismu jadi siapa tahu bisa diterbitkan di Turki.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Amin.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            sampai di &lt;i&gt;mahattah&lt;/i&gt; Dokki. “Kita turun?” tanya Aisha.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak,            &lt;i&gt;mahattah&lt;/i&gt; depan. Tapi tidak ada salahnya siap-siap.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kami            beranjak ke dekat pintu. Kami berdiri berdekatan. Di kaca pintu &lt;i&gt;metro            &lt;/i&gt;aku melihat bayanganku sendiri. Sama tingginya dengan Aisha. Mungkin            aku lebih tinggi sedikit. Satu atau dua sentimeter saja. &lt;i&gt;Metro&lt;/i&gt;            berjalan lagi. Tak lama kemudian sampai di &lt;i&gt;mahattah&lt;/i&gt; El-Behous.            Antara &lt;i&gt;mahattah&lt;/i&gt; Dokki dan &lt;i&gt;mahattah&lt;/i&gt; El-Behous jaraknya            memang tidak terlalu jauh. Keduanya masih dalam satu kawasan, yaitu            kawasan Dokki. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            berhenti. Kami turun. &lt;i&gt;Mahattah&lt;/i&gt; El-Behous berada sekitar dua puluh            lima meter di bawah tanah. Dengan eskalator kami naik ke atas. Kami            keluar ke permukaan seperti vampire keluar dari sarangnya di siang bolong.            Sinar matahari terasa sangat menyilaukan. Panasnya menyengat dan menyiksa.            Cepat-cepat kuambil kaca mata hitam dari tas cangklongku. Lumayan, untuk            menyejukkan kornea mata. Aku berjalan dengan langkah cepat menuju Mousadda            Street. Aisha mengimbangi langkah dua meter di belakangku. Kami diam            seribu bahasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;11.30.14            waktu Cairo, kami tiba di Masjid Indonesia yang tak lain adalah lantai            dasar sebuah gedung yang disebut Sekolah Indonesia Cairo atau biasa            disebut SIC. Lantai dasar itu cukup luas dan benar-benar layak disebut            masjid. Beberapa kali Bapak Duta Besar Indonesia di Cairo mengundang            diplomat negara lain yang muslim untuk shalat Jum’at di masjid ini.            Dari gerbang masjid aku menangkap suara riuh anak-anak mengeja Al-Qur’an.            Mereka adalah putera-puteri para pejabat KBRI yang belajar mengaji dibimbing            oleh mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar.            Kupersilakan Aisha masuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kulihat            ada dua kelompok anak-anak mengaji. Di sebelah selatan dekat mihrab,            kelompok putera dibimbing oleh Fathurrahman dan Hasyim, keduanya mahasiswa            Al Azhar yang mengabdikan diri menjadi takmir. Di sebelah utara, kelompok            puteri dibimbing oleh seorang perempuan bercadar, aku tidak tahu namanya            dan seorang mahasiswi yang aku kenal yaitu Nurul, Ketua Wihdah. Diam-diam            aku salut pada Nurul. Meskipun ia jadi ketua umum organisasi mahasiswi            Indonesia paling bergengsi di Mesir, tapi ia tidak pernah segan untuk            menyempatkan waktunya mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an. Setelah            bersalaman dengan Fathurrahman dan Hasyim, kuajak Aisha menemui Nurul            yang sedang mengajar, dan beberapa kali melihat ke arah kami. Mungkin            ia heran melihat aku datang bersama seorang perempuan bercadar. Selama            ini aku dikenal tidak pernah jalan bersama seorang perempuan mana pun.            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Kukenalkan Aisha pada Nurul dan Nurul pada Aisha. Kujelaskan siapa Aisha            pada Nurul dan kujelaskan siapa Nurul pada Aisha. Nurul menyambut Aisha            dengan senyum mengembang. Setelah mereka berbincang beberapa kalimat,            barulah aku minta diri pada mereka untuk mempersiapkan khutbah. Sebelumnya            aku jelaskan pada Aisha jika masih ingin berbincang, selepas shalat            Jum’at ada waktu, meskipun sebentar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meskipun            telah mandi, aku merasa perlu mandi lagi agar segar kembali. Musim panas            selalu membuatku ingin mandi berkali-kali. Aku langsung ke ruang takmir            yang tidak asing lagi bagiku. Melepas pakaian ganti sarung dan mandi.            Masjid ini bisa dikatakan sangat lengkap peralatannya. Mulai dari peralatan            ibadah, &lt;i&gt;sound system&lt;/i&gt;, dan lain sebagainya. Bahkan peralatan dapur            pun ada. Masjid memiliki dapur yang &lt;i&gt;integral&lt;/i&gt; dengan dapur SIC.            Memang kelebihan materi jika dialirkan untuk ibadah membuat segalanya            jadi indah. Usai mandi aku kembali ke kamar takmir. Hasyim meminjamkan            sarung baru, jas, serban dan kopiah putih. Aku memang sudah memesannya            Jum’at yang lalu. Hasyim sudah paham, di antara sekian banyak mahasiswa            yang mendapat jadwal khutbah hanya aku yang paling aneh. Datang memakai            pakaian santai. Mandi dan merapikan diri di masjid. Sebab perjalanan            dari Hadayek Helwan sampai Dokki cukup memakan waktu. Aku tidak mau            ribet.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pukul            12.00 pengajian anak-anak selesai. Pukul 12.20 Hasyim membaca Al-Qur’an            dengan &lt;i&gt;mujawwad&lt;/i&gt; menunggu jamaah datang. Pukul 12.35 ritual ibadah            shalat  Jum’at di mulai. Bapak Duta ada di barisan ketiga. Beliau            datang agak terlambat. Tema khutbah yang diberikan takmir kepadaku adalah            &lt;i&gt;‘Indahnya Cinta Karena Allah.’&lt;/i&gt; Selesai pukul 13.20. Kami lalu            makan bersama di belakang masjid. Menunya adalah Coto Makasar dan Es            Buah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Usai            makan aku mendekati Aisha dan Nurul untuk pamitan. Kutanyakan pada Aisha            apa masih ada yang bisa kubantu. Sebuah pertanyaan basa-basi. Dia bilang            tidak. Kutanyakan apa mau pulang bersama. Sebab jalurnya sama. Sekali            lagi sebuah pertanyaan basa-basi. Dia jawab masih ada yang dibicarakan            dengan Nurul. Lalu Aku teringat Noura.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Nur,            bagaimana kabar Noura?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dia            sudah mulai dekat dengan kita-kita dan bisa tertawa.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dia            cerita tentang dirinya nggak?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ya.            Tapi baru sebatas sekolahnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tentang            perlakuan keluarganya padanya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Belum.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tolong            dekati dia. Sepertinya dia memendam masalah serius. Perlakuan keluarganya            selama ini tidak wajar. Kata Tuan Boutros, kita tidak akan bisa membantu            kalau dia tidak jujur menjelaskan masalahnya. Kenapa malam-malam sampai            dicambuk dan diusir ayahnya. Dia cerita pada Maria, ayah dan dua kakak            perempuan menyuruh dia melakukan suatu pekerjaan yang dia tidak bisa            melakukannya. Pekerjaan apa itu? Dan kenapa dia tidak bisa melakukannya?            Apa masalah dia sesungguhnya. Kalau ayahnya menuntut dia harus kerja            untuk dapat uang, &lt;i&gt;Madame&lt;/i&gt; Nahed, ibunya Maria menawarkan dia bisa            kerja di kliniknya sore hari. Tolong Nur, kau dekati dia dan bicaralah            dari hati ke hati. Aku paling tidak tahan kalau melihat ada orang tertindas            dan menderita di depan mataku.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Insya            Allah&lt;/i&gt; Kak.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Oh            ya, ini, untuk biaya makan Noura satu bulan. Semoga cukup,” aku mengulurkan            amplop yang baru kuterima dari takmir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak            usah Kak.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sudah            jangan &lt;i&gt;pakewuh&lt;/i&gt;. Kita sama-sama mahasiswa. Kita makan juga iuran.            Kalau uang dapur &lt;i&gt;ngepres&lt;/i&gt; kita juga &lt;i&gt;ketar-ketir&lt;/i&gt;. Ayo terimalah!            Apalagi Noura orang Mesir, dia tidak bisa selalu makan masakan kalian.            Dia harus makan makanan Mesir dan itu perlu biaya ‘kan? Terimalah!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya            Nurul mau menerimanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagaimana            mungkin aku yang sudah merepotkan mereka masih juga membebankan biaya            pada mereka. Dakwah ya dakwah. Ibadah ya ibadah. Tapi elokkah ongkos            dakwah dan ibadah dibebankan orang lain? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            jadi teringat sepenggal episode perjalanan hijrah Nabi. Ketika akan            berangkat hijrah ke Madinah beliau diberi seekor onta oleh Abu Bakar.            Namun beliau tidak mau menerimanya dengan cuma-cuma. Beliau mau menerima            dengan syarat onta itu beliau beli. Abu Bakar inginnya memberikan secara            cuma-cuma untuk perjalanan hijrah Nabi. Tapi baginda Nabi tidak mau            beban sarana dakwah dipikul oleh Abu Bakar yang tak lain adalah umatnya.            Baginda Nabi tidak mau menggunakan kesempatan pengorbanan orang lain.            Abu Bakar punya keluarga yang harus dihidupi. Dakwah harus berjalan            profesional meskipun pengorbanan-pengorbanan tetap diperlukan. Dan Nabi            mencontohkan profesional dalam berdakwah. Beliau tidak mau menerima            onta Abu Bakar kecuali dibayar harganya. Mau tak mau Abu Bakar pun mengikuti            keinginan Nabi. Onta itu dihargai sebagaimana umumnya dan Baginda Nabi            membayar harganya. Barulah keduanya berangkat hijrah. Itulah pemimpin            sejati. Tidak seperti para kiai di Indonesia yang menyuruh umat mengeluarkan            &lt;i&gt;shadaqah jariyah&lt;/i&gt;, bahkan menyuruh santrinya berkeliling daerah            mencari sumbangan dana dengan berbagai macam cara termasuk menjual kalender,            tapi dia sendiri cuma ongkang-ongkang kaki di masjid atau di pesantren.            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika            seseorang telah disebut ‘kiai’ dia lalu merasa malu untuk turun ke kali            mengangkat batu. Meskipun batu itu untuk membangun masjid atau pesantrennya            sendiri. Dia merasa hal itu tugas orang-orang awam dan para santri.            Tugasnya adalah mengaji. Baginya, kemampuan membaca kitab kuning di            atas segalanya. Dengan membacakan kitab kuning ia merasa sudah memberikan            segalanya kepada umat. Bahkan merasa telah menyumbangkan yang terbaik.            Dengan khutbah Jum’at di masjid ia merasa telah paling berjasa. Banyak            orang lalai, bahwa baginda Nabi tidak pernah membacakan kitab kuning.            Dakwah nabi dengan perbuatan lebih banyak dari dakwah beliau dengan            khutbah dan perkataan. &lt;i&gt;Ummul Mu’minin&lt;/i&gt;, Aisyah ra. berkata, “Akhlak            Nabi adalah Al-Qur’an!” Nabi adalah Al-Qur’an berjalan. Nabi tidak canggung            mencari kayu bakar untuk para sahabatnya. Para sahabat meneladani apa            yang beliau contohkan. Akhirnya mereka juga menjadi Al-Qur’an berjalan            yang menyebar ke seluruh penjuru dunia Arab untuk dicontoh seluruh umat.            Tapi memang, tidak mudah meneladani akhlak Nabi. Menuntut orang lain            lebih mudah daripada menuntut diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Nanti            kalau ada apa-apa, atau ada yang kurang bilang saja. Juga kalau Noura            sudah menceritakan masalahnya, langsung kontak secepatnya!” kataku pada            Nurul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurul            mengangguk. Aku minta diri. Aku berdoa semoga masalah Noura segera selesai            dan gadis malang itu tidak lagi menanggung derita yang mengenaskan.            Bagaimana mungkin seorang ayah tega menyambuk anak gadisnya sampai mengelupas            punggungnya. Di mana rasa kasih sayangnya? Apakah dia tiada pernah mendengar            sabda nabi, &lt;i&gt; siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang dia tidak            akan disayang oleh Allah&lt;/i&gt;? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari            El-Behous aku langsung ke Attaba. Aku harus mencari hadiah untuk &lt;i&gt;Madame&lt;/i&gt;            Nahed dan Yousef menyambut hari istimewa mereka. Meskipun sederhana,            pasti akan jadi kejutan tersendiri, bahwa tetangganya dari Indonesia            memberikan hadiah yang tiada disangka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            ingat acara dunia wanita yang ditayangkan Nile TV. Di antara benda-benda            yang disukai wanita adalah tas tangan. Kurasa tidak salah kalau aku            menghadiahi &lt;i&gt;Madame&lt;/i&gt; Nahed dengan tas tangan. Dan untuk Yousef            aku akan belikan kaset percakapan bahasa Perancis dan kamusnya. Kuharap            dia senang. Sebab dia pernah bilang jika kuliah nanti ingin mengambil            sastra Perancis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Attaba            adalah pasar rakyat terbesar di Mesir. Semua ada. Harganya relatif lebih            murah dibandingkan tempat yang lain. Meskipun begitu, seni menawar dan            bergurau tetap penting untuk memperoleh harga miring. Orang Mesir paling            suka dengan lelucon dan guyonan. Teater rakyat di Mesir sampai sekarang            masih eksis, penontonnya selalu penuh melebihi gedung bioskop. Itu karena            sandiwara humornya. Film &lt;i&gt; Shaidi Fi Jamiah Amrika&lt;/i&gt; atau ‘Orang            Kampung di Universitas Amerika’ adalah film yang sukses besar karena            kocaknya. Mona Zaki bintang Lux Mesir itu tampil kocak di film itu.            Aku sering mengumpulkan pepatah-pepatah kocak Mesir yang membuat orang            Mesir akan terkaget dan tertawa saat kuajak bicara. Mereka akan terheran-heran            aku dapat pepatah itu dari mana. Universitas Al Azhar tidak mungkin            mengajarkannya. Pernah, seorang pedagang gendut yang kelihatannya enak            diajak guyon kusapa dengan &lt;i&gt;‘Ya Kapten, kaif hal waz zaman syurumburum!”&lt;/i&gt;            &lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn70" name="_ftnref70" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;            &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[70]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ia kaget dan terheran-heran. Aku tertawa dia pun tertawa.            Kata-kata &lt;i&gt; syurumburum&lt;/i&gt; adalah kata-kata aneh. Cara menyapa aneh            ini aku dapat dari seorang pemilik &lt;i&gt;qahwaji&lt;/i&gt;&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn71" name="_ftnref71" title="" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[71]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;di Sayyeda Zaenab. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ohoi,            sebetulnya hidup di Mesir sangat menyenangkan. Penuh seni dan hal-hal            mengejutkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di            toko tas dan sepatu milik seorang lelaki muda bermuka bundar aku berhasil            membawa tas tangan putih cantik dengan harga 50 pound. Padahal di tiga            toko sebelumnya tas yang sama merk dan bentuknya tidak boleh 70 pound.            Itu karena guyonan renyah. Ketika berbincang-bincang aku tahu dia penggemar            aktor komedi legendaris Ismael Yaseen. Kubilang padanya aku ini cucu            Ismael Yaseen. Lalu aku perlihatkan tingkah, mimik dan gaya bicara seperti            Ismael Yasin. Dia terpingkal. Dan tas itu pun kena. Setelah dapat tas            aku mencari kaset dan kamus untuk Yousef. Kutemukan yang murah di toko            kaset &lt;i&gt;Sono Cairo&lt;/i&gt;. Dalam perjalanan pulang di dalam &lt;i&gt; metro&lt;/i&gt;            ada anak kecil berjualan koran. Aku ambil dua, &lt;i&gt;Ahram &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;            Akhbar El-Yaum&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menjelang            Ashar aku tiba di flat dengan tenaga yang nyaris habis dan darah menguap            kepanasan. Benar-benar lemas. Rudi tahu aku pulang dan sangat kelelahan.            Ia membawakan segelas &lt;i&gt;karikade &lt;/i&gt;dingin. Rasanya sangat segar.            Meskipun Rudi orang Medan yang kalau berbicara tidak bisa sehalus orang            Jawa, tapi hatinya halus dan penuh pengertian. Melihat bungkusan yang            aku bawa dia penasaran. Ia minta izin membukanya. Dia kaget aku beli            tas wanita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Untuk            siapa ini Mas? Sudah punya calon rupanya? Diam-diam menghanyutkan. Tapi            memang sudah saatnya. Oh iya, tadi Nurul nelpon. Jangan-jangan dia nih            calonnya. Terus ini beli kaset percakapan bahasa Perancis segala, memangnya            mau S.3. ke Sorbonne apa? Aku jadi ingat wawancara di bulletin Citra            bulan lalu, Si Ketua Wihdah itu katanya juga sedang kursus bahasa Perancis            di Ain Syams. Pas buanget. Benarlah kata orang Inggris, &lt;i&gt;love and            a cough cannot be hid.&lt;/i&gt; Cinta dan batuk tidak dapat disembunyikan!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sudahlah            &lt;i&gt;Akhi&lt;/i&gt;. Aku lagi capek sekali. Nanti habis maghrib aku jelaskan            semua. Tidak usah berprasangka yang bukan-bukan.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anak            muda di mana-mana sama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mataku            sudah &lt;i&gt;liyer-liyer&lt;/i&gt;. Rudi bangkit, “&lt;i&gt;Akh&lt;/i&gt;, aku istirahat sebentar.            Jam lima seperempat dibangunkan ya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kalau            ada telpon dari Nurul bagaimana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sudah            jangan terus menggoda.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt;                       “&lt;i&gt;Congratulation&lt;/i&gt; Mas. &lt;i&gt;She is the star, she is the true coise,            she will be a good wife!&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt;                       Anak ini kalau menggoda tak ada habisnya. Agak keterlaluan sebenarnya.            Tapi aku malas meladeninya. Aku memejamkan mata. Tak perlu kutanggapi            sekarang, nanti juga dia akan tahu yang sesungguhnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-5787727280882152195?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/5787727280882152195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=5787727280882152195' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/5787727280882152195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/5787727280882152195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/ayat-ayat-cinta_25.html' title='Ayat - ayat Cinta'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-771402170480138629</id><published>2008-03-16T03:06:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T03:09:13.621-07:00</updated><title type='text'>Ayat - ayat Cinta</title><content type='html'>&lt;h2 style="text-indent: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;2. Peristiwa di dalam &lt;i&gt;Metro&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Usai shalat, aku menyalami Syaikh Ahmad. Nama lengkapnya            Syaikh Ahmad Taqiyyuddin Abdul Majid. Imam muda yang selama ini sangat            dekat denganku. Beliau tidak pernah menyembunyikan senyumnya setiap            kali berjumpa denganku. Beliau masih muda, umurnya baru tiga puluh satu,            dan baru setengah tahun yang lalu ia meraih Magister Sejarah Islam dari            Universitas Al Azhar. Anaknya baru satu, berumur dua tahun. Kini beliau            bekerja di Kementerian Urusan Wakaf sambil menempuh program doktoralnya.            Beliau juga menjadi dosen Sejarah Islam di &lt;i&gt;Ma’had I’dadud Du’at&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn17" name="_ftnref17" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; yang dikelola oleh &lt;i&gt;Jam’iyyah Syar’iyyah&lt;/i&gt; bekerjasama            dengan Fakultas Dakwah, Universitas Al Azhar. Di seluruh Mesir sampai            sekarang &lt;i&gt;ma’had&lt;/i&gt; ini baru ada dua: di Ramsis dan di Hadayek Helwan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meskipun masih muda, namun kedalaman ilmu agama dan kefashihannya            membaca serta mentafsirkan Al-Qur’an membuat masyarakat memanggilnya            “Syaikh”. Kerendahan hati, dan komitmennya yang tinggi membela kebenaran            membuat sosoknya dicintai dan dihormati semua lapisan masyarakat Hadayek            Helwan dan sekitarnya. Yang menarik, dia dekat dengan kawula muda. Panggilan            ‘Syaikh’ tidak membuatnya lantas merasa canggung untuk ikut sepak bola            setiap Jum’at pagi bersama anak-anak muda. Jika Maria adalah gadis Koptik            yang aneh. Aku merasa Syaikh Ahmad adalah ulama muda yang unik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Akh&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn18" name="_ftnref18" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; Fahri, mau ke mana?” tanya Syaikh ramah dengan senyum            menghiasi wajahnya yang bersih. Jenggotnya tertata rapi. Kutatap wajah            beliau sesaat. Sejatinya Syaikh Ahmad memang tampan. Tak kalah dengan            Kazem Saheer, penyanyi tenar asal Irak yang digandrungi gadis-gadis            remaja seantero Timur Tengah. Nada suaranya juga indah berwibawa. Tak            heran jika beliau disayangi semua orang. Seandainya suara indah Kazem            Saheer digunakan untuk membaca Al-Qur’an seperti Syaikh Ahmad mungkin            akan lain cerita belantika selebritis Mesir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Seperti biasa Syaikh, ke Shubra,” jawabku datar. &lt;/span&gt;          &lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beliau langsung paham aku mau ke mana dan mau apa. Sebab            Syaikh Ahmad dulu juga belajar &lt;i&gt;qiraah sab’ah&lt;/i&gt; pada Syaikh Utsman            di Shubra. Sesekali bahkan masih datang ke sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt; “Cuacanya buruk. Sangat panas. Apa tidak sebaiknya            istrirahat saja? Jarak yang akan kau tempuh itu tidak dekat. Pikirkan            juga kesehatanmu, &lt;i&gt; Akh&lt;/i&gt;,” lanjut beliau sambil meletakkan tangan            kanannya dipundak kiriku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;             “Semestinya memang begitu Syaikh. Tapi saya harus komitmen dengan            jadwal. Jadwal adalah janji. Janji pada diri sendiri dan janji pada            Syaikh Utsman untuk datang.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Masya Allah&lt;/i&gt;, semoga Allah menyertai langkahmu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Amin,”            sahutku pelan sambil melirik jam dinding di atas mihrab. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Waktunya            sudah mepet. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Syaikh,            saya pamit dulu,” kataku sambil bangkit berdiri. Syaikh Ahmad ikut berdiri.            Kucangklong tas, kupakai topi dan kaca mata. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Syaikh            Ahmad tersenyum melihat penampilanku. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dengan            topi dan kaca mata hitammu itu kau seperti bintang film Hong Kong saja.            Tak tampak sedikit pun kau seorang mahasiswa pascasarjana Al Azhar yang            hafal Al-Qur’an.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Syaikh            ini bisa saja,” sahutku sambil tersenyum, “mohon doanya. &lt;i&gt;Assalamu’alaikum&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di luar masjid, terik matahari dan gelombang angin panas            langsung menyerang. Cepat-cepat kuayunkan kaki, berlari-lari kecil menuju            &lt;i&gt; mahathah&lt;/i&gt; &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; yang berada tiga puluh lima meter di hadapanku.            Ups, sampai juga akhirnya. Aku langsung menuju loket penjualan tiket.            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ya Kapten&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;wahid Shubra!&lt;/i&gt;”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn19" name="_ftnref19" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[19]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; seruku pada penjaga loket berkepala botak dan gemuk. Wajahnya            penuh keringat, meskipun tepat di belakangnya ada kipas angin kecil            berputar-putar. Ia tampak berkenan kusapa dengan kapten. Memang untuk            menyapa lelaki yang tidak dikenal cukup memakai ‘ya kapten’ bisa juga            ‘ya basya’ atau kalau agak tua ‘ya ammu’. Jika kira-kira sudah haji            memakai ‘ya haj’.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Masyi ya Andonesy&lt;/i&gt;,”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn20" name="_ftnref20" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[20]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; jawab penjaga loket sambil mengulurkan karcis kecil warna            kuning kepadaku. Ia mengambil uang satu pound yang kuberikan dan memberi            kembalian 20 piesters. Di pintu masuk karcis aku masukkan untuk membuka            pintu penghalang. Setelah melewati pintu penghalang karcis itu kuambil            lagi. Sebab tanpa karcis itu saya tidak akan bisa keluar di Shubra nanti.            Dan jika ada pemeriksaan di dalam &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; karcis itu harus aku            tunjukkan. Jika tidak bisa menunjukkan, akan kena denda. Biasanya sepuluh            pound. Itu pun setelah dimaki-maki oleh petugas pemeriksa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagi penduduk Mesir, khususnya Cairo, &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; bisa            dikatakan transportasi kebanggaan. Lumayan canggih. &lt;i&gt;Mahattah&lt;/i&gt;            bawah tanah yang ada di Attaba, Tahrir dan Ramsis kelihatan modern dan            canggih. Itu wajar. Sebab arsiteknya, semuanya orang Perancis. Orang-orang            Mesir sering menyombongkan diri begini, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‘Kalau Anda berada di &lt;i&gt;mahattah metro&lt;/i&gt; Tahrir atau            Ramsis itu sama saja Anda berada di salah satu &lt;i&gt;mahattah metro&lt;/i&gt;            kota Paris.’ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Benarkah?  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku tidak tahu, sebab aku tidak pernah pergi ke Paris. Tapi            aku pernah membaca sebuah majalah, memang ada stasiun bawah tanah di            kota Paris yang dibuat bernuansa Mesir kuno. Dinding-dindingnya diukir            dengan Hieroglyph, huruf-huruf Mesir kuno. Beberapa sisinya dihiasi            dengan patung-patung dan simbol-simbol Mesir kuno, seperti tugu Alexandria,            kunci pyramid yang sekilas tampak seperti salib, patung Tutankhmoun,            Tutmosis, Ramses III, Amenophis III, Cleopatra dan lain sebagainya.            Nuansa seperti itu sangat kental di &lt;i&gt;mahattah metro&lt;/i&gt; Anwar Sadat-Tahrir,            yang berada tepat di jantung kota Cairo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebuah            &lt;i&gt; metro&lt;/i&gt; biru kusam datang. Pintu-pintunya terbuka perlahan. Beberapa            orang turun. Setelah itu, barulah para penumpang yang menunggu naik.            Aku masuk gerbong nomor lima. Aku yakin sekali akan dapat tempat duduk.            Dalam cuaca panas seperti ini pasti penumpang sepi. Begitu sampai di            dalam, aku langsung mengedarkan pandangan mencari tempat duduk. Sayang,            semua tempat duduk telah terisi. Bahkan ada lima penumpang yang berdiri.            Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin ini terjadi? Di hari-hari biasa            yang tidak panas saja seringkali ada tempat duduk kosong. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            mengerutkan kening. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dapat            tempat duduk adalah juga rizki. Jika tidak dapat tempat duduk berarti            belum rizkinya. Aku menggeser diri ke dekat pintu di mana ada kipas            angin berputar-putar di atasnya. Namun kipas itu nyaris tak berguna.            Udara panas yang diputar tetap saja panas. &lt;i&gt;Metro&lt;/i&gt; melaju kencang.            Udara yang masuk dari jendela juga panas. Padang pasir seperti mendidih.            Semua penumpang basah oleh air peluh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seorang pemuda berjenggot tipis yang berdiri tak jauh dari            tempat aku berdiri memandangi diriku dengan tersenyum. Aku membalas            senyumnya. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ana akhukum,&lt;/i&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn21" name="_ftnref21" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[21]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Ashraf,” ia memperkenalkan diri dengan sangat sopan. Ia            menggunakan kalimat ‘akhukum’ berarti ia sangat yakin aku seorang muslim            seperti dirinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ana akhukum,&lt;/i&gt; Fahri,” jawabku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Min Shin&lt;/i&gt;?”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn22" name="_ftnref22" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[22]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang Mesir terlalu susah membedakan orang Asia Tenggara            dengan orang China.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;La. Ana Andonesy&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn23" name="_ftnref23" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[23]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kami pun lantas berbincang-bincang. Mula-mula aku memancingnya            dengan masalah bola. Orang Mesir paling suka berbicara masalah bola.            Terutama membicarakan persaingan tiga klub besar Mesir yaitu Ahli, Zamalek            dan Ismaili. Ia ternyata pendukung Zamalek. Dengan bangga ia berkata,            “Syaikh Muhammad Jibril juga pendukung setia Zamalek.” Aku hanya tersenyum.            Aku tidak perlu mempertanyakan lebih lanjut kebenaran kata-katanya.            Tidak penting. Pendukung fanatik sebuah klub akan mencari banyak data            untuk mendukung klub kesayangannya. Maka aku langsung menyambungnya            dengan memuji kehebatan beberapa pemain andalan Zamalek. Terutama Hosam            Hasan. Ia tampak senang. Tujuanku memang membuat dia merasa senang.            Tak lebih. Aku merasa tak rugi membaca buku-buku Syaikh Abbas As-Sisi            tentang bagaimana caranya mengambil hati orang lain. Pembicaraan terus            melebar ke mana-mana. Ia sangat senang ketika tahu bahwa aku mahasiswa            pascasarjana Al Azhar. Lebih kaget ketika ia tahu aku hendak ke Shubra            untuk &lt;i&gt;talaqqi &lt;/i&gt;pada Syaikh Utsman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia berkata,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Di            Helwan saya belajar &lt;i&gt;qiraah&lt;/i&gt; riwayat Imam Hafsh pada Syaikh Hasan            yang tak lain adalah murid Syaikh Utsman. Berkali-kali Syaikh Hasan            memintaku untuk ikut belajar &lt;i&gt;qiraah sab’ah&lt;/i&gt; langsung pada Syaikh            Utsman, tapi aku tak ada waktu. Aku sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan            dan keluarga. Jadi, kau termasuk orang yang beruntung, orang Indonesia.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            terus berjalan. Tak terasa sudah sampai daerah Thakanat Maadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Akh &lt;/i&gt;Ashraf, kamu mau turun di mana?” tanyaku ketika            &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; perlahan berhenti dan beberapa orang bersiap turun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sayyeda Zaenab. &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pintu &lt;i&gt;metro &lt;/i&gt;terbuka. Beberapa orang turun. Dua kursi            kosong. Kalau mau, aku bisa mengajak Ashraf mendudukinya. Namun ada            seorang bapak setengah baya masih berdiri. Dia memandang ke luar jendela,            tidak melihat ada dua bangku kosong. Kupersilakan dia duduk. Dia mengucapkan            terima kasih. Kursi masih kosong satu. Sangat dekat denganku. Kupersilakan            Ashraf duduk. Dia tidak mau, malah memaksaku duduk. Tiba-tiba mataku            menangkap seorang perempuan berabaya biru tua, dengan jilbab dan cadar            biru muda naik dari pintu yang satu, bukan dari pintu dekat yang ada            di dekatku. Kuurungkan niat untuk duduk. Masih ada yang lebih berhak.            Perempuan bercadar itu kupanggil dengan lambaian tangan. Ia paham maksudku.            Ia mendekat dan duduk dengan mengucapkan, “&lt;i&gt;Syukran!&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            atau kereta listrik terus melaju. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ashraf            kembali mengajakku berbincang. Kali ini tentang Amerika. Ia geram sekali            pada Amerika. Seribu alasan ia beberkan. Kata-katanya menggebu seperti            Presiden Gamal Abdul Naser berorasi memberi semangat dunia Arab dalam            perang 1967. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Ayatollah Khomeini benar, Amerika itu setan! Setan harus dienyahkan!”            katanya berapi-api. Orang Mesir memang suka bicara. Kalau sudah bicara            ia merasa paling benar sendiri. Aku diam saja. Kubiarkan Ashraf berbicara            sepuas-puasnya. Hanya sesekali, pada saat yang tepat aku menyela. Sesekali            aku menyapukan pandangan melihat keadaan sekeliling. Juga ke luar jendela            agar tahu &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; sudah melaju sampai di mana. Sekilas ujung mataku            menangkap perempuan bercadar biru mengeluarkan mushaf dari tasnya, dan            membacanya dengan tanpa suara. Atau mungkin dengan suara tapi sangat            lirih sehingga aku tidak mendengarnya. Orang-orang membaca Al-Qur’an            di &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt;, di bis, di stasiun dan di terminal adalah pemandangan            yang tidak aneh di Cairo. Apalagi jika bulan puasa tiba.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; sampai di Maadi, kawasan            elite di Cairo setelah Heliopolis, Dokki, El-Zamalek dan Mohandesen.            Sebagian orang malah mengatakan Maadi adalah kawasan paling elite. Lebih            elite dari Heliopolis. Tidak terlalu penting membandingkan satu sama            lain. Nama-nama itu semuanya nama kawasan elite. Masing-masing punya            kelebihan. Dokki terkenal sebagai tempatnya para diplomat tinggal. Mohandesen            tempatnya para pengusaha dan selebritis. Sedangkan Maadi mungkin adalah            kawasan yang paling teratur tata kotanya. Dirancang oleh kolonial Inggris.            Jalan-jalannya lebar. Setiap rumah ada tamannya. Dan dekat sungai Nil.            Tinggal di Maadi memiliki &lt;i&gt;prestise&lt;/i&gt; sangat tinggi. &lt;i&gt;Prestise&lt;/i&gt;-nya            seumpama tinggal di Paris dibandingkan dengan tinggal di kota-kota besar            lainnya di Eropa. Itu keterangan yang aku dapat dari Tuan Boutros, ayahnya            Maria yang bekerja di sebuah bank swasta di Maadi. Masalah &lt;i&gt;prestise&lt;/i&gt;            memang sangat subjektif. Orang yang tinggal di kawasan agak kumuh Sayyeda            Zaenab merasa lebih &lt;i&gt;prestise &lt;/i&gt;dibandingkan dengan tinggal di kawasan            lain di Cairo. Alasan mereka karena dekat dengan makam Sayyeda Zaenab,            cucu Baginda Nabi Saw. Demikian juga yang tinggal di dekat masjid Amru            bin Ash. Mereka merasa lebih beruntung dan selalu bangga bisa tinggal            di dekat masjid pertama yang didirikan di benua Afrika itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Begitu pintu &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; terbuka, beberapa penumpang turun.            Lalu beberapa orang naik-masuk. Mataku menangkap ada tiga orang bule            masuk. Yang seorang nenek-nenek. Ia memakai kaos dan celana pendek sampai            lutut. Wajahnya tampak pucat. Mungkin karena kepanasan. Ia diiringi            seorang pemuda dan seorang perempuan muda. Mungkin anaknya atau cucunya.            Keduanya memakai ransel. Pemuda bule itu memakai topi berbendera Amerika            dan berkaca mata hitam. Ia juga hanya berkaos sport putih dan celana            pendek sampai lutut. Yang perempuan memakai kaos ketat tanpa lengan,            &lt;i&gt;you can see&lt;/i&gt;. Dan bercelana pendek ketat. Semua bagian tubuhnya            menonjol. Lekak-lekuknya jelas. Bagian pusarnya kelihatan. Ia seperti            tidak berpakaian. Mereka berdua mengitarkan pandangan. Mencari tempat            duduk. Sayang, tak ada yang kosong. Beberapa orang justru berdiri termasuk            diriku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku tersenyum pada Ashraf sambil berkata, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ashraf kau mau titip pesan pada Presiden Amerika nggak?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa maksudmu?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Itu, mumpung ada orang Amerika. Minggu depan mereka mungkin            sudah kembali ke Amerika. Kau bisa titip pesan pada mereka agar presiden            mereka tidak bertindak bodoh seperti yang kau katakan tadi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ashraf menoleh ke kanan dan memandang tiga bule itu dengan            raut tidak senang. Tiba-tiba ia berteriak,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ya Amrikaniyyun, la’natullah ‘alaikum&lt;/i&gt;!”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn24" name="_ftnref24" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[24]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kontan para penumpang yang mendengar perkataan Ashraf itu            melongok ke arah tiga bule yang baru masuk itu. Gerakan persis anak-anak            ayam yang kaget atas kedatangan musang di kandangnya. Kusisir wajah            orang-orang Mesir. Raut-raut kurang simpati dan tidak senang. Apalagi            pakaian perempuan muda Amerika itu bisa dikatakan tidak sopan. Orang-orang            Mesir memang menganggap Amerika sebagai biang kerusakan di Timur Tengah.            Orang-orang Mesir sangat marah pada Amerika yang mencoba mengadu domba            umat Islam dengan umat Kristen Koptik. Amerika pernah menuduh pemerintah            Mesir dan kaum muslimin berlaku semena-mena pada umat Koptik. Tentu            saja tuduhan itu membuat gerah seluruh penduduk Mesir. Bapa Shnouda,            pemimpin tertinggi dan kharismatik umat Kristen Koptik serta merta memberikan            keterangan pers bahwa tuduhan Amerika dusta belaka. Sebuah tuduhan yang            bertujuan hendak menghancurkan sendi-sendi persaudaraan umat Islam dan            umat Koptik yang telah kuat mengakar berabad-abad lamanya di bumi &lt;i&gt;Kinanah&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn25" name="_ftnref25" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[25]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Untung ketiga orang Amerika itu tidak bisa bahasa Arab.            Mereka kelihatannya tidak terpengaruh sama sekali dengan kata-kata yang            diucapkan Ashraf. Memang, kalau sedang jengkel orang Mesir bisa mengatakan            apa saja. Di pasar Sayyeda Zainab aku pernah melihat seorang penjual            ikan marah-marah pada isterinya. Entah karena apa. Ia menghujani isterinya            dengan sumpah serapah yang sangat kasar dan tidak nyaman di dengar telinga.            Di antara kata-kata kasar yang kudengar adalah: &lt;i&gt;Ya bintal haram,            ya syarmuthah, ya bintal khinzir...!&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn26" name="_ftnref26" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;  Bulu romaku sampai berdiri. Ngeri mendengarnya.            Sang isteri juga tak mau kalah. Ia membalas dengan caci maki dan serapah            yang tak kalah keras dan kotornya. Dan sumpah serapah yang mengandung            laknat adalah termasuk paling kasar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Telingaku paling tidak suka mendengar caci mencaci, apalagi            umpatan melaknat. Tak ada yang berhak melaknat manusia kecuali Tuhan.            Manusia jelas-jelas telah dimuliakan oleh Tuhan. Tanpa membedakan siapa            pun dia. Semua manusia telah dimuliakan Tuhan sebagaimana tertera dalam            Al-Qur’an, &lt;i&gt;Wa laqad karramna banii Adam. Dan telah Kami muliakan            anak keturunan Adam!&lt;/i&gt; Jika Tuhan telah memuliakan manusia, kenapa            masih ada manusia yang mencaci dan melaknat sesama manusia? Apakah ia            merasa lebih tinggi martabatnya daripada Tuhan? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tindakan Ashraf melaknat tiga turis Amerika itu sangat aku            sesalkan. Tindakannya jauh dari etika Al-Qur’an, padahal dia tiap hari            membaca Al-Qur’an. Ia telah menamatkan &lt;i&gt;qiraah&lt;/i&gt; riwayat Imam Hafsh.            Namun ia berhenti pada cara membacanya saja, tidak sampai pada penghayatan            ruh kandungannya. Semoga Allah memberikan petunjuk di hatinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang aku herankan, dalam kondisi panas seperti ini, kenapa            bule-bule itu ada di dalam &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt;. Seandainya mau bepergian kenapa            tidak memakai limousin atau taksi yang ber-AC. Dalam hati aku merasa            kasihan pada mereka. Mereka seperti tersiksa. Basah oleh keringat. Wajah            dan kulit mereka kemerahan. Yang paling kasihan adalah yang nenek-nenek.            Beberapa kali ia menenggak air mineral. Mukanya tetap saja pucat. Mereka            tidak biasa kepanasan seperti ini. Aku jadi teringat Majidov, teman            dari Rusia. Ia sangat tidak tahan dengan panasnya Mesir. Ia tinggal            di &lt;i&gt;Madinatul Bu’uts&lt;/i&gt;, atau biasa disebut &lt;i&gt;Bu’uts&lt;/i&gt; saja. Yaitu            asrama mahasiswa Al Azhar dari seluruh penjuru dunia. Di &lt;i&gt;Bu’uts&lt;/i&gt;            tidak ada AC-nya. Jika musim panas tiba dia akan hengkang dari &lt;i&gt;Bu’uts            &lt;/i&gt;dan menyewa flat bersama beberapa temannya di kawasan Rab’ah El-Adawea.            Mencari yang ada AC-nya. Tapi tidak semua mahasiswa dari Rusia seperti            Majidov. Banyak juga yang tahan dengan musim panas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak ada yang bergerak mempersilakan nenek bule itu untuk            duduk. Ini yang aku sesalkan. Beberapa lelaki muda atau setengah baya            yang masih kuat tetap saja tidak mau berdiri dari tempat duduk mereka.            Biasanya, begitu melihat orang tua, apalagi nenek-nenek, beberapa orang            langsung berdiri menyilakan duduk. Tapi kali ini tidak. Lelaki bule            itu mengajak bicara seorang pemuda Mesir berbaju kotak-kotak lengan            pendek yang duduk di dekatnya. Sekilas di antara deru &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; kutangkap            maksud perkataan si bule. Ia minta kepada pemuda Mesir itu memberi kesempatan            pada ibunya yang sudah tua untuk duduk. Mereka bertiga akan turun di            Tahrir. Tapi pemuda Mesir itu sama sekali tidak menanggapinya. Entah            kenapa. Apa karena dia tidak paham bahasa Inggris, atau karena ketidaksukaannya            pada orang Amerika? Aku tidak tahu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nenek bule itu kelihatannya tidak kuat lagi berdiri. Ia            hendak duduk menggelosor di lantai. Belum sampai nenek bule itu benar-benar            menggelosor, tiba-tiba perempuan bercadar yang tadi kupersilakan duduk            itu berteriak mencegah,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Mom, wait! Please, sit down here!&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perempuan            bercadar biru muda itu bangkit dari duduknya. Sang nenek dituntun dua            anaknya beranjak ke tempat duduk. Setelah si nenek duduk, perempuan            bule muda berdiri di samping perempuan bercadar. Aku melihat pemandangan            yang sangat kontras. Sama-sama perempuan. Yang satu auratnya tertutup            rapat. Tak ada bagian dari tubuhnnya yang membuat jantung lelaki berdesir.            Yang satunya memakai pakaian sangat ketat, semua lekak-lekuk tubuhnya            kelihatan, ditambah basah keringatnya bule itu nyaris seperti telanjang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Thank you. It’s very kind of you!&lt;/i&gt;” Perempuan bule            muda mengungkapkan rasa terima kasih pada perempuan bercadar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;You’re welcome,&lt;/i&gt;” lirih perempuan bercadar. Bahasa            Inggrisnya bagus. Sama sekali tak kuduga. Keduanya lalu berkenalan dan            berbincang-bincang. Perempuan bercadar minta maaf atas perlakuan saudara            seiman yang mungkin kurang ramah. Ternyata lebih dari yang kunilai.            Perempuan  bercadar itu benar-benar berbicara sefasih orang Inggris.            Biasanya orang Mesir sangat susah berbahasa Inggris dengan fasih. Kata            ‘friend’ selalu mereka ucapan ‘bren’. Huruf ‘f’ jadi ‘b’. Aku sering            geli mendengarnya. Tapi perempuan bercadar ini sungguh fasih. Lebih            fasih dari pembaca berita Nile TV. Perempuan bule tersenyum dan berkata,            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Oh not at all. It’s all right.&lt;/i&gt; Cuaca memang panas            dan melelahkan. Semuanya lelah. Dalam keadaan lelah terkadang susah            untuk mengalah. Dan itu sangat manusiawi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Busyit!&lt;/i&gt; Hei perempuan bercadar, apa yang kau lakukan!”            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pemuda berbaju kotak-kotak bangkit dengan muka merah. Ia            berdiri tepat di samping perempuan bercadar dan membentaknya dengan            kasar. Rupanya ia mendengar dan mengerti percakapan mereka berdua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perempuan bercadar kaget. Namun aku tidak bisa menangkap            raut kagetnya sebab mukanya tertutup cadar. Yang bisa kutangkap adalah            gerakan kepalanya yang terperangah, kedua matanya yang sedikit menciut,            kulit putih antara dua matanya sedikit mengkerut, alisnya seperti mau            bertemu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Hal a..ana khata’&lt;/i&gt;?”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn27" name="_ftnref27" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[27]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ucap perempuan bercadar tergagap. Ia memakai bahasa &lt;i&gt;fusha&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn28" name="_ftnref28" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, bukan bahasa &lt;i&gt;‘amiyah&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn29" name="_ftnref29" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[29]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Maksudnya bisa dipahami, tapi susunannya janggal. Apakah            mungkin karena dirinya terlalu kaget atas bentakan pemuda Mesir itu.            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar jawaban seperti itu si pemuda malah semakin naik            pitam. Ia kembali membentak dan memaki-maki secara kasar dengan bahasa            &lt;i&gt; ‘amiyah&lt;/i&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Yakhrab baitik!&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn30" name="_ftnref30" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;Kau telah menghina seluruh orang Mesir yang ada di &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt;            ini. Kau sungguh keterlaluan! Kelihatannya saja bercadar, sok alim,            tapi sebetulnya kau perempuan bangsat! Kau kira kami tidak tahu sopan-santun            apa? Sengaja kami mengacuhkan orang Amerika itu untuk sedikit memberi            pelajaran. Ee..bukannya kau mendukung kami. Kau malah mempersilakan            setan-setan bule itu duduk. Dan seolah paling baik, kau sok jadi pahlawan            dengan memintakan maaf atas nama kami semua. Kau ini siapa, heh?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pemuda itu sudah keterlaluan. Aku berharap ada yang bertindak.            Ashraf dan seorang lelaki setengah baya berpakaian abu-abu mendekati            pemuda dan perempuan bercadar. Aku sedikit lega.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kau            memang sungguh kurang ajar perempuan! Kau membela bule-bule Amerika            yang telah membuat bencana di mana-mana. Di Afganistan. Di Palestina.            Di Irak dan di mana-mana. Mereka juga tiada henti-hentinya menggoyang            negara kita. Kau ini muslimah macam apa, hah!?” Ashraf  marah sambil            menuding-nuding perempuan bercadar itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku kaget bukan main. Aku tak mengira Ashraf akan berkata            sekasar itu. Kelegaanku berubah jadi kekecewaan mendalam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Meski kau bercadar dan membawa mushaf ke mana-mana, nilaimu            tak lebih dari seorang &lt;i&gt;syarmuthah!”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn31" name="_ftnref31" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; umpat lelaki berpakaian abu-abu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini sudah keterlaluan. Menuduh seorang perempuan baik-baik            sehina pelacur tidak bisa dibenarkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku membaca istighfar dan shalawat berkali-kali. Aku sangat            kecewa pada mereka. Perempuan bercadar itu diam seribu bahasa. Matanya            berkaca-kaca. Bentakan, cacian, tudingan dan umpatan yang ditujukan            padanya memang sangat menyakitkan. Aku tak bisa diam. Kucopot topi yang            menutupi kopiah putihku. Lalu aku mendekati mereka sambil mencopot kaca            mata hitamku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ya jama’ah, shalli ‘alan nabi, shalli ‘alan nabi!&lt;/i&gt;”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn32" name="_ftnref32" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[32]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ucapku pada mereka sehalus mungkin. Cara menurunkan amarah            orang Mesir adalah dengan mengajak membaca shalawat. Entah riwayatnya            dulu bagaimana. Di mana-mana, di seluruh Mesir, jika ada orang bertengkar            atau marah, cara melerai dan meredamnya pertama-tama adalah dengan mengajak            membaca shalawat. &lt;i&gt;Shalli ‘alan nabi&lt;/i&gt;, artinya bacalah shalawat            ke atas nabi. Cara ini biasanya sangat manjur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Benar, mendengar ucapanku spontan mereka membaca shalawat.            Juga para penumpang &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; lainnya yang mendengar. Orang Mesir            tidak mau dikatakan orang bakhil. Dan tiada yang lebih bakhil dari orang            yang mendengar nama nabi, atau diminta bershalawat tapi tidak mau mengucapkan            shalawat. Begitu penjelasan Syaikh Ahmad waktu kutanyakan ihwal cara            aneh orang Mesir dalam meredam amarah. Justru jika ada orang sedang            marah lantas kita bilang padanya, &lt;i&gt;La taghdhab!&lt;/i&gt; (yang artinya:            jangan marah!) terkadang malah akan membuat ia semakin marah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu aku menjelaskan pada mereka bahwa yang dilakukan perempuan            bercadar itu benar. Bukanya menghina orang Mesir, justru sebaliknya.            Dan umpatan-umpatan yang ditujukan padanya itu sangat tidak sopan dan            tidak bisa dibenarkan. Aku beberkan alasan-alasan kemanusiaan. Mereka            bukannya sadar, tapi malah kembali naik pitam. Si pemuda marah dan mencela            diriku dengan sengit. Juga si bapak berpakaian abu-abu. Sementara Ashraf            bilang, “Orang Indonesia, sudahlah, kau jangan ikut campur urusan kami!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Aku kembali mengajak mereka membaca shalawat. Aku            nyaris kehabisan akal. Akhirnya kusitir beberapa hadits nabi untuk menyadarkan            mereka. Tapi orang Mesir seringkali muncul besar kepalanya dan merasa            paling menang sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pemuda Mesir malah menukas sengak, “Orang Indonesia, kau            tahu apa sok mengajari kami tentang Islam, heh! Belajar bahasa Arab            saja baru kemarin sore. Juz Amma entah hafal entah tidak. Sok pintar            kamu! Sudah kau diam saja, belajar baik-baik selama di sini dan jangan            ikut campur urusan kami!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku diam sesaat sambil berpikir bagaimana caranya menghadapi            anak turun Fir’aun yang sombong dan keras kepala ini. Aku melirik Ashraf.            Mata kami bertatapan. Aku berharap dia berlaku adil. Dia telah berkenalan            denganku tadi. Kami pernah akrab meskipun cuma sesaat. Kupandangi dia            dengan bahasa mata mencela. Ashraf menundukkan kepalanya, lalu berkata,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kapten, kau tidak boleh berkata seperti itu. Orang Indonesia            ini sudah menyelesaikan &lt;i&gt;licence-&lt;/i&gt;nya di Al Azhar. Sekarang dia            sedang menempuh program magisternya. Walau bagaimana pun, dia seorang            Azhari. Kau tidak boleh mengecilkan dia. Dia hafal Al-Qur’an. Dia murid            Syaikh Utsman Abdul Fattah yang terkenal itu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pembelaan Ashraf ini sangat berarti bagiku. Pemuda berbaju            kotak-kotak itu melirik kepadaku lalu menunduk. Mungkin dia malu telah            berlaku tidak sopan kepadaku. Tetapi lelaki berpakaian abu-abu kelihatannya            tidak mau menerima begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Dari mana kau tahu? Apa kau teman satu kuliahnya?” tanyanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ashraf tergagap, “Tidak. Aku tidak teman kuliahnya. Aku            tahu saat berkenalan dengannya tadi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kau terlalu mudah percaya. Bisa saja dia berbohong. Program            magister di Al Azhar tidak mudah. Jadi murid Syaikh Utsman juga tidak            mudah.” Lelaki itu mencela Ashraf. Dia lalu berpaling ke arahku dan            berkata, “Hei orang Indonesia, kalau benar kau S.2. di Al Azhar mana            kartumu!?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lelaki itu membentak seperti polisi intel. Berurusan dengan            orang awam Mesir yang keras kepala memang harus sabar. Tapi jika mereka            sudah tersentuh hatinya, mereka akan bersikap ramah dan luar biasa bersahabat.            Itulah salah satu keistimewaan watak orang Mesir. Terpaksa kubuka tas            cangklongku. Kuserahkan dua kartu sekaligus. Kartu S.2. Al Azhar dan            kartu keanggotaan &lt;i&gt;talaqqi qiraah sab’ah&lt;/i&gt; dari Syaikh Utsman. Tidak            hanya itu, aku juga menyerahkan selembar &lt;i&gt;tashdiq&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn33" name="_ftnref33" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;  resmi dari universitas. Tasdiq yang akan kugunakan            untuk memperpanjang visa Sabtu depan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lelaki setengah baya lalu meneliti dua kartu dan &lt;i&gt; tashdiq            &lt;/i&gt;yang masih gres itu dengan seksama. Ia manggut-manggut, kemudian            menyerahkannya pada pemuda berbaju kotak-kotak yang keras kepala yang            ada di sampingnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            “Kebetulan saat ini saya sedang menuju masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq            untuk &lt;i&gt; talaqqi&lt;/i&gt;. Kalau ada yang mau ikut menjumpai Syaikh Utsman            boleh menyertai saya.” Ujarku tenang penuh kemenangan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kulihat            wajah mereka tidak sepitam tadi. Sudah lebih mencair. Bahkan ada gurat            rasa malu pada wajah mereka. Jika kebenaran ada di depan mata, orang            Mesir mudah luluh hatinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Maafkan            kelancangan kami, Orang Indonesia. Tapi perempuan bercadar ini tidak            pantas dibela. Ia telah melakukan tindakan bodoh!” kata pemuda Mesir            berbaju kotak-kotak sambil menyerahkan kembali dua kartu dan &lt;i&gt;tashdiq&lt;/i&gt;            kepadaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            menghela nafas panjang. &lt;i&gt;Metro&lt;/i&gt; melaju kencang menembus udara panas.            Sesekali debu masuk berhamburan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Terus            terang, aku sangat kecewa pada kalian! Ternyata sifat kalian tidak seperti            yang digambarkan baginda Nabi. Beliau pernah bersabda bahwa orang-orang            Mesir sangat halus dan ramah, maka beliau memerintahkan kepada shahabatnya,            jika kelak membuka bumi Mesir hendaknya bersikap halus dan ramah. Tapi            ternyata kalian sangat kasar. Aku yakin kalian bukan asli orang Mesir.            Mungkin kalian sejatinya sebangsa Bani Israel. Orang Mesir asli itu            seperti Syaikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi yang ramah dan pemurah,”            ucapku datar. Aku yakin akan membuat hati orang Mesir yang mendengarnya            bagaikan tersengat aliran listrik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Maafkan            kami, Orang Indonesia. Kami memang emosi tadi. Tapi jangan kau katakan            kami bukan orang Mesir. Jangan pula kau katakan kami ini sebangsa Bani            Israel. Kami asli Mesir. Kami satu moyang dengan Syaikh Sya’rawi &lt;i&gt;rahimahullah,&lt;/i&gt;”            lelaki setengah baya itu tidak terima. Syaikh Sya’rawi memang seorang            ulama yang sangat merakyat. Sangat dicintai orang Mesir. Hampir semua            orang Mesir mengenal dan mencintai beliau. Mereka sangat bangga memiliki            seorang Sya’rawi yang dihormati di seantero penjuru Arab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Yang            aku tahu, selama ini, orang Mesir asli sangat memuliakan tamu. Orang            Mesir asli sangat ramah, pemurah, dan hatinya lembut penuh kasih sayang.            Sifat mereka seperti sifat Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub. Syaikh Sya’rawi,            Syaikh Abdul Halim Mahmud, Syaikh Muhammad Ghazali, Syaikh Muhammad            Hasan, Syaikh Kisyk, Syaikh Muhammad Jibril, Syaikh Athea Shaqr, Syaikh            Ismail Diftar, Syaikh Utsman dan ulama lainnya adalah contoh nyata orang            Mesir asli yang berhati lembut, sangat memuliakan tamu dan sangat memanusiakan            manusia. Tapi apa yang baru saja kalian lakukan?! Kalian sama sekali            tidak memanusiakan manusia dan tidak punya rasa hormat sedikit pun pada            tamu kalian. Orang bule yang sudah nenek-nenek itu adalah tamu kalian.            Mereka bertiga tamu kalian. Tetapi kenapa kalian malah melaknatnya.            Dan ketika saudari kita yang bercadar ini berlaku sebagai seorang muslimah            sejati dan sebagai seorang Mesir yang ramah, kenapa malah kalian cela            habis-habisan!? Kalian bahkan menyumpahinya dengan perkataan kasar yang            sangat menusuk perasaan dan tidak layak diucapkan oleh mulut orang yang            beriman! ”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tapi            Amerika sudah keterlaluan! Apa salah jika kami sedikit saja mengungkapkan            kejengkelan kami dengan memberi pelajaran sedikit saja pada orang-orang            Amerika itu?!” Lelaki setengah baya masih berusaha membenarkan tindakannya.            Aku tidak merasa aneh. Begitulah orang Mesir, selalu merasa benar. Dan            nanti akan luluh jika berhadapan dengan kebenaran yang seterang matahari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kita            semua tidak menyukai tindak kezhaliman yang dilakukan siapa saja. Termasuk            yang dilakukan Amerika. Tapi tindakan kalian seperti itu tidak benar            dan jauh dari tuntunan ajaran baginda Nabi yang indah.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Lalu            kami harus berbuat apa dan bagaimana? Ini &lt;i&gt;mumpung&lt;/i&gt; ada orang Amerika.            &lt;i&gt; Mumpung&lt;/i&gt; ada kesempatan. Dengan sedikit pelajaran mereka akan            tahu bahwa kami tidak menyukai kezhaliman mereka. Biar nanti kalau pulang            ke negaranya mereka bercerita pada tetangganya bagaimana tidak sukanya            kami pada mereka!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Justru            tindakan kalian yang tidak dewasa seperti anak-anak ini akan menguatkan            opini media massa Amerika yang selama ini beranggapan orang Islam kasar            dan tidak punya perikemanusiaan. Padahal baginda Rasul mengajarkan kita            menghormati tamu. Apakah kalian lupa, beliau bersabda, siapa yang beriman            kepada Allah dan hari akhir maka hormatilah tamunya. Mereka bertiga            adalah tamu di bumi Kinanah ini. Harus dihormati sebaik-baiknya. Itu            jika kalian merasa beriman kepada Allah dan hari akhir. Jika tidak,            ya terserah! Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan. Tapi jangan sekali-kali            kalian menamakan diri kalian bagian dari umat Islam. Sebab tindakan            kalian yang tidak menghormati tamu itu jauh dari ajaran Islam.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lelaki            setengah baya itu diam. Pemuda berbaju kotak-kotak menunduk. Ashraf            membisu. Para penumpang yang lain, termasuk perempuan bercadar juga            diam. &lt;i&gt;Metro &lt;/i&gt; terus berjalan dengan suara bergemuruh, sesekali            mencericit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Coba            kalian jawab pertanyaanku ini. Kenapa kalian berani menyakiti Rasulullah?!”            tanyaku sambil memandang ketiga orang Mesir bergantian. Mereka agak            terkejut mendengar pertanyaanku itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Akhi&lt;/i&gt;,            mana mungkin kami berani menyakiti Rasulullah yang kami cintai,” jawab            Ashraf.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kenapa            kalian kelak di hari akhir berani berseteru di hadapan Allah melawan            Rasulullah?” tanyaku lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Akhi&lt;/i&gt;,            kau melontarkan pertanyaan gila. Kita semua di hari akhir kelak mengharap            &lt;i&gt; syafaat &lt;/i&gt;Rasulullah, bagaimana mungkin kami berani berseteru            dengan beliau di hadapan Allah!” jawab Ashraf.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tapi            kalian telah melakukan tindakan sangat lancang. Kalian telah menyakiti            Rasulullah. Kalian telah menantang Rasulullah untuk berseteru di hadapan            Allah kelak di hari akhir!” ucapku tegas sedikit keras.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lelaki            setengah baya, Ashraf, pemuda berbaju kotak-kotak dan beberapa penumpang            &lt;i&gt; metro&lt;/i&gt; yang mendengar ucapanku semuanya tersentak kaget.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa            maksudmu, &lt;i&gt;Andonesy&lt;/i&gt;? Kau jangan bicara sembarangan!” jawab lelaki            setengah baya sedikit emosi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Paman,            aku tidak berkata sembarangan. Aku akan sangat malu pada diriku sendiri            jika berkata dan bertindak sembarangan. Baiklah, biar aku jelaskan.            Dan setelah aku jelaskan kalian boleh menilai apakah aku berkata sembarangan            atau bukan. Harus kalian mengerti, bahwa ketiga orang bule ini selain            tamu kalian mereka sama dengan &lt;i&gt;ahlu dzimmah&lt;/i&gt;. Tentu kalian tahu            apa itu &lt;i&gt;ahlu dzimmah&lt;/i&gt;. Disebut &lt;i&gt;ahlu dzimmah&lt;/i&gt; karena mereka            berada dalam jaminan Allah, dalam jaminan Rasul-Nya, dan dalam jaminan            jamaah kaum muslimin. &lt;i&gt;Ahlu dzimmah&lt;/i&gt; adalah semua orang non muslim            yang berada di dalam negara tempat kaum muslimin secara baik-baik, tidak            ilegal, dengan membayar &lt;i&gt;jizyah&lt;/i&gt; dan mentaati peraturan yang ada            dalam negara itu. Hak mereka sama dengan hak kaum muslimin. Darah dan            kehormatan mereka sama dengan darah dan kehormatan kaum muslimin. Mereka            harus dijaga dan dilindungi. Tidak boleh disakiti sedikit pun. Dan kalian            pasti tahu, tiga turis Amerika ini masuk ke Mesir secara resmi. Mereka            membayar visa. Kalau tidak percaya coba saja lihat paspornya. Maka mereka            hukumnya sama dengan &lt;i&gt;ahlu dzimmah&lt;/i&gt;. Darah dan kehormatan mereka            harus kita lindungi. Itu yang diajarkan Rasulullah Saw. Tidakkah kalian            dengar sabda beliau, &lt;i&gt; ‘Barangsiapa menyakiti orang zhimmi (ahlu zhimmah)            maka aku akan menjadi seterunya. Dan siapa yang aku menjadi seterunya            dia pasti kalah di hari kiamat.’&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn34" name="_ftnref34" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; Beliau juga memperingatkan, &lt;i&gt;‘Barangsiapa yang menyakiti            orang dzimmi, dia telah menyakiti diriku dan barangsiapa menyakiti diriku            berarti dia menyakiti Allah.’&lt;/i&gt;&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn35" name="_ftnref35" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[35]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Begitulah Islam mengajarkan bagaimana memperlakukan non            muslim dan para tamu asing yang masuk secara resmi dan baik-baik di            negara kaum muslimin. Imam Ali bahkan berkata, &lt;i&gt;‘Begitu membayar jizyah,            harta mereka menjadi sama harus dijaganya dengan harta kita, darah mereka            sama nilainya dengan darah kita.’&lt;/i&gt; Dan para turis itu telah membayar            visa dan ongkos administrasi lainnya, sama dengan membayar &lt;i&gt;jizyah&lt;/i&gt;.            Mereka menjadi tamu resmi, tidak ilegal, maka harta, kehormatan dan            darah mereka wajib kita jaga bersama-sama. Jika tidak, jika kita sampai            menyakiti mereka, maka berarti kita telah menyakiti baginda Nabi, kita            juga telah menyakiti Allah. Kalau kita telah lancang berani menyakiti            Allah dan Rasul-Nya, maka siapakah diri kita ini? Masih pantaskan kita            mengaku mengikuti ajaran baginda Nabi?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lelaki            setengah baya itu tampak berkaca-kaca. Ia beristighfar berkali-kali.            Lalu mendekati diriku. Memegang kepalaku dengan kedua tangannya dan            mengecup kepalaku sambil berkata, “&lt;i&gt;Allah yaftah ‘alaik, ya bunayya!            Allah yaftah ‘alaik! Jazakallah khaira!&lt;/i&gt;”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn36" name="_ftnref36" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[36]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ia telah tersentuh. Hatinya telah lembut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setelah            itu giliran Ashraf merangkulku. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Senang            sekali aku bertemu dengan orang sepertimu, Fahri!” katanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            tersenyum, ia pun tersenyum. Pemuda berbaju kotak-kotak lalu mempersilakan            pria bule yang berdiri di dekat neneknya untuk duduk di tempat duduknya.            Dua pemuda Mesir yang duduk di depan nenek bule berdiri dan mempersilakan            pada perempuan bercadar dan perempuan bule untuk duduk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Begitulah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salah            satu keindahan hidup di Mesir adalah penduduknya yang lembut hatinya.            Jika sudah tersentuh mereka akan memperlakukan kita seumpama raja. Mereka            terkadang keras kepala, tapi jika sudah jinak dan luluh mereka bisa            melakukan kebaikan seperti malaikat. Mereka kalau marah meledak-ledak            tapi kalau sudah reda benar-benar reda dan hilang tanpa bekas. Tak ada            dendam di belakang yang diingat sampai tujuh keturunan seperti orang            Jawa. Mereka mudah menerima kebenaran dari siapa saja. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            terus melaju. Tak terasa sudah sampai &lt;i&gt;mahattah&lt;/i&gt; Mar Girgis. Ashraf            mendekatkan diri ke pintu. Ia bersiap-siap. &lt;i&gt;Mahattah&lt;/i&gt; depan adalah            El-Malik El-Saleh, setelah itu Sayyeda Zeinab dan ia akan turun di sana.            Aku menghitung masih ada tujuh &lt;i&gt;mahattah&lt;/i&gt; baru sampai di Ramsis.            Setelah itu aku akan pindah &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; jurusan Shubra El-Khaima. Perjalanan            masih jauh. &lt;i&gt; Metro&lt;/i&gt; kembali berjalan. Pelan-pelan lalu semakin            kencang. Tak lama kemudian sampai di El-Malik El-Saleh. &lt;i&gt;Metro&lt;/i&gt;            berhenti. Pintu dibuka. Beberapa orang turun. Lelaki setengah baya hendak            turun. Sebelum turun ia menyalami diriku dan mengucapkan terima kasih            sambil mulutnya tiada henti mendoakan diriku. Aku mengucapkan amin berkali-kali.            Topi dan kaca mata hitamku kembali aku pakai. Tak jauh dariku, perempuan            bercadar nampak asyik berbincang dengan perempuan bule. Sedikit-sedikit            telingaku menangkap isi perbincangan mereka. Rupanya perempuan bercadar            sedang menjelaskan semua yang tadi terjadi. Kejengkelan orang-orang            Mesir pada Amerika. Kekeliruan mereka serta pembetulan-pembetulan yang            aku lakukan. Perempuan bercadar juga menjelaskan maksud dari hadits-hadits            nabi yang tadi aku ucapkan dengan bahasa Inggris yang fasih. Perempuan            bule itu mengangguk-anggukkan kepala. Sampai di Sayyeda Zeinab, Ashraf            turun setelah terlebih dahulu melambaikan tangan padaku. Seorang ibu            yang duduk di samping nenek bule turun. Kursinya kosong. Aku bisa duduk            di sana kalau mau. Tapi kulihat seorang gadis kecil membawa tas belanja            masuk. Langsung kupersilakan dia duduk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            kembali melaju. Perempuan bercadar dan perempuan bule masih berbincang-bincang            dengan akrabnya. Tapi kali ini aku tidak mendengar dengan jelas apa            yang mereka perbincangkan. Angin panas masuk melalui jendela. Aku memandang            ke luar. Rumah-rumah penduduk tampak kotak-kotak tak teratur seperti            kardus bertumpukan tak teratur. &lt;i&gt;Metro&lt;/i&gt; masuk ke lorong bawah tanah.            Suasana gelap sesaat. Lalu lampu-lampu &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; menyala. Tak lama            kemudian &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; sampai &lt;i&gt; mahattah&lt;/i&gt; Saad Zaghloul dan berhenti.            Beberapa orang turun dan naik. Tiga bule itu bersiap hendak turun, juga            perempuan bercadar. Berarti mereka mau turun di Tahrir. Perempuan bercadar            masih bercakap dengan perempuan bule. Keduanya sangat dekat denganku.            Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Tentang asal            mereka masing. Perempuan bercadar itu ternyata lahir di Jerman, dan            besar juga di Jerman. Namun ia berdarah Jerman, Turki dan Palestina.            Sedangkan perempuan bule lahir dan besar di Amerika. Ia berdarah Inggris            dan Spanyol. Keduanya bertukar kartu nama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perempuan            bule tepat berada di depanku. Wajahnya masih menghadap perempuan bercadar.            &lt;i&gt; Metro&lt;/i&gt; bercericit mengerem. Gerbong sedikit goyang. Tubuh perempuan            bule bergoyang. Saat itulah dia melihat diriku. Ia tersenyum sambil            mengulurkan tangannya kepadaku dan berkata,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Hai            Indonesian, thank’s for everything. My name’s Alicia.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Oh,            you’re welcome. My name is Fahri,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;” jawabku            sambil menangkupkan kedua tanganku di depan dada, aku tidak mungkin            menjabat tangannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ini            bukan berarti saya tidak menghormati Anda. Dalam ajaran Islam, seorang            lelaki tidak boleh bersalaman dan bersentuhan dengan perempuan selain            isteri dan mahramnya.” Aku menjelaskan agar dia tidak salah faham.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alicia            tersenyum dan berseloroh, &lt;i&gt;“Oh, never mind. And this is my name card,            for you.”&lt;/i&gt; Ia memberikan kartu namanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Thank’s,&lt;/i&gt;”            ujarku sambil menerima kartu namanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;It’s            a pleasure&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            berhenti. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Alicia,            neneknya dan saudaranya mendekati pintu hendak keluar. Perempuan bercadar            masih berdiri di tempatnya. Ia melihat ke arah orang-orang yang hendak            turun. Perlahan pintu dibuka. Ketika orang-orang mulai turun, perempuan            bercadar itu bergerak melangkah, ia menyempatkan untuk menyapaku,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Indonesian,            thank you&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            teringat dia orang Jerman. Aku iseng menjawab dengan bahasa Jerman,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Bitte!”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Agaknya            perempuan bercadar itu kaget mendengar jawabanku dengan bahasa Jerman.            Ia urung melangkah ke pintu. Ia malah menatap diriku dengan sorat mata            penuh tanda tanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Sprechen            Sie Deutsch&lt;/i&gt;?”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn37" name="_ftnref37" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[37]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; tanyanya dengan bahasa Jerman. Ia mungkin ingin langsung            meyakinkan dirinya bahwa apa yang tadi ia dengarkan dariku benar-benar            bahasa Jerman. Bahwa aku bisa berbahasa Jerman. Bahwa ia tidak salah            dengar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ja,            ein wenig&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn38" name="_ftnref38" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[38]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Alhamdulillah!”&lt;/i&gt; jawabku tenang. Kalau sekadar bercakap            dengan bahasa Jerman insya Allah tidak terlalu susah. Kalau aku disuruh            membuat tesis dengan bahasa Jerman baru menyerah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Sind            Sie Herr Fahri&lt;/i&gt;?”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn39" name="_ftnref39" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[39]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            tersenyum mendengar pertanyaannya. Ia bertanya seperti itu. Berarti            ia benar-benar mendengarkan dengan baik pendebatanku dengan tiga orang            Mesir tadi sehingga tahu namaku. Atau dia mendengarkan aku berkenalan            dengan Alicia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Ja.            Mein name ist Fahri&lt;/i&gt;.”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn40" name="_ftnref40" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[40]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawabku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Mein            name ist Aisha&lt;/i&gt;,” sahutnya sambil menyerahkan kartu nama. Ia lalu            menyodorkan buku notes kecil dan pulpen. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Bitte,            schreiben Sie ihren namen&lt;/i&gt;!”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn41" name="_ftnref41" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[41]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt; katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kuterima            buku notes kecil dan pulpen itu. Aku paham maksud Aisha, tentu tidak            sekadar nama tapi dilengkapi dengan alamat atau nomor telpon. Masinis            &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; membunyikan tanda alarm bahwa sebentar lagi pintu &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt;            akan ditutup dan &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt; akan meneruskan perjalanan. Aku hanya            menuliskan nama dan nomor &lt;i&gt; handphone&lt;/i&gt;-ku. Lalu kuserahkan kembali            padanya. Aisha langsung bergegas turun sambil berkata,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Danke,            auf wiedersehn&lt;/i&gt;!”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn42" name="_ftnref42" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[42]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Auf            wiedersehn&lt;/i&gt;!” jawabku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Metro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            kembali berjalan. Ada tempat kosong. Saatnya aku duduk. Sudah separuh            perjalanan lebih. Sudah setengah dua lebih lima menit. Waktu masih cukup.            Insya Allah sampai di hadapan Syaikh Utsman tepat pada waktunya. Kalaupun            terlambat hanya beberapa menit saja. Masih dalam batas yang bisa dimaafkan.            Dengan duduk aku merasa lebih tenang. Ini saatnya aku mengulang dan            memperbaiki hafalan Al-Qur’an yang akan aku setorkan pada Syaikh Utsman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-771402170480138629?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/771402170480138629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=771402170480138629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/771402170480138629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/771402170480138629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/ayat-ayat-cinta_16.html' title='Ayat - ayat Cinta'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-877836072289283851</id><published>2008-03-16T03:02:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T03:05:25.777-07:00</updated><title type='text'>Ayat - ayat Cinta</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;            &lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#di" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;            &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 15pt; line-height: 150%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 15pt; line-height: 150%;"&gt;.            &lt;a name="j1"&gt;&lt;/a&gt;Gadis Mesir Itu Bernama Maria&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;            &lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tengah            hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala            langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah            dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu            yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik            ke detik. Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam            apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela dan tirai            tertutup rapat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Memang,            istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih            nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat berjamaah            di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran            di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka            yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah            sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang            tegak berdiri dalam deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari.            Ia tetap teguh  berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih            tak kenal kesah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar            tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada.            Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan            titah Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Awal-awal Agustus memang puncak musim panas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri            sebenarnya sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh            satu derajat &lt;i&gt;celcius&lt;/i&gt;! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara            yang tidak tahan panas, biasanya sudah &lt;i&gt;mimisan&lt;/i&gt;, hidungnya mengeluarkan            darah. Teman satu flat yang langganan &lt;i&gt;mimisan&lt;/i&gt; di puncak musim            panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang sampai            pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia            tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam kamarnya sambil            terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia &lt;i&gt; kungkum,&lt;/i&gt; mendinginkan            badan di kamar mandi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa &lt;i&gt; aras-arasen&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn1" name="_ftnref1" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku            harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra            El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk &lt;i&gt;talaqqi&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn2" name="_ftnref2" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini            aku belajar &lt;i&gt;qiraah sab’ah&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn3" name="_ftnref3" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ushul tafsir&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn4" name="_ftnref4" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/i&gt; Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama            legendaris yang mendapat julukan &lt;i&gt;Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh Fi            Mashr&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an            di Mesir&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin            itu seminggu dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat            waktu. Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak            sakit dan tidak ada uzur yang teramat penting, beliau pasti datang.            Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara.            Sebab beliau tidak sembarang menerima murid untuk &lt;i&gt;talaqqi qiraah            sab’ah&lt;/i&gt;. Siapa saja yang ingin belajar &lt;i&gt;qiraah sab’ah&lt;/i&gt; terlebih            dahulu akan beliau uji hafalan Al-Qur’an tiga puluh juz dengan &lt;i&gt;qiraah&lt;/i&gt;            bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun ini            beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang            yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku.            Itu karena, di samping sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan            hafalan Al-Qur’an pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena            di antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang            yang bukan orang Mesir. Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya            yang dari Indonesia. Tak heran jika beliau meng-anakemas-kan diriku.            Dan teman-teman dari Mesir tidak ada yang merasa iri dalam masalah ini.            Mereka semua simpati padaku. Itulah sebabnya, jika aku absen pasti akan            langsung ditelpon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman. Mereka akan bertanya            kenapa tidak datang? Apa sakit? Apa ada halangan dan lain sebagainya.            Maka aku harus tetap berusaha datang selama masih mampu menempuh perjalanan            sampai ke Shubra, meskipun panas membara dan badai debu bergulung-gulung            di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh sekitar lima puluh kilo meter            lebih jauhnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kuambil mushaf tercinta. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kucium penuh takzim. Lalu kumasukkan ke dalam saku depan            tas cangklong hijau tua. Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang            setia menemani diriku menuntut ilmu sejak di Madrasah Aliyah sampai            saat ini, saat menempuh S.2. di universitas tertua di dunia, di delta            Nil ini. Aku mengambil satu botol kecil berisi air putih di kulkas.            Kumasukkan dalam plastik hitam lalu kumasukkan dalam tas. Aku selalu            membiasakan diri membawa air putih jika bepergian, selain sangat berguna            juga merupakan salah satu bentuk penghematan yang sangat terasa. Apalagi            selama menempuh perjalanan jauh dari Hadayek Helwan sampai Shubra El-Khaima            dengan &lt;i&gt;metro&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn5" name="_ftnref5" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, tidak akan ada yang menjual minuman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku sedikit ragu mau membuka pintu. Hatiku ketar-ketir.            Angin sahara terdengar mendesau-desau. Keras dan kacau. Tak bisa dibayangkan            betapa kacaunya di luar sana. Panas disertai gulungan debu yang berterbangan.            Suasana yang jauh dari nyaman. Namun niat harus dibulatkan. &lt;i&gt;Bismillah            tawakkaltu ‘ala Allah&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn6" name="_ftnref6" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, pelan-pelan kubuka pintu apartemen. Dan...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wuss! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Angin sahara menampar mukaku dengan kasar. Debu bergumpal-gumpal            bercampur pasir menari-nari di mana-mana. Kututup kembali pintu apartemen.            Rasanya aku melupakan sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa            tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?” saran Saiful yang baru keluar            dari kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; tidak akan terjadi apa-apa. Aku sangat            tidak enak pada Syaikh Utsman jika tidak datang. Beliau saja yang sudah            berumur tujuh puluh lima tahun selalu datang. Tepat waktu lagi. Tak            kenal cuaca panas atau dingin. Padahal rumah beliau dari masjid tak            kurang dari dua kilo,” tukasku sambil bergegas masuk kamar kembali,            mengambil topi dan kaca mata hitam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Allah yubarik fik&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn7" name="_ftnref7" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, Mas,” ujarnya serak. Tangan kanannya mengusapkan sapu            tangan pada hidungnya. Mungkin darahnya merembes lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Wa iyyakum!&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn8" name="_ftnref8" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;” balasku sambil memakai kaca mata hitam dan memakai            topi menutupi kopiah putih yang telah menempel di kepalaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sudah bawa air putih, Mas?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku mengangguk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Saif, Rudi minta dibangunkan pukul setengah dua. Tadi malam            dia lembur bikin makalah. Kelihatannya dia baru tidur jam setengah sepuluh            tadi. Terus tolong nanti bilang sama dia untuk beli gula, dan minyak            goreng. Hari ini dia yang piket belanja. Oh ya, hampir lupa, nanti sore            yang piket masak Hamdi. Dia paling suka masak oseng-oseng wortel campur            &lt;i&gt;kofta&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn9" name="_ftnref9" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. Kebetulan wortel dan koftanya habis. Bilang sama Rudi            sekalian.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai yang dipercaya untuk jadi kepala keluarga—meskipun            tanpa seorang ibu rumah tangga—aku harus jeli memperhatikan kebutuhan            dan kesejahteraan anggota. Dalam flat ini kami hidup berlima; aku, Saiful,            Rudi, Hamdi dan Mishbah. Kebetulan aku yang paling tua, dan paling lama            di Mesir. Secara akademis aku juga yang paling tinggi. Aku tinggal menunggu            pengumuman untuk menulis tesis master di Al Azhar. Yang lain masih program            S.1. Saiful dan Rudi baru tingkat tiga, mau masuk tingkat empat. Sedangkan            Misbah dan Hamdi sedang menunggu pengumuman kelulusan untuk memperoleh            gelar &lt;i&gt;Lc. &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt; Licence&lt;/i&gt;. Mereka semua telah menempuh ujian            akhir tahun pada akhir Mei sampai awal Juni yang lalu. Awal-awal Agustus            biasanya pengumuman keluar. Namun sampai hari ini, pengumuman belum            juga keluar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan hari ini, kebetulan yang ada di flat hanya tiga orang,            yaitu aku, Saiful dan Rudi. Adapun Hamdi sudah dua hari ini punya kegiatan            di Dokki, tepatnya di Masjid Indonesia Cairo. Ia diminta untuk memberikan            pelatihan kepemimpinan pada remaja masjid yang semuanya adalah putera-puteri            para pejabat KBRI. Siang ini katanya selesai, dan nanti sore dia pulang.            Sedangkan Mishbah sedang berada di Rab’ah El-Adawea, Nasr City. Katanya            ia harus menginap di Wisma Nusantara, di tempatnya Mas Khalid, untuk            merancang draft pelatihan ekonomi Islam bersama Profesor Maulana Husein            Shahata, pertengahan September depan. Masing-masing penghuni flat ini            punya kesibukan. Aku sendiri yang sudah tidak aktif di organisasi manapun,            juga mempunyai jadwal dan kesibukan. Membaca bahan untuk tesis, &lt;i&gt;talaqqi            qiraah sab’ah, &lt;/i&gt;menerjemah, dan diskusi &lt;i&gt;intern&lt;/i&gt; dengan teman-teman            mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S.2. dan S.3. di Cairo. Urusan-urusan            kecil seperti belanja, memasak dan membuang sampah, jika tidak diatur            dengan bijak dan baik akan menjadi masalah. Dan akan mengganggu keharmonisan.            Kami berlima sudah seperti saudara kandung. Saling mencintai, mengasihi            dan mengerti. Semua punya hak dan kewajiban yang sama. Tidak ada yang            diistimewakan. Semboyan kami, &lt;i&gt;baiti jannati&lt;/i&gt;. Rumahku adalah surgaku.            Tempat yang kami tinggali ini harus benar-benar menjadi tempat yang            menyenangkan. Dan sebagai yang paling tua aku bertanggung jawab untuk            membawa mereka pada suasana yang mereka inginkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku melangkah ke pintu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Saif. Jangan lupa pesanku tadi!” kembali aku mengingatkan            sebelum membuka pintu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt;, Mas.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di luar sana angin terdengar mendesau-desau. Benar kata            Saiful, cuaca sebetulnya kurang baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang            lebih panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika            manusia digiring di padang &lt;i&gt;Mahsyar &lt;/i&gt;dengan matahari hanya satu            jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat, bahwa keberadaanku            di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan dipertanggungjawabkan            dengan pasti. Kalau tak ingat, bahwa masa muda yang sedang aku jalani            ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua orang            diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak ingat, bahwa            aku belajar di sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari kakek.            Kalau tidak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa            doa dari ibu, ayah dan sanak saudara. Kalau tak ingat bahwa jadwal adalah            janji yang harus ditepati. Kalau tak ingat itu semua, shalat zhuhur            di kamar saja lalu tidur nyantai menyalakan kipas dan mendengarkan lantunan            lagu &lt;i&gt;El-Himl El-Arabi&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;El-Hubb El-Haqiqi, &lt;/i&gt;atau untaian            shalawatnya Emad Rami dari Syiria itu, tentu rasanya nyaman sekali.            Apalagi jika diselingi minum &lt;i&gt;ashir&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn10" name="_ftnref10" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; mangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam kulkas            atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan. &lt;i&gt;Masya Allah&lt;/i&gt;,            alangkah segarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kubuka            pintu apartemen perlahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wuss! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Angin sahara kembali menerpa wajahku. Aku melangkah keluar            lalu menuruni tangga satu per satu. Flat kami ada di tingkat tiga. Gedung            apartemen ini hanya enam tingkat dan tidak punya lift. Sampai di halaman            apartemen, jilatan panas matahari seakan menembus topi hitam dan kopiah            putih yang menempel di kepalaku. Seandainya tidak memakai kaca mata            hitam, sinarnya yang benderang akan terasa  perih menyilaukan mata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Kulangkahkan            kaki ke jalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Psst..psst...Fahri! Fahri!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kuhentikan langkah. Telingaku menangkap ada suara memanggil-manggil            namaku dari atas. Suara yang sudah kukenal. Kupicingkan mataku mencari            asal suara. Di tingkat empat. Tepat di atas kamarku. Seorang gadis Mesir            berwajah bersih membuka jendela kamarnya sambil tersenyum. Matanya yang            bening menatapku penuh binar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Hei Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Shubra.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Talaqqi &lt;/i&gt;Al-Qur’an ya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku mengangguk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Pulangnya kapan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Jam lima, &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Bisa nitip?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Nitip apa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Belikan disket. Dua. Aku malas sekali keluar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Baik, &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            membalikkan badan dan melangkah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Fahri, &lt;i&gt;istanna suwayya&lt;/i&gt;!&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn11" name="_ftnref11" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[11]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Fi eh kaman&lt;/i&gt;?&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn12" name="_ftnref12" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[12]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku urung melangkah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Uangnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sudah, nanti saja, gampang.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Syukran&lt;/i&gt; Fahri.”&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn13" name="_ftnref13" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[13]&lt;/span&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Afwan&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            cepat-cepat melangkah ke jalan menuju masjid untuk shalat zhuhur. Panasnya            bukan main.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gadis            Mesir itu, namanya Maria. Ia juga senang dipanggil Maryam. Dua nama            yang menurutnya sama saja. Dia puteri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis.            Berasal dari keluarga besar Girgis. Sebuah keluarga Kristen Koptik yang            sangat taat. Bisa dikatakan, keluarga Maria adalah tetangga kami paling            akrab. Ya, paling akrab. Flat atau rumah mereka berada tepat di atas            flat kami. Indahnya, mereka sangat sopan dan menghormati kami mahasiswa            Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maria            gadis yang unik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia            seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya &lt;i&gt;qibthi&lt;/i&gt;,            namun ia suka pada Al-Qur’an. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Qur’an.            Di antaranya surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa            bangga. Aku mengetahui hal itu pada suatu kesempatan berbincang dengannya            di dalam &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt;. Kami tak sengaja berjumpa. Ia pulang kuliah dari            &lt;i&gt;Cairo University&lt;/i&gt;, sedangkan aku juga pulang kuliah dari &lt;i&gt;Al            Azhar University&lt;/i&gt;. Kami duduk satu bangku. Suatu kebetulan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Hei            namamu Fahri, iya ‘kan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Benar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kau            pasti tahu namaku, iya ‘kan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Iya.            Aku tahu. Namamu Maria. Puteri Tuan Boutros Girgis.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kau            benar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; “Apa            bedanya Maria dengan Maryam?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Maria            atau Maryam sama saja. Seperti David dengan Daud. Yang jelas namaku            tertulis dalam kitab sucimu. Kitab yang paling banyak dibaca umat manusia            di dunia sepanjang sejarah. Bahkan jadi nama sebuah surat. Surat kesembilan            belas, yaitu surat Maryam. Hebat bukan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Hei, bagaimana kau mengatakan Al-Qur’an adalah kitab suci            paling banyak dibaca umat manusia sepanjang sejarah? Dari mana kamu            tahu itu?” selidikku penuh rasa kaget dan penasaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Jangan kaget kalau aku berkata begitu. Ini namanya objektif.            Memang kenyataannya demikian. Charles Francis Potter mengatakan seperti            itu. Bahkan jujur kukatakan, ‘Al-Qur’an jauh lebih dimuliakan dan dihargai            daripada kitab suci lainnya. Ia lebih dihargai daripada Perjanjian Baru            dan Perjanjian Lama. Pendeta J. Shillidy dalam bukunya &lt;i&gt;The Lord Jesus            in The Koran&lt;/i&gt; memberikan kesaksian seperti itu. Dan pada kenyataannya            tak ada buku atau kitab di dunia ini yang dibaca dan dihafal oleh jutaan            manusia setiap detik melebihi Al-Qur’an. Di Mesir saja ada sekitar sepuluh            ribu &lt;i&gt;Ma’had&lt;/i&gt; Al Azhar. Siswanya ratusan ribu bahkan jutaan anak.            Mereka semua sedang menghafalkan Al-Qur’an. Karena mereka tak akan lulus            dari &lt;i&gt;Ma’had&lt;/i&gt; Al Azhar kecuali harus hafal Al-Qur’an. Aku saja,            yang seorang Koptik suka &lt;i&gt;kok &lt;/i&gt; menghafal Al-Qur’an. Bahasanya            indah dan enak dilantunkan,” cerocosnya santai tanpa ada keraguan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kau juga suka menghafal Al-Qur’an? Apa aku tidak salah            dengar?” heranku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ada yang aneh?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku diam tidak menjawab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku hafal surat Maryam dan surat Al-Maidah di luar kepala.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Benarkah?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kau tidak percaya? Coba kau simak baik-baik!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maria lalu melantunkan surat Maryam yang ia hafal. Anehnya            ia terlebih dahulu membaca &lt;i&gt;ta’awudz&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn14" name="_ftnref14" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;basmalah&lt;/i&gt;. Ia tahu adab dan tata cara membaca            Al-Qur’an. Jadilah perjalanan dari &lt;i&gt;Mahattah&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn15" name="_ftnref15" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; Anwar Sadat Tahrir sampai Tura El-Esmen kuhabiskan untuk            menyimak seorang Maria membaca surat Maryam dari awal sampai akhir.            Nyaris tak ada satu huruf pun yang ia lupa. Bacaannya cukup baik meskipun            tidak sebaik mahasiswi Al Azhar. Dari Tura El-Esmen hingga Hadayek Helwan            Maria mengajak berbincang ke mana-mana. Aku tak menghiraukan tatapan            orang-orang Mesir yang heran aku akrab dengan Maria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Itulah Maria, gadis paling aneh yang pernah kukenal. Meskipun            aku sudah cukup banyak tahu tentang dirinya, baik melalui ceritanya            sendiri saat tak sengaja bertemu di &lt;i&gt;metro&lt;/i&gt;, atau melalui cerita            ayahnya yang ramah. Tapi aku masih menganggapnya aneh. Bahkan misterius.            Ia gadis yang sangat cerdas. Nilai ujian akhir Sekolah Lanjutan Atasnya            adalah terbaik kedua tingkat nasional Mesir. Ia masuk Fakultas Komunikasi,            Universitas Cairo. Dan tiap tingkat selalu meraih predikat &lt;i&gt;mumtaz&lt;/i&gt;            atau &lt;i&gt;cumlaude&lt;/i&gt;. Ia selalu terbaik di fakultasnya. Ia pernah ditawari            jadi reporter Ahram, koran terkemuka di Mesir. Tapi ia tolak. Ia lebih            memilih jadi penulis bebas. Ia memang gadis Koptik yang aneh. Menurut            pengakuannya sendiri, ia paling suka dengar suara azan, tapi pergi ke            gereja tidak pernah ia tinggalkan. Sekali lagi, ia memang gadis Koptik            yang aneh. Aku tidak tahu jalan pikirannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selama            ini, aku hanya mendengar dari bibirnya yang tipis itu hal-hal yang positif            tentang Islam. Dalam hal etika berbicara dan bergaul ia terkadang lebih            Islami daripada gadis-gadis Mesir yang mengaku muslimah. Jarang sekali            kudengar ia tertawa cekikikan. Ia lebih suka tersenyum saja. Pakaiannya            longgar, sopan dan rapat. Selalu berlengan panjang dengan bawahan panjang            sampai tumit. Hanya saja, ia tidak memakai jilbab. Tapi itu jauh lebih            sopan ketimbang gadis-gadis Mesir seusianya yang berpakaian ketat dan            bercelana ketat, dan tidak jarang bagian perutnya sedikit terbuka. Padahal            mereka banyak yang mengaku muslimah. Maria suka pada Al-Qur’an. Ia sangat            mengaguminya, meskipun ia tidak pernah mengaku muslimah. Penghormatannya            pada Al-Qur’an bahkan melebihi beberapa intelektual muslim.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia pernah cerita, suatu kali ia ikut diskusi tentang aspek            kebahasaan Al-Qur’an di Fakultas Sastra Universitas Cairo. Pemakalahnya            adalah seorang doktor filsafat jebolan Sorbonne Perancis. Maria merasa            risih sekali dengan kepongahan doktor itu yang mengatakan Al-Qur’an            tidak sakral karena dilihat dari aspek kebahasaan ada ketidakberesan.            Doktor itu mencontohkan dalam Al-Qur’an ada rangkaian huruf yang tidak            diketahui maknanya. Yaitu, &lt;i&gt;alif laam miim, alif laam ra, haa miim,            yaa siin, thaaha  nuun, kaf ha ya ‘ain shaad,&lt;/i&gt; dan sejenisnya.            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Maria berkata padaku,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Fahri, aku geli sekali mendengar perkataan doktor dari            Sorbonne itu. Dia itu orang Arab, juga muslim, tapi bagaimana bisa mengatakan            hal yang &lt;i&gt;stupid&lt;/i&gt; begitu. Aku saja yang Koptik bisa merasakan betapa            indahnya Al-Qur’an dengan &lt;i&gt;alif laam miim&lt;/i&gt;-nya. Kurasa rangkaian            huruf-huruf seperti &lt;i&gt;alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin,             nuun, kaf ha ya ‘ain shaad&lt;/i&gt; adalah rumus-rumus Tuhan yang dahsyat            maknanya. Susah diungkapkan maknanya, tapi keagungannya bisa ditangkap            oleh mereka yang memiliki cita rasa bahasa Arab yang tinggi. Jika susunan            itu dianggap sebagai suatu ketidakberesan, orang-orang kafir Quraisy            yang sangat tidak suka pada Al-Qur’an dan memusuhinya sejak dahulu tentu            akan mengambil kesempatan adanya ketidakberesan itu untuk menghancurkan            Al-Qur’an. Dan tentu mereka sudah mencela bahasa Al-Qur’an habis-habisan            sepanjang sejarah. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Mereka mengakui            keindahan bahasanya yang luar biasa. Mereka menganggap bahasa Al-Qur’an            bukan bahasa manusia biasa tapi bahasa yang datang dari langit. Jadi            kukira doktor itu benar-benar &lt;i&gt;stupid&lt;/i&gt;. Tidak semestinya seorang            doktor sekelas dia mengatakan hal seperti itu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            lalu menjelaskan kepada Maria segala hal berkaitan dengan &lt;i&gt;alim laam            miim&lt;/i&gt; dalam Al-Qur’an. Lengkap dengan segala rahasia yang digali            oleh para ulama dan ahli tafsir. Maknanya, hikmahnya, dan pengaruhnya            dalam jiwa. Juga kuterangkan bahwa pendapat Maria yang mengatakan huruf-huruf            itu tak lain adalah rumus-rumus Tuhan yang maha dahsyat maknanya, dan            hanya Tuhan yang tahu persis maknanya, ternyata merupakan pendapat yang            dicenderungi mayoritas ulama tafsir. Maria girang sekali mendengarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wah pendapat yang terlintas begitu saja dalam benak &lt;i&gt;            kok &lt;/i&gt;bisa sama dengan pendapat mayoritas ulama tafsir ya?” komentarnya            sambil tersenyum bangga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku            ikut tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Di            dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak bisa dimengerti            oleh manusia lemah seperti diriku. Termasuk kenapa ada gadis seperti            Maria. Dan aku pun tidak merasa perlu untuk bertanya padanya kenapa            tidak mengikuti ajaran Al-Qur’an. Pertanyaan itu kurasa sangat tidak            tepat ditujukan pada gadis cerdas seperti Maria. Dia pasti punya alasan            atas pilihannya. Inilah yang membuatku menganggap Maria adalah gadis            aneh dan misterius. Di dunia ini banyak sekali hal-hal misterius. Masalah            hidayah dan iman adalah masalah misterius. Sebab hanya Allah saja yang            berhak menentukan siapa-siapa yang patut diberi hidayah. Abu Thalib            adalah paman nabi yang mati-matian membela dakwah nabi. Cinta nabi pada            beliau sama dengan cinta nabi pada ayah kandungnya sendiri. Tapi masalah            hidayah hanya Allah yang berhak menentukan. Nabi tidak bisa berbuat            apa-apa atas nasib sang paman yang amat dicintainya itu. Juga hidayah            untuk Maria. Hanya Allah yang berhak memberikannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin, sejak azan berkumandang Maria telah membuka daun            jendela kayunya. Dari balik kaca ia melihat ke bawah, menunggu aku keluar.            Begitu aku tampak keluar menuju halaman apartemen, ia membuka jendela            kacanya, dan memanggil dengan suara setengah berbisik. Ia tahu persis            bahwa aku dua kali tiap dalam satu minggu keluar untuk &lt;i&gt;talaqqi &lt;/i&gt;Al-Qur’an.            Tiap hari Ahad dan Rabu. Berangkat setelah azan zhuhur berkumandang            dan pulang habis Ashar. Dan ini hari Rabu. Seringkali ia titip sesuatu            padaku. Biasanya tidak terlalu merepotkan. Seperti titip membelikan            disket, memfotocopykan sesuatu, membelikan tinta &lt;i&gt;print&lt;/i&gt;, dan sejenisnya            yang mudah kutunaikan. Banyak toko alat tulis, tempat foto copy dan            toko perlengkapan komputer di Hadayek Helwan. Jika tidak ada di sana,            biasanya di Shubra El-Khaima ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suhu udara benar-benar panas. Wajar saja Maria malas keluar.            Toko alat tulis yang juga menjual disket hanya berjarak lima puluh meter            dari apartemen. Namun ia lebih memilih titip dan menunggu sampai aku            pulang nanti. Ini memang puncak musim panas. Laporan cuaca meramalkan            akan berlangsung sampai minggu depan, rata-rata 39 sampai 41 derajat            &lt;i&gt;celcius&lt;/i&gt;. Ini baru di Cairo. Di Mesir bagian selatan dan Sudan            entah berapa suhunya. Tentu lebih menggila. Ubun-ubunku terasa mendidih.            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Panggilan &lt;i&gt;iqamat&lt;a href="http://www.isnan-nur.web.ugm.ac.id/ayat_cinta.htm#_ftn16" name="_ftnref16" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;            &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;           &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;            &lt;!--[endif]--&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; terdengar bersahut-sahutan. Panggilan mulia itu sangat            menentramkan hati. Pintu-pintu meraih kebahagiaan dan kesejahteraan            masih terbuka lebar-lebar. Kupercepat langkah. Tiga puluh meter di depan            adalah Masjid Al-Fath Al-Islami. Masjid kesayangan. Masjid penuh kenangan            tak terlupakan. Masjid tempat aku mencurahkan suka dan deritaku selama            belajar di sini. Tempat aku menitipkan rahasia kerinduanku yang memuncak,            tujuh tahun sudah aku berpisah dengan ayah ibu. Tempat aku mengadu pada            Yang Maha Pemberi rizki saat berada dalam keadaan kritis kehabisan uang.            Saat hutang pada teman-teman menumpuk dan belum terbayarkan. Saat uang            honor terjemahan terlambat datang. Tempat aku menata hati, merancang            strategi, mempertebal azam dan keteguhan jiwa dalam perjuangan panjang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Begitu masuk masjid...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wusss! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hembusan udara sejuk yang dipancarkan lima AC dalam masjid            menyambut ramah. &lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;. Nikmat rasanya jika sudah berada            di dalam masjid. Puluhan orang sudah berjajar rapi dalam shaf shalat            jamaah. Kuletakkan topi dan tas cangklongku di bawah tiang dekat aku            berdiri di barisan shaf kedua. Kedamaian menjalari seluruh syaraf dan            gelegak jiwa begitu kuangkat takbir. Udara sejuk yang berhembus terasa            mengelus-elus leher dan mukaku. Juga mengusap keringat yang tadi mengalir            deras. Aku merasa tenteram dalam elusan kasih sayang Tuhan Yang Mahapenyayang.            Dia terasa begitu dekat, lebih dekat dari urat leher, lebih dekat dari            jantung yang berdetak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;b&gt; &lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-877836072289283851?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/877836072289283851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=877836072289283851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/877836072289283851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/877836072289283851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/ayat-ayat-cinta.html' title='Ayat - ayat Cinta'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-6278352613987249541</id><published>2008-03-16T02:46:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T03:00:04.359-07:00</updated><title type='text'>Bersyukur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 102, 102); font-family: trebuchet ms;"&gt;Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu, Lulu."&lt;br /&gt;Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu."&lt;br /&gt;Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, "Lulu, Lulu". "Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?" tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, "Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat,saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-6278352613987249541?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/6278352613987249541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=6278352613987249541' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/6278352613987249541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/6278352613987249541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2008/03/bersyukur.html' title='Bersyukur'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8225638915741219111.post-931264593530513850</id><published>2007-09-11T20:20:00.000-07:00</published><updated>2007-09-11T20:23:31.346-07:00</updated><title type='text'>my b'day</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8225638915741219111-931264593530513850?l=sepriwansyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/feeds/931264593530513850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8225638915741219111&amp;postID=931264593530513850' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/931264593530513850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8225638915741219111/posts/default/931264593530513850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepriwansyah.blogspot.com/2007/09/my-bday.html' title='my b&apos;day'/><author><name>monokorobo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14756215952367684385</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
